Jakarta, CNN Indonesia --
Iran disebut masih bisa mengirim 80 juta lebih barel minyak mentah melalui Selat Hormuz meski tengah berperang lawan Amerika Serikat.
Sebuah lembaga pemantau lalu lintas maritim Tanker Trackers mengatakan Iran telah mengirimkan lebih dari 80 juta barel minyak mentah dan produk olahan dalam 26 hari terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengiriman tersebut saat ini total bernilai US$6 miliar atau setara Rp108 triliun, dalam periode empat pekan terakhir, dikutip dari Al Jazeera. Namun jutaan barel lagi masih menunggu keberangkatan, lanjut keterangan Tank Trackers.
"Sekarang blokade Angkatan Laut AS diberlakukan kembali lebih dari sebulan lebih cepat dari jadwal, tampaknya sekitar 30 juta barel minyak mentah Iran masih belum berangkat," kata kelompok pemantau tersebut.
"Namun, ada juga lebih dari 60 juta barel kapasitas penyimpanan terapung yang tersedia di dalam perimeter blokade jika Iran terpaksa mengurangi produksi minyaknya."
Sementara itu, Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad menegaskan ekspor minyak Teheran akan "berlanjut seperti biasa," meskipun AS memberlakukan kembali sanksi terhadap penjualan tersebut.
Mohsen mengatakan Iran telah "lama membangun struktur yang diperlukan" untuk melawan dampak sanksi AS, dikutip dari CNN.
Paknejad mengungkapkan "mekanisme ini" tidak dilucuti selama masa penangguhan 60 hari dan "tetap berlaku."
Departemen Keuangan AS awalnya setuju untuk mencabut sanksi terhadap penjualan minyak Iran selama 60 hari sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata.
Sanksi tersebut diberlakukan kembali pada 7 Juli, bersamaan dengan serangan AS terhadap Iran, sebagai balasan atas serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial di dekat Selat Hormuz.
(bac)
Add
as a preferred source on Google


















































