Kilang AS Kelabakan Serap Lonjakan Minyak Venezuela, Stok Tak Laku

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Kilang minyak di kawasan Pantai Teluk (Gulf Coast) Amerika Serikat (AS) mulai kelabakan menyerap lonjakan 'mendadak' pasokan minyak mentah dari Venezuela.

Sejak kesepakatan pasokan senilai US$2 miliar atau setara Rp33,6 triliun (asumsi kurs Rp16.770) antara Washington dan Caracas bulan lalu, pengiriman minyak Venezuela melonjak tajam.

Lonjakan pengiriman minyak ini menekan harga dan membuat sebagian kargo tak terserap pasar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami semua menghadapi masalah yang sama: pasokan terlalu banyak, tapi peminatnya terbatas," ujar seorang pedagang kepada Reuters, Rabu (4/2).

Sejumlah kilang AS mengeluhkan meskipun sudah turun, harga minyak berat Venezuela yang masih tergolong mahal dibandingkan minyak berat dari Kanada.

Saat ini, minyak berat Venezuela yang diekspor ke Gulf Coast AS ditawarkan dengan diskon sekitar US$9,50 per barel dari harga acuan Brent. Padahal, pertengahan Januari lalu diskonnya masih di kisaran US$6 hingga US$7,50 per barel.

Per Januari 2026, ekspor minyak Venezuela ke AS melesat menjadi 284 ribu barel per hari. Sebab, pada pertengahan 2025 ekspornya nol setelah Trump mencabut seluruh izin perdagangan dan pengapalan Caracas.

Sebelum sanksi diberlakukan Washington ke Caracas pada 2019, AS menyerap sekitar 500 ribu barel per hari minyak Venezuela.

Menurut pelaku pasar, perlu waktu untuk kembali mencapai kapasitas maksimum kilang AS. Apalagi, sebagian fasilitas kilang juga perlu penyesuaian teknis untuk mengolah minyak Venezuela yang lebih berat.

CEO Phillips 66, Mark Lashier mengatakan perusahaannya mampu mengolah sekitar 250 ribu barel per hari minyak Venezuela, dengan syarat harganya cukup kompetitif untuk menggantikan sumber minyak berat lain.

Kondisi ini menjadi hambatan awal bagi ambisi Presiden AS Donald Trump yang ingin mengambil sebagian besar ekspor minyak Venezuela ke negaranya, setelah pasukan militer AS menculik dan mengadili Presiden Venezuela Nicolas Maduro bulan lalu.

Sejumlah perusahaan dagang minyak global, termasuk Vitol dan Trafigura mendapat lisensi dari AS untuk memasarkan dan menjual jutaan barel minyak Venezuela. Izin diberikan menyusul operasi militer AS dan kesepakatan pasokan dengan Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez.

Vitol dan Trafigura yang bergabung dengan raksasa energi Chevron, sempat berhasil menjual beberapa kargo ke kilang di AS dan Eropa.

Namun, seiring peningkatan cepat ekspor Chevron, kini para pedagang kini kesulitan mencari cukup banyak pembeli di kalangan kilang Gulf Coast AS.

Chevron, yang saat ini hanya diizinkan mengekspor minyak Venezuela ke AS, meningkatkan impornya menjadi 220 ribu barel per hari pada Januari, padahal pada Desember 2025 cuma 99 ribu barel per hari.

CEO Chevron Mike Wirth mengatakan jaringan kilang perusahaan hanya mampu mengolah sekitar 150 ribu barel per hari minyak berat Venezuela. Artinya, sisa produksi harus disimpan atau dijual ke kilang lain.

Chevron saat ini memproduksi sekitar 250 ribu barel per hari minyak Venezuela dan melihat potensi kenaikan produksi hingga 50 persen dalam 18-24 bulan ke depan, jika AS mengizinkan perluasan operasi.

Data pelacakan kapal menunjukkan beberapa tanker sewaan Chevron sempat menunggu berhari-hari untuk bongkar muatan di pelabuhan AS alias memperlambat pelayaran.

Kepada Reuters, sumber internal Chevron menyebut keterlambatan ini terkait dampak blokade AS sebelumnya, meski seluruh kargo sudah terjual sebelum kapal berangkat.

Sementara itu, Vitol dan Trafigura mengekspor sekitar 12 juta barel minyak Venezuela pada Januari 2026, sebagian besar dikirim ke fasilitas penyimpanan di Karibia. Banyak dari volume minyak tersebut belum terjual.

Secara keseluruhan, per Januari 2026 ekspor minyak Venezuela melonjak mendekati 800 ribu barel dari sebelumnya 498 ribu barel per hari pada Desember 2025.

China, yang sebelumnya menjadi tujuan utama minyak Venezuela, malah belum menerima ekspor apapun sejak Maduro diculik pada awal Januari. AS menyatakan akan mengendalikan penjualan minyak Venezuela tanpa batas waktu.

Meski China secara teknis masih diperbolehkan membeli minyak Venezuela, tetapi AS melarang pembelian dengan harga yang terlalu murah seperti sebelumnya.

Beijing menolak pencaplokan AS atas kendali ekspor minyak Venezuela. Petro China telah meminta pedagang untuk menghentikan transaksi minyak Venezuela sementara waktu.

Di tengah menumpuknya minyak Venezuela, India berpotensi menjadi jalan keluar. Senin kemarin Trump mengumumkan kesepakatan dagang dengan India, yang mencakup pengalihan pembelian minyak dari Rusia ke AS. Hal ini memungkinkan minyak-minyak Venezuela yang diserap AS, akan dijual ke New Delhi.

Perusahaan India, Reliance Industries menyatakan sedang mempertimbangkan impor minyak Venezuela.

[Gambas:Video CNN]

(pta/ins)

Read Entire Article
| | | |