Jakarta, CNN Indonesia --
Hujan deras disertai gelombang dingin merendam tenda-tenda pengungsi Palestina di seluruh Jalur Gaza pada Selasa (24/2) dini hari.
Sejumlah keluarga dievakuasi setelah tenda mereka terendam di al-Mawasi, wilayah barat Khan Younis, Gaza selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang saksi mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa air juga menggenangi tenda di barat Kota Gaza, terutama di kawasan al-Rimal dan sekitar pelabuhan.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan tenda-tenda yang terendam di kawasan itu, sementara warga berusaha mencegah kerusakan lebih lanjut.
Menurut ahli meteorologi Laith Al-Alami, sistem cuaca membawa hujan dan suhu lebih rendah sejak Senin malam dan diperkirakan mereda pada Selasa malam.
Badai musim dingin pertama di bulan Ramadan itu memperburuk kondisi warga yang masih hidup di tenda-tenda darurat di tengah krisis kemanusiaan yang belum mereda.
Pertahanan Sipil Gaza melaporkan menerima banyak panggilan darurat akibat tenda pengungsian yang kebanjiran.
Sejak Desember lalu, badai musim dingin berulang kali merusak dan menerbangkan puluhan ribu tenda. Badai juga telah merobohkan bangunan yang sebelumnya telah rusak akibat serangan.
Puluhan warga dilaporkan tewas atau terluka, dan sebagian meninggal dunia karena suhu dingin ekstrem.
Sekitar 1,9 juta dari 2,4 juta penduduk Gaza masih mengungsi dan tinggal di tenda-tenda yang tak layak dengan fasilitas terbatas setelah rumah mereka hancur selama perang.
Meski gencatan senjata berlaku sejak 10 Oktober 2025, kondisi belum banyak membaik karena pembatasan masuknya bantuan dan bahan tempat tinggal.
Sejak operasi militer dimulai pada 8 Oktober 2023, lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan tewas, lebih dari 171.000 lainnya terluka, dan infrastruktur sipil mengalami kerusakan luas.
(rnp/bac)


















































