Jangan Asal, Ngomongin Perempuan Secara Seksual Termasuk Pelecehan

6 hours ago 8

CNN Indonesia

Selasa, 14 Apr 2026 15:15 WIB

Kasus dugaan chat bernada seksual sekelompok mahasiswa Fakultas Hukum UI mengingatkan bahwa pelecehan seksual tidak selalu hadir dalam bentuk sentuhan fisik. Ilustrasi. Kasus dugaan chat bernada seksual sekelompok mahasiswa Fakultas Hukum UI mengingatkan bahwa pelecehan seksual tidak selalu hadir dalam bentuk sentuhan fisik. (iStock/doidam10)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus dugaan grup percakapan bernada seksual yang menyeret nama mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) kembali mengingatkan satu hal penting bahwa pelecehan seksual tidak selalu hadir dalam bentuk sentuhan fisik.

Dalam banyak kasus, pelecehan justru muncul lewat komentar, candaan, atau obrolan yang membahas tubuh perempuan secara seksual, merendahkan, dan membuat korban merasa malu atau tidak nyaman.

Hal-hal tersebut kerap disepelekan karena dianggap cuma omongan. Padahal, dampaknya bisa nyata dan tidak ringan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelecehan seksual tak selalu berbentuk fisik

Selama ini, masih banyak orang mengira pelecehan seksual baru terjadi ketika ada kontak fisik. Padahal, ngomongin perempuan secara seksual juga bisa masuk ke spektrum pelecehan, terutama bila dilakukan tanpa diinginkan, bernada merendahkan, atau menciptakan rasa terintimidasi.

Secara hukum di Indonesia, pijakannya ada pada UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual mengakui pelecehan seksual nonfisik sebagai salah satu bentuk tindak pidana kekerasan seksual.

Sementara itu, Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 juga memasukkan ujaran yang mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik, kondisi tubuh, identitas gender, serta ucapan berupa rayuan, lelucon, atau siulan bernuansa seksual sebagai bentuk kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.

Hal tersebut menunjukkan pelecehan seksual bukan cuma soal menyentuh tubuh. Komentar seksual, lelucon seksis, siulan, membahas bagian tubuh perempuan dengan nada seksual, sampai ucapan yang menjadikan perempuan sebagai objek obrolan juga bisa bermasalah. Apalagi jika obrolan itu tidak diinginkan, merendahkan, dan membuat orang yang dibicarakan merasa dipermalukan.

Yang sering membuat persoalan ini luput dikenali adalah karena bentuknya tampak ringan. Ia bisa hadir sebagai candaan di grup chat, komentar soal tubuh, atau obrolan antarteman yang dianggap wajar. Di ruang seperti kampus, bentuk-bentuk ini bahkan kerap dinormalisasi sebagai bagian dari pergaulan.

Padahal, ketika perempuan dibahas secara seksual, dijadikan bahan fantasi, diobjektifikasi, atau direndahkan lewat komentar tentang tubuh dan seksualitasnya, masalahnya bukan lagi sekadar selera bercanda. Ada unsur penghinaan, penghilangan rasa aman, dan ketimpangan kuasa yang bekerja.

Itu sebabnya menyebut ngomongin perempuan secara seksual sebagai bagian dari pelecehan bukan sesuatu yang berlebihan. Justru dari hal-hal yang dianggap kecil seperti inilah budaya pelecehan sering tumbuh dan dibiarkan.

Simak dampak pelecehan seksual di halaman berikutnya..

Add as a preferred
source on Google

Read Entire Article
| | | |