Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Presiden Amerika Serikat menyampaikan JD Vance menyampaikan ultimatum kepada Israel untuk mematuhi kesepakatan penghentian perang dengan Iran.
Peringatan itu disebut jadi sinyal terakhir dari AS bahwa Washington bisa memutuskan hubungan dengan Tel Aviv jika tidak dipatuhi segera.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengaku frustrasi dengan kelakuan Israel yang masih membombardir Israel setelah Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (MoU) damai di Prancis.
Padahal, penghentian serangan terhadap Lebanon juga mencakup dalam salah satu poin di MoU tersebut.
JD Vance memperingatkan Israel agar tidak menjauhkan diri dari "satu-satunya sekutu kuat" yang masih dimiliki Zionis itu di dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Vance di tengah meningkatnya ketegangan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump.
Vance meminta anggota kabinet Netanyahu untuk "bangun dan menghadapi kenyataan".
"Donald J. Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang saat ini bersimpati kepada Negara Israel, dan kebetulan ia juga merupakan pemimpin negara adidaya dunia," kata Vance kepada wartawan dalam pengarahan di Gedung Putih.
"Jika saya berada di kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih saya miliki di seluruh dunia," lanjutnya seperti dikutip AFP.
Kerja sama AS dan Israel dalam menyerang Iran sejak 28 Februari disebut menjadi situasi yang panas dan penuh gejolak bagi dua sekutu itu yang telah lama terjalin.
Puncak gejolak tersebut begitu terasa saat Vance menyampaikan pernyataan yang sangat blak-blakan dan keras kepada Israel.
Itu adalah puncak dari rentetan peringatan dari Washington karena khawatir Israel dapat menggagalkan kesepakatan AS dengan Iran yang oleh banyak orang dianggap terlalu menguntungkan Iran.
Israel dan Hizbullah sepakat untuk memperbarui gencatan senjata pada Jumat, menurut sumber yang disampaikan kepada CNN, setelah pertempuran antara militer Israel dan kelompok militan yang didukung Iran kembali membahayakan negosiasi AS-Iran.
CNN menulis bahwa perpecahan itu tampaknya tak terhindarkan karena sejumlah alasan. Salah satunya adalah mengenai tujuan perang itu sendiri melawan Iran.
Tujuan Israel dalam perang melawan Iran sangat berbeda dari tujuan AS, dan Tel Aviv jauh lebih terlibat.
Faktor lainnya adalah reputasi Israel di AS terus merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan Partai Republik yang masih sangat pro-Israel baru-baru ini menyaksikan banyak tokoh berpengaruh mengkritik Israel secara keras dan menghadapi meningkatnya antisemitisme di kalangan basis pendukungnya.
Sementara itu, Trump cenderung memperlakukan sekutunya itu dengan baik hanya sejauh itu menguntungkan dirinya. Ia juga kerap mennggunakan kiasan antisemit selama bertahun-tahun.
Vance kemudian berulang kali kembali pada pemikiran bahwa Israel harus berhati-hati.
Ia menyebutkan betapa bergantungnya Israel pada senjata Amerika, serta perlunya beberapa pemimpin Israel "untuk bangun dan menyadari realitas situasi yang dihadapi negara itu."
Dalam wawancara dengan jurnalis the New York Times Ross Douthat, Vance mendesak Israel untuk mengakui bahwa AS telah menjadi "mitra yang luar biasa" dan menyebutkan bagaimana sistem rudal AS telah melindungi Israel.
Ia juga meminta Israel untuk mengurangi manuver militer di Lebanon karena mengancam proses perdamaian yang rapuh.
(bac)
Add
as a preferred source on Google


















































