Kahar Muzakkir: Profesor Muhammadiyah Salah Satu Perumus Pancasila

2 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Akademisi yang juga pentolan Muhammadiyah, KH Abdul Kahar Muzakkir adalah salah satu pahlawan nasional dari masa pergerakan nasional kemerdekaan RI.

Dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, dia merupakan salah satu anggota Panitia Sembilan yang merumuskan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kahar Muzakkir kemudian ditetapkan jadi Pahlawan Nasional lewat Keppres Nomor 120/TK/Tahun 2019.

Kahar Muzakkir lahir pada 1907 di Desa Gading, Playen, Gunungkidul, DIY. Ayahnya adalah Haji Muzakkir dan ibunya Khadijah binti Mukmin.

Haji Muzakkir dikenal sebagai pedagang sekaligus guru agama yang aktif mengurus hajat besar di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta. Sedangkan, kakeknya, Kiai Abdullah Rasyad, merupakan guru agama di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Kahar yang merupakan jebolan pendidikan Muhammadiyah di Kotagede itu lalu melanjutkan menuntut ilmu agama sebagai santri di Surakarta hingga Pacitan.

Kemudian pada 1924, dia berkesempatan mendalami pendidikan Islam di Arab Saudi. Pada 1925, ketika terjadi revolusi Arab, dia pindah ke Mesir untuk melanjutkan pendidikannya.

Selama 13 tahun di Mesir, Kahar menjadi dekat dengan Sayid Quttub, seorang ulama Sunni Islam yang mengikuti pemikiran Ibnu Taimiyah.

Selain belajar, ia juga kerap mengikuti organisasi-organisasi di tingkat nasional maupun tingkat dunia, yang berkaitan dengan pergerakan antikolonialisme bersama mahasiswa-mahasiswa asal Asia Tenggara.

Panitia sembilan, Piagam Jakarta

Mengutip dari laman PP Muhammadiyah, Kahar Muzakkir kembali ke nusantara pada 1938 lalu memimpin Madrasah Mualimin. Dia juga aktif di Muhammadiyah hingga menjadi pengurus pusat organisasi Islam itu untuk periode 1946-1973.

Di masa pergerakan kemerdekaan Indonesia, Kahar Muzakkir menjadi anggota Panitia Sembilan yang merumuskan rancangan dasar negara hingga konstitusi Indonesia.

Panitia Sembilan adalah kelompok kecil beranggotakan 9 tokoh perumus dasar negara yang dibentuk Badan Penyelidikan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945 setelah pidato Sukarno.

Diketuai Sukarno, panitia ini sukses merumuskan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. Piagam Jakarta itu menjadi cikal bakal sila-sila Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.

Kiprah di dunia pendidikan

Dalam Ensiklopedia Muhammadiyah 2.0 yang diterbitkan Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah (2022) mewartakan bahwa Kahar Muzakkir membentuk Panitia Perencana Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta.

STI kemudian berdiri pada 8 Juli 1945 di Jakarta. Namun saat itu kondisi mempertahankan kemerdekaan membuat kondisi Jakarta tak kondusif, bahkan ibu kota RI harus bergeser ke Yogyakata. Pada momen itu, STI pun turut pindah ke Yogyakarta.

Selanjutnya, pada tahun 1947, STI berubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII).

Kahar Muzakkir adalah Guru Besar UII dalam hukum Islam dan bahasa Arab.

Selain itu, Abdul Kahar Muzakkir juga menjadi pelopor pendirian Akademi Tabligh Muhammadiyah di Yogyakarta pada tahun 1958. Akademi tersebut kemudian bertransformasi menjadi FIAD Muhammadiyah, dan berubah menjadi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Ketika menjabat sebagai Direktur Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah yang merupakan institusi pendidikan integrasi dengan Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah (lembaga pendidikan perempuan), Abdul Kahar menggagas pendidikan tinggi khusus perempuan.

Munculnya gagasan tersebut berawal dari Muktamar 'Aisyiyah 1962, pada Muktamar tersebut Abdul Kahar menyampaikan enam argumentasi untuk berdirinya pendidikan tinggi khusus perempuan.

Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama, tokoh, dan cendekiawan muslim yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah.

(kna/kid)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |