Yogyakarta, CNN Indonesia --
Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar alias Uceng mengklaim sudah banyak stasiun televisi Nasional yang menawarinya untuk memfasilitasi debat terbuka dengan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai.
"Banyak banget, banyak banget yang kontak. Kompas, iNews, ada Mojok juga ngajak, si Bocor Alus Tempo, Tempo TV juga ngajak. Yang paling banyak malah pusat studi, pusat kajian," kata Uceng ditemui di Fakultas Hukum (FH) UGM, Sleman, DIY, Jumat (27/2).
Uceng juga sudah mencuitkan informasi ini lewat akun X (Twitter) miliknya dengan menandai akun Pigai. Tapi dia belum tahu apakah cuitannya tersebut sudah direspons per sore ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Uceng, bahkan rekan-rekan BEM di kampusnya bersedia memfasilitasi debat tentang persoalan HAM di Indonesia ini.
"Saya bilang ya nggak apa-apa, silakan. Tapi kalau paling bagus sih kalau terbuka, jadi multi-platform ya," kata dia.
"Siapa aja, siapa aja (tidak masalah), tapi bayangan saya mungkin lebih bagus multi-platform ya, jangan satu platform yang lainnya nanti nggak bisa (menyaksikan)," sambungnya.
Uceng mengaku, sebenarnya dia adalah model orang yang cukup malas untuk berdebat. Pernah ia menolak undangan acara debat di TV yang dipandu oleh Aiman Witjaksono hingga Karni Ilyas.
Alasan Uceng bersedia menerima ajakan debat karena bagi dia ada urgensi. Menurutnya, publik harus tahu bahwa dalam sebuah negara demokrasi, seorang pejabat publik menjawab problematika negara bukan dengan 'jargon-jargon' semata.
"Tidak menjawab dengan apa ya... seakan-akan 'Tenang lah, pokoknya saya sudah kuasai ini ilmunya, pokoknya saya bisa', nggak, nggak bisa begitu. Jadi 'Pokoknya negara pasti melakukan yang terbaik untuk warga', nggak, nggak bisa begitu. Demokrasi tidak bicara begitu lagi," paparnya.
"Itu masa kampanye tuh yang gitu-gitu tuh. 'Kami akan melakukan ini, kami akan berbuat baik, kami sudah memahami persoalan', itu kan di masa kampanye. Masa dua tahun kerja ini, apa yang dilakukan? Itu yang paling penting sebenarnya," lanjut Uceng.
Guru Besar Bidang Hukum Kelembaagaan Negara itu berpendapat, catatannya terhadap kinerja penegakan HAM di RI agak buruk selama dua tahun belakangan. Istilah dia, berantakan sekali.
Kehadiran Pigai besok, menurut Uceng, menjadi semacam bentuk pertanggungjawaban atas kinerjanya sejak dilantik sebagai Menteri HAM RI. Oleh karenanya, harapan dia acara besok bukan jadi acara debat teoritik semata.
Lagipula, kata Uceng, menerima ajakan debat ini juga masih lebih baik ketimbang cuma saling berbalas cuitan di media sosial.
"Dan menurut saya, bagian dari nagih. Saya mewakafkan diri saya untuk nagih itu (kinerja menteri). Saya sih nggak suka debat, tapi kalau menurut saya ya saya mau pengen mewakafkan waktu saya untuk nagih. Capek juga sih debat di Twitter, jadi mending sekalian langsung aja," tegasnya.
Klaim sudah nonton video YouTube Pigai
Saat saling berbalas cuitan kemarin, Pigai meminta Uceng untuk menonton videonya di kanal YouTube Fadli Zon sebelum berdebat dengannya.
Video itu berjudul 'Natalius Pigai: Menurut Saya Itu Pelanggaran HAM Berat' yang tayang pertama kali 5 tahun lalu.
Uceng pun mengaku sudah menontonnya. Ditanya komentarnya perihal konten tersebut, Uceng menjawab sembari tersenyum.
"Udah, saya udah nonton. Ya masa saya harus singgung di sini sih? Saya pikir bagus aja," kata Uceng.
