Jakarta, CNN Indonesia --
Tiga atlet para-taekwondo asal Sumatera Utara pulang dengan kepala tegak dari Pancasila Cup 2 2026 GOR Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu (16/5).
Mian Sirait, Anthon Siloam Sianturi, dan Siti Rizqiyah Ananda masing-masing menyabet medali emas dari tiga kategori berbeda dalam Pancasila Cup 2 2026 di GOR Ciracas, Jakarta Timur.
Mian mengaku kesulitan utama yang ia rasakan ada pada teknik bertahan, khususnya saat melakukan gerakan blok. Namun, dari sisi program latihan, ia bisa bertahan dengan baik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kesulitannya hanya di bagian body contact untuk nge-block, tapi kalau di programnya, ya sama dengan orang non-disabilitas. Programnya semua dijalankan," ujar Mian kepada CNN Indonesia.
Anthon juga menyebut porsi latihan para-taekwondo tidak lebih ringan dibanding atlet pada umumnya. Justru tekanan intensitas tinggi dalam durasi latihan yang padat menjadi tantangan.
"Kesulitannya hanya di bagian kurang tidur. Porsi tidur dan porsi latihan itu berbeda. Kalau tidur cuma lima jam, tapi latihan tiga jam dengan intensitas tinggi, performa kita ya jadi terganggu," katanya.
Hal serupa juga dirasakan Siti. Ia menyebut kesulitan terbesar ada pada gerakan blok yang terbatas karena hanya menggunakan satu tangan. Namun, ia menegaskan, menyerah bukan pilihan.
"Kalau yang lain tidak ada kesulitan, hanya saat mau nge-block agak susah karena kita hanya satu tangan. Untuk yang lain, bisa sama seperti pada umumnya, latihan juga begitu," ujar Siti.
Meski begitu, ketiganya tidak datang ke taekwondo tanpa bekal. Mian sebelumnya sudah berkecimpung selama sekitar 10 tahun di dunia olahraga disabilitas, tepatnya di cabang atletik.
"Di atletik kan ada unsur fisik, di taekwondo juga ada fisik, jadi masih bisa di-combine. Di taekwondo ini baru dua tahun terakhir dan baru dua kali mengikuti event," ucap Mian.
Berbeda dengan Mian, Anthon memulai perjalanannya dari taekwondo reguler sejak kelas satu SMA. Setelah latihan dua setengah tahun, ia dilirik Sumatera Utara.
"Ada perbedaan antara taekwondo normal dan para-taekwondo. Di taekwondo normal boleh memukul kepala, sedangkan di para-taekwondo tidak diperbolehkan," kata Anthon.
Sementara Siti datang dari latar belakang atletik, tepatnya nomor tolak peluru. Ia beralih ke taekwondo setelah mempertimbangkan peluang yang lebih besar di cabang tersebut.
Dalam kompetisi para-taekwondo, atlet dikelompokkan berdasarkan jenis disabilitas fisiknya. Anthon menjelaskan dua kelas yang umum digunakan, yakni K41 dan K44.
"K41 itu amputasi di atas siku, sedangkan K44 dari siku sampai pergelangan tangan," terang Anthon, yang berkompetisi di kelas K44. Mian tanding di kelas K41, sementara Siti juga turun di kelas K44.
Ketiganya meraih emas di kelas masing-masing. Kontingen Sumatra Utara memang sengaja mengatur agar setiap kelas hanya diwakili satu atlet demi memaksimalkan perebutan medali.
"Kami sudah memfilter agar setiap kelas hanya diisi satu orang. Tidak mau berdua di kelas yang sama agar bisa merebut emas per kelas," kata Anthon menjelaskan.
Bagi Mian, pencapaian ini terasa istimewa karena merupakan hasil progres yang nyata. Di Pancasila Cup 1 sebelumnya, ia membawa pulang medali perunggu.
"Di Pancasila Cup pertama saya masih baru dan mendapat perunggu. Puji Tuhan, di Pancasila Cup kedua ini ada progres meningkat ke medali emas," tuturnya sambil tersenyum.
Lain halnya dengan Siti yang baru pertama kali mengikuti Pancasila Cup di seri kedua ini. Meski berstatus debutan, atlet berusia 16 tahun itu langsung meraih medali emas.
"Senang saja, baru perdana sudah bisa dapat medali emas. Sudah bisa mengikuti jejak abang-abang yang lebih senior," ucap Siti sambil dengan mimik bahagia.
Raihan emas di Pancasila Cup 2 tidak membuat ambisi mereka berhenti. Ketiganya menyatakan memiliki target yang lebih tinggi, tampil dalam ajang internasional hingga Paralimpiade
"Target saya, setelah menginjakkan kaki di tingkat nasional, ingin ke tingkat internasional, ke Asia, dan akhirnya ke Paralimpik. Semua atlet menargetkan ke sana, terutama kami," kata Mian.
(abs/afr/nva)
Add
as a preferred source on Google


















































