Shu Ping, Wanita Terkaya Singapura Berharta Rp40,4 T di Balik Haidilao

2 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Ungkapan klasik 'Di bi balik pria hebat, ada dukungan kuat perempuan' rasanya tak cukup menggambarkan peran Shu Phing di balik kesuksesan suaminya, Zhang Yong, menjadi salah satu orang terkaya Singapura.

Forbes memperkirakan kekayaan Ping tembus US$2,4 miliar atau setara Rp40,4 triliun (kurs Rp16.862). Limpahan harta tersebut menjadikannya sebagai wanita terkaya di Singapura.

Suaminya, Zhang Yong diprediksi memiliki kekayaan bersih US$6,2 miliar atau setara Rp104,5 triliun dan berada di peringkat 6 orang terkaya Singapura.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ping tak sekadar memberi dukungan untuk Yong, tetapi ikut turun langsung membidani kelahiran Haidilao International Holding, jaringan restoran hot pot khas China.

Haidilao memiliki hampir 1.400 restoran di wilayah China, Hong Kong, Macau dan Taiwan. Jumlah itu belum termasuk jumlah outlet di negara lain. Di Indonesia saja, ada 12 gerai yang tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bekasi, dan Tangerang.

Haidilio didirikan pasangan Ping dan Yong bersama dua rekan pada 1994. Kini, Yong masih menjabat chairman perusahaan. Perusahaan ini dikenal dengan hidangan kuah pedas khas Shicuan, daerah tempat Yong lahir.

Modal awal Haidilao cuma 8.000 yuan, yang kalau dirupiah sekitar Rp19 juta (asumsi kurs Rp2.400).

Di awal buka, Haidilio hanya sebuah kedai hotpot kecil dengan empat meja bagi pelanggan. Kedai ini menghidangkan kuah pedas mendidih, dengan irisan tipis daging, mi, makanan laut, jamur, tahu, dan berbagai sayuran sebagai pelengkap.

Di Haidilao, kompor dipasang di setiap meja agar kuah tetap mendidih. Pelanggan mendapat panci dengan dua kompartemen. Satu sisi panci berisi kuah jamur atau ayam yang rasanya lebih ringan, sementara sisi lainnya dibumbui lada Sichuan bagi penikmat kuliner pedas.

Para pelanggan kembali datang karena cita rasa tersebut. Keistimewaan lain yang benar-benar jadi pembeda adalah layanan bagi pelanggan. Konsumen dapat fasilitas manikur dan pijat baru gratis sambil menunggu hidangan datang.

Mereka juga diberi handuk hangat lembap dan celemek untuk melindungi pakaian. Perlakuan spesial lainnya, pelanggan yang makan sendirian terkadang diberi boneka teddy bear sebagai teman.

"Itu adalah kunci yang membuat restoran kecil pertamanya berjalan. Layanan sudah menjadi inti sejak awal," kata F. Warren McFarlan, Profesor Emeritus di Harvard Business School, yang ikut menulis studi kasus Haidilao pada 2011, dikutip Bloomberg.

Layanan istimewa itu nampaknya berangkat dari pengalaman Yong muda. Ia lahir dari keluarga miskin, bahkan tidak tamat SMA. Pada usia 19 tahun, ia akhirnya bisa makan di restoran untuk pertama kali, saat bekerja sebagai tukang las di pabrik traktor milik negara di Jianyang, Shichuan.

Antusiasme pengalaman pertama makan di luar rumah itu malah berkesan buruk. Pelayan berlaku kasar, rasa kuah hot pot juga payah.

Pada 1994, ia resign karena berselisih paham dengan kantornya, lalu membuka kedai hot pot Shu Ping yang dulu masih berstatus tunangannya, serta dua teman.

Cita rasa dan layanan prima, rupanya dua hal itu membuat Haidilao menjelma dari kedai kecil di Shicuan menjadi jaringan raksasa yang menjangkau berbagai negara, termasuk Indonesia.


Read Entire Article
| | | |