Kadin Bandingkan Upah Minimum RI dengan Vietnam-Kamboja

6 hours ago 8

Jakarta, CNN Indonesia --

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia membandingkan besaran upah minimum sektor manufaktur di Indonesia dengan negara tetangga.

Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Ketenagakerjaan Kadin Indonesia Subchan Gatot mengungkapkan rata-rata upah sektor manufaktur di Indonesia berada di kisaran US$188 atau setara Rp3,2 juta per bulan, lebih rendah dibanding Vietnam sebesar US$342 atau Rp5,8 juta dan Kamboja sekitar US$210 atau Rp3,5 juta.

Namun, upah minimum tertinggi di Indonesia justru mencapai sekitar US$334 atau setara Rp5,7 juta, lebih tinggi dibanding Vietnam yang sekitar US$204 dan setara dengan Kamboja di kisaran US$210.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan antara upah minimum dan kemampuan riil perusahaan dalam membayar.

"Indonesia adalah satu-satunya yang memiliki upah minimum itu lebih tinggi daripada upah rata-rata yang real terjadi di lapangan. Jadi Indonesia ini upah minimumnya memang sebagian besar tidak bisa di-absorb oleh perusahaan padat karya," ujar Subchan dalam Rapat Panja dengan Komisi IX DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (14/4).

Selain upah minimum, Subchan juga menyorot besaran pesangon di Indonesia yang mencapai satu bulan gaji per tahun masa kerja menjadi beban berat bagi dunia usaha.

"Kita bicara terkait dengan masalah pesangon ini juga yang membuat tekanan cukup tinggi di mana total pesangon pekerja di Indonesia rata-rata masa kerja satu tahun itu adalah satu bulan gaji sedangkan di Vietnam dan juga Kamboja itu 0,5 bulan gaji dan di Kamboja 15 hari gaji," ujarnya.

Selain itu, dalam jangka panjang, beban pesangon di Indonesia juga jauh lebih besar. Untuk masa kerja 10 tahun, total pesangon bisa mencapai 12 bulan gaji, dengan batas maksimum hingga 19 bulan gaji. Sementara di Vietnam dan Kamboja, besaran pesangon umumnya hanya sekitar lima bulan gaji atau bahkan lebih rendah.

Perbedaan ini dinilai membuat struktur biaya tenaga kerja Indonesia kurang kompetitif secara regional dan menjadi salah satu faktor yang mendorong ekspansi industri ke luar negeri.

"Jadi memang pesangon kita masih cukup tinggi sehingga memang beban yang dipikul oleh pengusaha di Indonesia kalau kita melihat perbandingan ini wajar kalau memang sebagian itu melakukan ekspansi keluar," terangnya.

Menurut Subchan tingginya upah minimum dan pesangon menjadi salah satu faktor yang mendorong relokasi industri ke negara tetangga.

"Jadi poin ini yang akan kita coba angkat bagaimana terjadi relokasi industri dari Indonesia ke Vietnam dan juga Kamboja. Jadi unit labor cost-nya Indonesia memang jauh lebih berat dan menjadi salah satu faktor relokasi manufaktur ke Vietnam dan juga Kamboja ini," terangnya.

Subchan mengingatkan meski upah di Indonesia secara nominal tergolong kompetitif, investor tidak hanya melihat besaran gaji, tetapi juga total biaya tenaga kerja.

"Tingkat upah Indonesia itu relatif kompetitif memang dibandingkan dengan negara lain di kawasan, namun itu bukan satu-satunya yang dilihat oleh investor namun juga melihat terkait dengan hubungannya total biaya yang memang dianggap tidak kompetitif akibat tingginya kewajiban pesangon yang jauh di atas negara pesaing," ujarnya.

[Gambas:Youtube]

(del/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |