Jakarta, CNN Indonesia --
John Tu adalah salah satu imigran terkaya di Amerika Serikat (AS). Kekayaan harta konglomerat ini menumpuk setelah mendirikan raksasa memori dan penyimpanan komputer, Kingston Technology.
Berdasarkan data Forbes, Minggu (2/8), kekayaan Tu mencapai Rp508,4 triliun (asumsi kurs Rp18.029 per dolar AS). Majalah bisnis internasional itu pun menempatkan Tu pada peringkat ke-6 imigran terkaya di AS dan menduduki posisi ke-88 orang terkaya di dunia.
Lantas bagaimana cara Tu meraih kesuksesannya? Berikut kisahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari berbagai sumber, Du Jichuan alias John Tu lahir di Chongqing, China pada 12 Agustus 1941. Ayahnya, Du Tongsun, adalah seorang pejabat pemerintah Nasionalis China. Sementara, ibunya Wei Li adalah seorang bintang film pada masanya.
Saat berusia 6 tahun, Tu ikut orang tuanya pindah ke Taiwan saat Perang Saudara China bergolak. Di sana, sang ayah menjadi kepala bagian pemeriksaan film.
Selepas menyelesaikan pendidikan menengah, Tu melanjutkan kuliah di Technical University of Darmstadt, Jerman dengan mengambil jurusan Teknik Elektro. Pada 1968, Tu untuk pertama kalinya liburan ke Amerika Serikat (AS).
Setelah lulus pada 1970, Tu sempat bekerja sebagai insinyur listrik perusahaan telekomunikasi dan elektronik Motorola di Wiesbaden, Jerman. Namun, Tu tak betah karena merasa terasing.
Ia pun memutuskan untuk merantau ke Negeri Paman Sam. Berbekal visa turis, Tu mulai mengadu nasib di Arizona, AS.
John Tu adalah salah satu imigran terkaya di Amerika Serikat (AS). Kekayaan harta konglomerat ini berasal dari raksasa memori komputer, Kingston Technology. (Photo by INDRANIL MUKHERJEE / AFP).
"Tidak ada yang menanyakan asal saya dari mana. Saya langsung merasa diterima sebagai bagian dari masyarakat," ujar Tu dalam wawancara bersama Forbes pada 2020 lalu.
Sayang, pekerjaan yang ia inginkan tak kunjung didapat. Ia pun memutuskan untuk membuka bisnis pernak-pernik dan masuk bisnis real estate sebelum akhirnya pindah ke Los Angeles, AS, pada 1975.
Di Kota Malaikat itu, Tu bertemu dengan David Sun yang meyakini komputer akan menjadi hal besar di masa depan.
Karena modal tak cukup untuk mendirikan perusahaan komputer, Tu dan Sun memilih untuk fokus pada bisnis memori dan perangkat keras. Keduanya pun mendirikan Camintonn di garasi kecil pada 1982. Di sana, Tu bertanggung jawab untuk urusan pemasaran sedangkan Sun bertugas mengembangkan produk memori.
Ternyata usaha mereka berkembang pesat. Namun, pada 1986, mereka memutuskan untuk menjual bisnis itu kepada saingan IBM, AST, senilai US$6 juta.
Tu dan Sun sempat menginvestasikan uang tersebut di pasar saham. Namun, peruntungannya buruk di sana. Hanya selang setahun, pasar modal AS ambruk dan membuat Tu kehilangan US$1 juta dan berutang biaya perantara lebih dari US$200 ribu.
Keduanya pun kembali mendirikan perusahaan memori yang kini menjadi pemimpin pasar, Kingston Technology.
Mereka berhasil mengembangkan produk memori dengan kualitas baik menggunakan cip yang dianggap sudah ketinggalan zaman. Saat pasar kekurangan stok cip baru, memory board Kingston tetap bisa diproduksi dan diminati pasar. Hanya dalam tempo dua tahun, penjualan perusahaan berhasil menembus US$40 juta.
Kesuksesan Kingston menambah pundi-pundi harta Tu. Beberapa produk Kingston mulai dari flash disk USB hingga SSD yang bisa dipakai untuk kamera digital hingga telepon genggam.
Ia pun masuk ke daftar orang terkaya Forbes untuk pertama kalinya pada 1995. Kemudian, pada 1996, Tu dan Sun memutuskan untuk menjual 80 persen saham Kingston ke Softbank senilai US$1,5 miliar. Pada 1999, keduanya membeli kembali seluruh saham tersebut jauh lebih murah, US$450 juta.
Kini, perusahaan yang memperkerjakan 3.000 orang di seluruh dunia ini menjadi raksasa bisnis memori dan penyimpanan komputer.
Dalam mengembangkan bisnisnya, Tu dan Sun memutuskan untuk tetap menjadikan Kingston perusahaan privat. Tahun lalu, pendapatan perusahaan menembus US$14,4 miliar.
(sfr)


















