Awal mula wacana debat Uceng-Pigai
Sebelumnya, Pigai menantang Uceng untuk debat terbuka soal isu HAM di Indonesia secara live di TV Nasional. Tantangan ini muncul dari pertukaran balasan di media sosial X (Twitter) keduanya, yang menjanjikan diskusi ilmiah satu per satu kasus HAM kontroversial.
Pertukaran tersebut dimulai ketika Uceng menyatakan kesiapannya belajar memahami HAM dari Pigai.
"Saya setuju dgn bapak, seringkali profesor itu dibesar2kan saja. Sy izin mau belajar memahami HAM dari bapak. Sy mau diskusi dan debatkan satu persatu kasus HAM di indonesia yang katanya bapak udah amat pahami itu. Sebut saja kapan dan dimana sy bs belajar," ujar Uceng lewat cuitannya @zainalamochtar, Kamis (26/2).
Pigai langsung menanggapi cuitan tersebut, dan menyetujui format debat di TV Nasional secara live.
"Saya setuju di TV Nasional dan Live. Anda yang undang maka saya minta anda yang siapkan. Kita bicara dalam tataran ilmiah. Saya benar2 mau ajari anda soal ham agar paham," ujar Pigai.
Ia juga menyarankan Uceng untuk menonton tayangan YouTube nya bersama Fadli Zon terlebih dahulu sebagai tambahan ilmu, sambil berharap rakyat Indonesia menyaksikan debat untuk menilai kedalaman pengetahuan HAM seorang profesor.
"Tapi nonton ini dulu untuk sekedar tambahan ilmu HAM anda sebelumnya debat dengan saya. Jujur saya sangat mau biar rakyat indonesia nonton seberapa hebat ilmu HAM seorang Prof," ujarnya.
Uceng pun meminta Pigai yang mengontak pihak TV. Ia mengaku tak punya kuasa untuk mengatur stasiun televisi.
"Sy gak punya kekuasaan pak. Semoga ada tv nasional yg bs fasilitasi. Kalau bapak yg colek mereka mungkin lebih berarti," balas Uceng.
Ia juga menyebut pengalamannya sebagai peneliti HAM di Pusat Studi HAM Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta selama tiga tahun serta gelar S2 Hukum HAM di Amerika Serikat, dan menegaskan kesiapannya untuk belajar lebih lanjut.
"Trima kasih youtubenya. Sy hanya pernah tiga tahun peneliti di Pusat Studi HAM UII Jogja dan kuliah S2 Hukum HAM di Amerika. Sy pasti senang belajar," sambungnya.
Sebelum tantangan debat terbuka tersebut mencuat, Pigai sempat mengunggah cuitan panjang yang menegaskan pengalamannya memahami HAM sejak kecil di tengah konflik bersenjata.
"Jangankan 5 tahun. Sejak lahir, Saya sudah hidup di tengah moncong senjata. Enarotali Paniai pusat perang antara OPM dan Militer Indonesia. Disitu saya rasakan batas tipis antara hidup dan mati, baik dan jahat, bagaimana orang jerit, ratap dan rinti, haus dan lapar, adil dan tidak adil," tulis Pigai lewat akun X-nya @NataliusPigai2, Rabu (25/2).
"Mana sakit dan senang. Itulah esensi dasar HAM universal yang dimaknai umat manusia termasuk saya," sambungnya.
Pigai juga menuliskan bahwa perjalanan hidupnya sebagai pembela orang tertindas, dari korban HAM hingga menjabat sebagai Menteri HAM.
"Saya telah tunjukkan integritas saya sebagai penjaga kaum lemah (de oppreso liber). Dari seorang Korban HAM hingga menjadi orang nomor 1 di bidang HAM di RI. Saya bekerja mencatat sejarah, menyelami sejarah dan menentukan sejarah HAM di Republik ini," tulisnya.
Ia juga menyebut Uceng hanya seorang Guru Besar yang dibesar-besarkan.
"Sepengetahuan saya seorang Guru Besar memiliki tingkat pemahaman yang tinggi tentang esensi kehidupan, berfikir dalam bahasa sastra yang tinggi, pemahaman filosofis yg tinggi tetapi rupanya anda hanya Guru yang 'dibesar-besarkan'," ujar Pigai.
(kum/dal)


















































