Harta Karun Mineral Ditemukan di Madinah, Saudi Bisa Tambah Kaya Raya

1 hour ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Arab Saudi mengungkap temuan sekitar 110 juta ton bijih yang mengandung konsentrasi tinggi mineral uranium di wilayah Madinah.

Mineral berharga tersebut diantaranya termasuk jutaan ton deposit tanah jarang untuk bahan baku amunisi dan peledak. Temuan tersebut berasal dari eksplorasi dan studi geologi di proyek Jabal Sayid.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman Al Saud mengumumkan temuan itu dalam Sesi Reguler ke-70 Konferensi Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina, Senin (14/9), seperti diberitakan Arab News.

"Eksplorasi dan studi geologi di proyek Jabal Sayid di Madinah telah mengungkapkan perkiraan sumber daya sekitar 110 juta ton bijih dengan konsentrasi tinggi mineral tanah jarang, terutama unsur-unsur berat, di samping konsentrasi uranium yang menjanjikan," kata Abdulaziz dalam konferensi tersebut.

Temuan itu mencakup konsentrasi tinggi unsur tanah jarang, terutama jenis unsur berat, serta kandungan uranium yang dinilai menjanjikan. Kandungan tersebut diketahui berdasarkan hasil eksplorasi dan studi geologi yang dilakukan di lokasi Jabal Sayid.

Pengungkapan ini muncul beberapa bulan setelah Arab Saudi dan Amerika Serikat meresmikan kerja sama di bidang energi nuklir sipil. Menteri Energi AS Chris Wright dan Pangeran Abdulaziz menandatangani kesepakatan tersebut pada 22 Juli.

Departemen Energi AS mengatakan pakta itu menjadi landasan hukum bagi kemitraan bernilai miliaran dolar yang dapat berlangsung selama beberapa dekade. Kesepakatan tersebut juga membuka akses yang lebih besar bagi perusahaan-perusahaan AS terhadap program energi nuklir sipil Arab Saudi.

Upaya eksplorasi mineral Saudi juga semakin gencar setelah Putra Mahkota Mohammed bin Salman berkunjung ke AS pada November 2025. Dalam kunjungan tersebut, kedua negara memperdalam kerja sama terkait mineral penting dan rantai pasokan.

Kerja sama itu antara lain melibatkan perusahaan pertambangan milik negara Saudi, Maaden, dan perusahaan AS, MP Materials.

Kunjungan Mohammed bin Salman menghasilkan Kerangka Kerja Strategis untuk Kerja Sama di bidang mineral, logam, dan uranium penting.

Dalam kerangka tersebut, Departemen Pertahanan AS menyetujui pembiayaan 49 persen untuk pembangunan pabrik pengolahan logam tanah jarang baru di Arab Saudi.

Sementara itu, Maaden akan memegang saham pengendali sebesar 51 persen bersama MP Materials. Perusahaan asal AS tersebut saat ini mengoperasikan satu-satunya tambang dan fasilitas pengolahan logam tanah jarang di AS.

Jabal Sayid sendiri berada sekitar 350 kilometer timur laut Jeddah, di wilayah Madinah. Kawasan itu sebelumnya telah dikenal memiliki salah satu deposit logam tanah jarang yang dinilai sangat berharga di dunia.

Analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), yang mengutip perkiraan Kementerian Perindustrian dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi serta Maaden, menyebut Jabal Sayid diyakini menempati peringkat keempat secara global dalam cadangan logam tanah jarang.

Lokasi tersebut diperkirakan memiliki sekitar 552.000 ton logam tanah jarang berat, seperti disprosium dan terbium. Selain itu, terdapat sekitar 355.000 ton logam tanah jarang ringan, termasuk neodimium dan praseodimium.

Analisis yang sama memperkirakan sumber daya uranium di Jabal Sayid mencapai sekitar 31.000 ton. Kombinasi kandungan mineral tersebut dinilai dapat memberi posisi strategis bagi Arab Saudi untuk mengembangkan siklus bahan bakar nuklirnya sendiri.

Saudi juga berpotensi menggunakan sumber daya tersebut untuk memasok material ke AS.

Secara terpisah, Saudi Press Agency (SPA) melaporkan nilai penemuan unsur tanah jarang di Arab Saudi mencapai US$100 miliar pada November 2025. Nilai tersebut meningkat sekitar 90 persen dibandingkan 2018.

Studi Survei Geologi Saudi juga telah mengidentifikasi dua wilayah eksplorasi tahap lanjut dengan perkiraan sumber daya mencapai 644 juta ton.

(mge/bac)

Read Entire Article
| | | |