Jakarta, CNN Indonesia --
Bagi sebagian besar pelancong, perjalanan kapal pesiar mungkin sekadar opsi untuk menghabiskan liburan singkat. Namun, pasangan asal Amerika Serikat (AS), Libby Rome dan suaminya, justru menjadikan kapal pesiar sebagai hunian utama mereka selama lebih dari tiga tahun terakhir.
Melansir Travel and Leisure, pasangan ini telah menerapkan gaya hidup nomaden selama lebih dari 16 tahun tanpa memiliki aset berupa rumah tinggal maupun kendaraan pribadi.
Pekerjaan Rome yang dilakukan secara jarak jauh memungkinkan keduanya terus berpindah dari satu kapal pesiar ke kapal pesiar lainnya, dengan rata-rata berganti 2-3 kapal dalam setahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menariknya, Rome mengestimasi biaya operasional harian mereka hanya sekitar US$66 atau sekitar Rp1,17 juta per hari. Angka tersebut sudah mencakup seluruh kebutuhan pokok, seperti tempat tinggal, moda transportasi, konsumsi harian, hingga hiburan selama berada di laut.
Gaya hidup minimalis tanpa kepemilikan banyak barang pribadi ini juga membebaskan mereka dari rutinitas pekerjaan rumah tangga yang menyita waktu, seperti merawat perabotan atau membersihkan rumah.
Urusan mencuci pakaian bahkan ditangani langsung oleh pihak kapal secara cuma-cuma. Setelah mengumpulkan lebih dari 15 kali pelayaran atau menghabiskan setidaknya 150 hari bersama maskapai Princess Cruises, pasangan ini berhasil mengantongi status Elite dalam program loyalitas Captain's Circle.
Melalui status tersebut, Rome memperoleh fasilitas laundry gratis. Ia cukup memasukkan pakaian kotor ke dalam kantong khusus dan mengisikan formulir untuk diserahkan kepada petugas kabin. Pakaian bersih akan diantarkan kembali keesokan harinya.
Kendati terus berpindah destinasi, pasangan ini tetap harus mengelola administrasi dan dokumen pribadi. Untuk pengiriman surat-menyurat resmi, Rome menumpangkan alamatnya ke kediaman saudara perempuannya di AS.
Sementara untuk penanganan kondisi medis rutin terkait penyakit diabetes tipe 1 yang diidapnya, Rome menyiasatinya dengan memilih rute pelayaran yang berangkat dan kembali ke pelabuhan yang sama. Skema ini memungkinkannya menemui dokter di kapal saat hari pergantian penumpang.
Meski demikian, fasilitas medis di dalam kapal pesiar sejatinya lebih diprioritaskan untuk menangani kondisi darurat atau penyakit akut, bukan sebagai pengganti layanan kesehatan rutin di darat.
Setelah tiga tahun berlayar, Rome dan suaminya mengaku bahagia dan belum berencana menghentikan gaya hidup ini. Bagi masyarakat yang tertarik mencoba gaya hidup serupa, Rome menyarankan untuk terlebih dahulu menjajal pelayaran berdurasi panjang sebelum benar-benar memutuskan melepas hunian di darat.
(dsd/wiw)


















































