Kenapa Hilal Harus 3 Derajat Buat Tentukan Awal Ramadhan?

3 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Perhitungan dan pengamatan hilal dilakukan untuk menentukan awal bulan Hijriah, seperti bulan Ramadhan dan Syawal. Ada beberapa kriteria yang digunakan, salah satunya MABIMS yang menggunakan syarat posisi hilal mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.

Kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) merupakan acuan baru yang digunakan pemerintah untuk menentukan awal bulan Hijriah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari laman Kementerian Agama, kriteria ini merupakan pembaruan dari kriteria sebelumnya, yakni 2 derajat dengan sudut elongasi 3 derajat yang mendapat masukan dan kritik.

Rukyat atau pengamatan hilal dilakukan pada saat Matahari terbenam di tanggal 29 Hijriah. Hilal merupakan bulan sabit tipis yang pertama kali tampak setelah terjadi ijtimak (konjungsi). Hal inilah yang bisa menyebabkan terjadinya beda hitungan hisab dan rukyat.

Pengamatan dilakukan untuk mengonfirmasi hisab atau perhitungan yang telah dilakukan.

Dikutip dari buku Pedoman Hisab Muhammadiyah Cetakan Kedua (2009), kata "hisab" berasal dari bahasa Arab yaitu "al hisab" yang artinya adalah perhitungan atau pemeriksaan. Sementara dalam bidang fikih, istilah ini berkaitan dengan penentuan waktu-waktu ibadah.

Hisab menggunakan hitungan numerik-matematik untuk menetapkan awal bulan Hijriyah tanpa verifikasi faktual atau rukyat hilal.

Dengan hisab, umat Islam dapat menghitung posisi-posisi geometris benda-benda langit untuk menentukan penjadwalan waktu di muka bumi, termasuk untuk menentukan bulan kamariah yang terkait dengan ibadah.

Singkatnya, hisab digunakan sebagai metode perhitungan waktu dan arah tempat dalam berbagai ibadah, seperti penetapan jadwal salat, waktu dimulainya puasa Ramadhan, Idul Fitri, pelaksanaan haji, dan lainnya.

Hingga saat ini, metode hisab masih digunakan oleh Muhammadiyah untuk menentukan awal bulan dalam kalender Hijriah. Hisab yang digunakan adalah hisab hakiki wujudul hilal dengan kriteria sebagai berikut:

- Telah terpenuhinya ijtimak (konjungsi). Ijtimak terjadi sebelum Matahari terbenam
- Pada saat terbenamnya Matahari, bulan berada di atas ufuk.
- Apabila tiga kriteria itu terpenuhi, maka hari tersebut dianggap telah sah masuk dalam awal bulan Hijriyah.

Pengamatan hilal

Pengamatan hilal bisa dilakukan dengan mata telanjang atau menggunakan alat bantu optik. Apabila hilal terlihat maka malam itu menandai awal bulan baru. Namun, visibilitas hilal ini akan dipengaruhi oleh jarak sudut antara bulan dan Matahari.

Berdasarkan kriteria Danjon, hilal baru bisa terlihat dengan mata telanjang jika jaraknya minimal 7 derajat. Karena faktor cuaca dan keterbatasan pengamatan, sering kali alat optik seperti teleskop digunakan untuk meningkatkan akurasi.

Di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) menjadikan metode ini sebagai pedoman utama yang terbagi menjadi tiga cara, yaitu:

- Kasatmata telanjang (bil fi'li): Hilal dapat terlihat langsung tanpa bantuan alat.
- Kasatmata teleskop: Hilal hanya bisa diamati dengan bantuan teleskop.
- Kasat-citra: Hilal terdeteksi melalui sensor atau kamera yang terhubung dengan alat optik.

(lom/dmi)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |