CNN Indonesia
Senin, 23 Feb 2026 18:30 WIB
Ilustrasi. Saat puasa Ramadhan, olahraga tetap bisa dilakukan asal tahu kapan waktu yang tepat. (iStockphoto/pixdeluxe)
Jakarta, CNN Indonesia --
Menjaga kebugaran selama bulan Ramadhan bukan hal yang mustahil. Meski tubuh berpuasa lebih dari 12 jam, aktivitas fisik tetap bisa dilakukan selama tahu kapan waktu yang tepat dan bagaimana mengatur intensitasnya.
Salah satu waktu yang dinilai relatif aman adalah setelah berbuka puasa. Dokter spesialis kedokteran olahraga Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya, Risky Dwi Rahayu, mengatakan tubuh sudah kembali mendapatkan energi dan cairan sehingga lebih siap untuk berlatih.
"Kalau dilakukan setelah berbuka, tubuh sudah punya energi dan cairan sehingga lebih siap untuk latihan," ujar Risky dalam jumpa pers melalui Zoom, Rabu (18/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski lebih aman, bukan berarti olahraga bisa langsung dilakukan usai menyantap makanan berat. Tubuh membutuhkan waktu untuk mencerna makanan, karena aliran darah akan lebih banyak terfokus ke saluran pencernaan.
Jika langsung melakukan latihan intensitas tinggi, risiko mual, kembung, hingga rasa tidak nyaman bisa muncul.
Oleh karena itu, Risky menyarankan berbuka dengan porsi ringan terlebih dahulu, seperti air putih dan sumber karbohidrat sederhana secukupnya. Setelah itu, beri jeda sekitar 45 menit hingga satu jam sebelum memulai latihan.
"Makan utama bisa dilakukan setelah sesi olahraga selesai," kata dia.
Pilihan olahraga lebih fleksibel
Setelah berbuka, pilihan olahraga juga menjadi lebih beragam. Latihan aerobik seperti lari, bersepeda, atau jalan cepat tetap dianjurkan untuk menjaga kesehatan jantung dan paru-paru.
Latihan beban pun lebih aman dilakukan pada waktu ini karena cadangan energi tubuh sudah terisi kembali.
"Latihan dengan intensitas lebih tinggi, lebih baik dilakukan setelah berbuka dibanding sebelum berbuka," jelas Risky.
Meski demikian, intensitas tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing. Durasi latihan sebaiknya berada dalam rentang 30 hingga 60 menit. Waktu ini dinilai cukup untuk menjaga kebugaran tanpa membebani tubuh yang sedang berpuasa.
Metode talk test dapat digunakan untuk mengukur intensitas. Jika saat berolahraga seseorang sudah kesulitan berbicara, artinya intensitas terlalu tinggi dan perlu diturunkan.
Tetap penuhi kebutuhan cairan
Keuntungan olahraga setelah berbuka adalah kesempatan untuk minum di sela-sela aktivitas. Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk menjaga hidrasi.
Jika latihan berlangsung lebih dari satu jam, minuman elektrolit dapat dipertimbangkan untuk mengganti cairan yang hilang melalui keringat. Namun, hindari minuman tinggi gula yang berpotensi menambah asupan kalori berlebih.
Olahraga malam hari juga perlu mempertimbangkan waktu tidur. Istirahat yang cukup berperan penting dalam proses pemulihan otot dan menjaga daya tahan tubuh selama puasa.
Risky menyarankan agar latihan tidak dilakukan terlalu larut sehingga waktu tidur tetap terjaga sebelum sahur. Kualitas tidur yang baik membantu tubuh tetap bugar keesokan harinya.
Dia juga mengingatkan, orang dengan penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan jantung sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum menjalani program latihan selama Ramadhan.
"Ibu hamil dan ibu menyusui juga perlu menyesuaikan intensitas olahraga dengan kondisi tubuh masing-masing," kata dia.
(tis/tis)


















































