Jakarta, CNN Indonesia --
Tes darah untuk mendeteksi Alzheimer terus berkembang. Pemeriksaan ini bahkan dapat menemukan tanda biologis penyakit sebelum gangguan daya ingat atau gejala kognitif lainnya muncul.
Lantas, apakah artinya siapa pun kini bisa menjalani tes darah untuk mengetahui risiko Alzheimer sejak dini?
Alzheimer merupakan penyakit pada otak yang menyebabkan penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir secara bertahap. Penyakit ini menjadi salah satu penyebab demensia yang paling umum dan biasanya berkembang perlahan selama bertahun-tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Alzheimer, terjadi sejumlah perubahan di otak, termasuk penumpukan protein beta-amiloid dan tau yang abnormal. Perubahan tersebut dapat terjadi jauh sebelum gejala muncul.
Salah satu penanda yang banyak diteliti adalah p-tau217, yakni jenis protein yang dapat mencerminkan perubahan biologis yang berkaitan dengan Alzheimer.
Mengutip AP News, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah memberikan izin untuk sejumlah tes darah yang membantu dokter menentukan apakah Alzheimer menjadi penyebab gangguan kognitif pada pasien yang sudah mengalami gejala.
Artinya, tes darah memang dapat membantu proses diagnosis. Namun, pemeriksaan tersebut belum berarti dapat digunakan sebagai pemeriksaan rutin untuk mengetahui apakah orang sehat akan mengalami Alzheimer di masa depan.
Hasil positif belum tentu berarti Alzheimer
Hal ini menjadi salah satu alasan para ahli masih berhati-hati terhadap penggunaan tes darah pada orang yang belum mengalami gejala. Pakar pemeriksaan Alzheimer dari Banner Health, Nicholas Ashton, menyampaikan bahwa orang yang tidak memiliki gejala sebaiknya tidak menjalani tes tersebut di luar konteks penelitian.
Pasalnya, seseorang dapat memiliki kadar penanda Alzheimer yang tinggi tanpa pernah mengalami gangguan kognitif. Tes juga dapat menghasilkan false positive atau hasil positif palsu.
Karena itu, hasil tes tidak dapat dibaca secara terpisah. Dokter tetap perlu mempertimbangkan gejala, riwayat kesehatan, serta hasil pemeriksaan lainnya sebelum menentukan diagnosis.
Bagaimana dengan orang yang belum mengalami gejala?
Penelitian memang mulai mencari tahu apakah penanda Alzheimer dalam darah dapat digunakan untuk memperkirakan risiko penyakit sebelum gejala muncul.
Salah satu studi menemukan bahwa orang lanjut usia dengan kadar p-tau217 yang sangat tinggi memiliki risiko 38 persen mengalami gangguan kognitif dalam lima tahun. Risiko tersebut meningkat ketika periode pengamatan diperpanjang hingga 10 tahun.
Namun, angka tersebut tetap menunjukkan risiko, bukan kepastian bahwa seseorang akan mengalami Alzheimer.
Ini merupakan perbedaan penting antara mendeteksi tanda biologis penyakit dan memprediksi apa yang akan terjadi pada seseorang di masa depan. Memiliki penanda biologis yang berkaitan dengan Alzheimer tidak berarti seseorang pasti akan mengalami demensia.
Jadi, perlu tes darah atau tidak?
Bagi orang yang mengalami gangguan memori atau gejala kognitif lainnya, tes darah dapat menjadi salah satu alat yang membantu dokter mencari penyebab kondisi tersebut.
Sementara bagi orang sehat yang belum mengalami gejala, para ahli masih menyarankan agar tes semacam ini dilakukan dalam konteks penelitian, bukan sebagai pemeriksaan rutin.
Penelitian mengenai penggunaan tes darah untuk mendeteksi Alzheimer sebelum gejala muncul masih berlangsung, termasuk untuk mengetahui apakah deteksi lebih awal dapat membantu menentukan penanganan yang tepat.
Untuk saat ini, menjaga kesehatan otak tetap dapat dilakukan tanpa mengetahui hasil tes. Mengendalikan tekanan darah dan diabetes, tidak merokok, rutin berolahraga, mencukupi kebutuhan tidur, serta tetap aktif secara sosial dan mental merupakan sejumlah langkah yang berkaitan dengan kesehatan otak.
(anm/tis)

Ilustrasi. Tes darah bisa deteksi alzheimer. (iStock/Shidlovski)

















































