Menangkap Denyut Kehidupan Myanmar dari Laju Kereta Paling Lambat

2 hours ago 1

CNN Indonesia

Kamis, 05 Feb 2026 11:45 WIB

Kehidupan Myanmar yang menarik bisa dilihat dengan teliti dan perlahan selama perjalanan menggunakan kereta Yangon Circular, karena jalannya yang lambat. Pemandangan penumpang di gerbong kereta Yangonís Circular Railway, Myanmar. (AFP/ANTHONY WALLACE)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kehidupan Myanmar yang menarik bisa dilihat dengan teliti dan perlahan selama perjalanan menggunakan kereta Yangon Circular. Kereta ini sering disebut sebagai salah satu kereta paling lambat di dunia, tetapi justru itu yang menjadi daya tariknya.

Yangon Circular Train merupakan transportasi lokal di kawasan Yangon, Myanmar, yang melingkari Yangon Circular Railway. Kereta ini setiap harinya berhenti di 39 stasiun sekitar, menghubungkan metropolitan kota Yangon dengan daerah pinggirannya.

Jarak sejauh 45,9 kilometer akan ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam. Untuk sebuah kereta, ini bisa dibilang lambat. Namun harga yang ditawarkan sangat ramah di kantong, yaitu sekitar 200 kyat atau sekitar Rp1.500

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai kereta api lokal, banyak masyarakat maupun wisatawan yang menggunakan Yangon Circular Train. Melansir situs Yangon Day Tours, setiap harinya ada 100-150 ribu tiket yang terjual. Kereta ini akan tiba di peron 7 Stasiun Kereta Api Yangon mulai dari pukul 6.10 pagi dan beroperasi sampai jam 5.10 sore waktu setempat.

Sementara tiketnya bisa dibeli di semua stasiun yang dilintasi, termasuk Yangon Central, Dagon University, Danyingon, Hlawga, Insein, Mingaladon, Okhposu, Paywetseikkon, Thilawa, Togyaunggalay, Ywathagyi, University of Computer, dan Studies Yangon.

Yangon Circular Train sudah seperti urat nadi di Yangon, Myanmar. Keberadaannya ini melekat dengan kehidupan sehari-hari kota itu sejak masa kolonial Inggris di sana.

Jalur kereta tersebut dibangun pada tahun 1954, membuat Yangon dilingkari dengan jalur rel ganda. Jika dihitung-hitung, usianya kini sudah hampir 72 tahun.

Kemudian pada tahun 2011, pemerintah Myanmar mengalami kerugian besar. Biaya operasional kereta tersebut menghabiskan sekitar 260 juta kyat atau sekitar Rp2 miliar, sementara pendapatan yang dihasilkan hanya kisaran 42 juta kyat atau sekitar Rp335 juta.

Meskipun demikian, pemerintah terus mengucurkan subsidi untuk operasional Yangon Circular Train sehingga harga tiket tidak dinaikkan.

Dengan cara ini, masyarakat dan wisatawan tetap bisa menikmati perjalanan menggunakan kereta lokal tersebut dengan harga murah.

Keadaan mulai membaik di tahun 2012, ketika Komite pengembangan Kota Yangon bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency.

Mereka melakukan pengembangan di Yangon, termasuk meningkatkan operasional transportasi umum dengan lebih baik. Semenjak saat itu, Yangon Circular Train jadi transportasi andalan penduduk setempat.

Saking diandalkannya, semua penduduk dengan latar belakang dan profesi berbeda bisa dilihat di satu gerbong yang sama. Suasana di dalam sangat sibuk, ada yang siap-siap pergi bekerja, membawa anak-anak liburan, pulang dari pasar dengan keranjang belanja yang penuh, ada juga yang berjualan.

Seorang pelancong yang pernah tur menggunakan Yangon Circular Train membagikan ceritanya di situs On My Canvas. Berdasarkan pengalamannya, jangan kaget ketika naik kereta ini dan melihat penumpang yang membawa ayam hidup atau benda-benda tak terduga lainnya. Itu pemandangan yang biasa di dalam Yangon Circular Train.

Kereta ini bukan hanya moda transportasi biasa, tapi juga bisa dibilang lapak berniaga warga lokal karena di dalamnya banyak yang berjualan. Sudah seperti pasar, mereka menjual dan membeli bahan makanan, buah, sayur, jajanan, gorengan, atau bahkan pakaian.

Posisi duduknya jelas tak beraturan, sering ditemui penumpang yang duduk di lantai. Setiap kereta ini berhenti di stasiun, ada saja penumpang baru yang meloncat masuk dengan gembira. Sementara sisanya yang sudah kelelahan, memutuskan untuk tidur selama perjalanan. Pemandangan ini absurd, tetapi juga terlihat begitu hangat dan otentik.

Selain melihat kehidupan asli masyarakat Myanmar yang menjalani hari-harinya, ketika melongok ke luar jendela, pemandangannya langsung berbeda dan jauh lebih indah. Kereta yang berjalan pelan ini membuat mata lebih mudah menangkap pemandangan di luar.

Ketika Yangon Circular Train melintasi seisi rute, kamu bisa melihat pesona daerah Yangon yang menarik. Pemandangan hijau juga sesekali terlihat, menyuguhkan kebun dan tumbuhan yang asri.

(ana/wiw)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |