CNN Indonesia
Kamis, 12 Feb 2026 03:30 WIB
Produser film dokumenter Melania respons permintaan Jonny Greenwood Radiohead dan Paul Thomas Anderson soal penghapusan lagu. (AFP/Greg Nash)
Jakarta, CNN Indonesia --
Produser film dokumenter Melania, Marc Beckman, menanggapi permintaan Jonny Greenwood dari Radiohead dan sutradara Paul Thomas Anderson agar musik dari film Phantom Thread (2017) dalam film dokumenter tersebut dihapus.
Beckman, seperti diberitakan The Independent pada Selasa (10/2), mengklaim jajarannya telah mengikuti semua protokol yang diperlukan dan memiliki hak untuk menggunakan musik tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah kebohongan terang-terangan. Kami memiliki hak dan izin hukum untuk menggunakan setiap lagu dan musik dalam film tersebut. Kami memiliki hak hukum untuk menggunakannya," kata Beckman.
"Kami telah melakukan semuanya dengan benar. Kami mengikuti protokol. Kami menghormati para seniman. Kami telah memberikan kompensasi kepada semua orang atas musik mereka," tuturnya.
Film dokumenter Melania menyertakan cuplikan panjang dari Barbara Rose, lagu yang digubah oleh gitaris Radiohead untuk film yang diarahkan Anderson dan dibintangi Daniel Day-Lewis.
Dalam pernyataan resmi bersama Greenwood dan Anderson pada awal pekan ini, mereka menyatakan penggunaan musik dalam Melania merupakan pelanggaran perjanjian komposer.
"Kami telah mengetahui bahwa sebuah karya musik dari Phantom Thread telah digunakan dalam film dokumenter Melania."
Pengacara musisi tersebut mengklaim meski Greenwood tidak memiliki hak cipta atas musik tersebut, distributor film Universal "gagal berkonsultasi dengan Jonny mengenai penggunaan pihak ketiga ini, yang merupakan pelanggaran perjanjian komposer."
Namun, hal tersebut dibantah Beckman.
"Kami memiliki kontrak yang mengikat secara hukum dan telah ditandatangani sepenuhnya untuk menggunakan setiap lagu dalam film Melania," ia menegaskan. "Ini sungguh tidak masuk akal."
Melania merupakan film dokumenter arahan Brett Ratner, yang mengikuti perjalanan Ibu Negara Melania Trump selama 20 hari menjelang pelantikan kedua suaminya.
Film tersebut telah menghasilkan US$13,35 juta di Amerika Utara setelah dua akhir pekan penayangan, melampaui proyeksi box office sebagian berkat kelompok-kelompok perempuan Republikan.
Dalam film tersebut, Melania bertemu dengan penata gaya, desainer interior, dan sekutu politik sebelum terlihat bergandengan tangan dengan suaminya di upacara pelantikannya.
Film tersebut telah dirujak habis-habisan oleh para kritikus, menerima ulasan satu bintang dari Nick Hilton dari The Independent, yang menulis: "Mungkin Melania hanya karya hiburan pasca-modern. Lagipula, ini jelas bukan film dokumenter."
"Melania menghabiskan sebagian besar adegan memainkan versi dirinya yang dipentaskan, dan pengambilan gambar ibu negara disusun dengan penuh kesengajaan seperti yang dilakukan Ratner pada karyanya di X-Men: The Last Stand. Ini berada di antara reality TV dan fiksi murni."
Meskipun berkinerja lebih baik dari yang diharapkan, menghasilkan US$7 juta di box office AS pada akhir pekan pembukaan, kemungkinan besar tidak akan mampu menutup biaya US$40 juta yang dibayarkan Amazon MGM untuk film tersebut.
Amazon dilaporkan menghabiskan tambahan US$35 juta untuk memasarkan film tersebut.
Proyek itu menandai kembalinya sutradara Rush Hour, Brett Ratner, yang pindah ke Israel setelah beberapa tuduhan pelecehan seksual pada 2017. Ia membantah melakukan kesalahan apa pun dan belum didakwa dengan pelanggaran apa pun.
Menurut laporan Rolling Stone, dua pertiga anggota kru meminta agar nama mereka dihapus dari kredit film.
(chri)

















































