CNN Indonesia
Minggu, 23 Agu 2026 01:37 WIB
Ilustrasi. Ternyata ada alasan kenapa orang suka nongkrong. (BlueOlive/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tempat nongkrong kini tak lagi sebatas kafe dengan meja dan kursi. Di sejumlah kota, kawasan yang menggabungkan kuliner, belanja, hiburan, ruang terbuka, hingga berbagai aktivitas sosial mulai menjadi pilihan masyarakat untuk menghabiskan waktu.
Orang datang bukan selalu karena memiliki keperluan tertentu. Sebagian ingin makan, bertemu teman, bekerja dari luar rumah, mencari suasana baru, atau sekadar menghabiskan waktu tanpa tujuan yang spesifik.
Perubahan tersebut membuat tempat nongkrong berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan. Satu kawasan bahkan dapat memenuhi berbagai kebutuhan sekaligus. Pengunjung bisa sarapan, bekerja dari kedai kopi, makan siang, berbelanja, lalu bertemu teman atau menikmati kuliner pada malam hari tanpa harus berpindah terlalu jauh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena ini membuat pengelola kawasan mulai memperhatikan pengalaman pengunjung. Selain menyediakan tempat usaha, kawasan dirancang dengan akses yang mudah, area terbuka, ruang duduk, pilihan kuliner beragam, hingga aktivitas yang dapat membuat pengunjung bertahan lebih lama.
Tempat nongkrong sebagai ruang sosial
Bagi masyarakat urban, keberadaan tempat semacam ini juga berkaitan dengan kebutuhan akan ruang untuk bersosialisasi di luar rumah dan tempat kerja. Konsep tersebut dikenal sebagai third place, yakni ruang di luar rumah dan tempat kerja yang memungkinkan seseorang bertemu orang lain, berinteraksi, atau sekadar menikmati waktu luang.
Mengutip World Happiness Report, kafe, taman, perpustakaan, hingga ruang publik dapat berfungsi sebagai third place selama memiliki suasana yang membuat orang nyaman untuk berlama-lama. Karena itu, pengalaman berada di sebuah kawasan kini menjadi sama pentingnya dengan aktivitas yang dilakukan di dalamnya.
Perubahan tersebut terlihat dari semakin banyaknya kawasan yang menjadikan kuliner sebagai salah satu daya tarik utama, tetapi tidak berhenti pada aktivitas makan. Di Gading Serpong misalnya, salah satu kawasan kuliner yang dikembangkan Paramount, Taman Rasa, tercatat memiliki 58 tenant kuliner aktif hingga Juli 2026.
Pengembang juga menyebut terdapat sekitar 707 bisnis baru yang bergabung di kawasan tersebut sejak Januari hingga Juli 2026, dengan 104 di antaranya bergabung sepanjang Juli.
Direktur Paramount Land Chrissandy Dave mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin aktifnya kegiatan masyarakat di kawasan tersebut.
"Dinamika pertumbuhan bisnis di Paramount Gading Serpong juga menunjukkan tingginya aktivitas ekonomi sekaligus daya tarik kawasan sebagai destinasi usaha," kata dia dalam keterangannya.
Meski demikian, perkembangan tempat nongkrong semacam ini tidak semata-mata berkaitan dengan bertambahnya jumlah tempat usaha. Ada perubahan cara masyarakat menikmati ruang perkotaan yang ikut mendorongnya.
Bukan cuma soal makan
Kawasan kuliner dapat berkembang menjadi tempat bertemu komunitas, menikmati pertunjukan, membuat konten, bekerja dari kafe, hingga sekadar berjalan-jalan. Itulah sebabnya sejumlah kawasan kini mencoba menggabungkan restoran dan kafe dengan toko, ruang terbuka, area bermain, fasilitas hiburan, maupun tempat untuk menggelar kegiatan komunitas.
Ketika satu tempat menyediakan banyak pilihan kegiatan, pengunjung memiliki lebih banyak alasan untuk bertahan. Kenyamanan juga menjadi faktor penting. Akses yang mudah, tempat duduk yang memadai, suasana yang nyaman, hingga lingkungan yang menarik secara visual dapat membuat seseorang memilih menghabiskan waktu lebih lama.
Selain itu, ada faktor sosial. Orang tidak hanya mencari tempat untuk membeli makanan atau barang, tetapi juga tempat untuk bertemu orang lain. Tempat nongkrong pada akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai ruang konsumsi, tetapi juga ruang interaksi.
Perubahan ini turut memengaruhi cara kawasan perkotaan dirancang. Mengutip Pubmed, jika sebelumnya pusat kegiatan lebih banyak berorientasi pada fungsi, kini pengalaman pengunjung menjadi bagian yang semakin diperhatikan.
Kawasan yang ramai bukan hanya yang memiliki banyak toko, tetapi juga yang mampu menciptakan alasan bagi orang untuk datang kembali.
Tempat nongkrong mungkin tidak lagi sekadar tempat untuk makan atau membeli sesuatu, ia menjadi ruang untuk bekerja, bertemu, bersantai, mencari hiburan, hingga sekadar menikmati waktu tanpa agenda. Barangkali itu pula yang membuat kita sering datang tanpa rencana, lalu baru pulang beberapa jam kemudian.
(tis/tis)


















































