Wilayah Indonesia Berpotensi Paling Goyang Jika Terjadi Gempa

2 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerhati Gempa dan Tsunami Daryono menyebut ada potensi perbedaan guncangan yang dirasakan sebuah wilayah yang berdekatan saat terjadi gempa bumi. Perbedaan tersebut dikarenakan karakteristik tanah dan batuan wilayah tersebut.

Daryono mengatakan guncangan gempa tidak hanya dipengaruhi besarnya magnitudo, jarak dari pusat gempa, serta kedalamannya.

"Tapi ingat kondisi geologi atau kondisi tanah sangat menentukan besarnya guncangan. Kawasan tanah lunak akan berguncang hebat jika dibanding kondisi tanah keras dan batuan," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (19/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini penyebab sebaran kerusakan akibat gempa tidak merata," imbuhnya.

Ia mencontohkan bagaimana Gempa Bantul pada 2006 dengan pusat gempa terletak di perbukitan Nglanggeran. Di bukit yang menjadi pusat gempa tersebut, katanya, masih banyak rumah yang utuh atau mengalami kerusakan yang minimal.

Namun, wilayah di dataran Bantul yang lebih rendah disebut sangat hancur, padahal lokasinya jauh dari pusat atau sumber gempa.

"Kenapa? Di dataran Bantul itu tanah lunak, berair, maka ada likuefaksi spot spot kecil. Di sini banyak rumah roboh," tuturnya.

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah tanah lunak semacam ini untuk berhati-hati. Pasalnya, wilayah semacam itu akan merespons gempa dengan sangat kuat karena terjadi resonansi gelombang gempa.

Wilayah yang rawan likuefaksi saat terjadi gempa di antaranya wilayah dengan tanah lunak dekat rawa atau wilayah dengan lahan yang ada eceng gondok, genjer, atau teratai.

Terpisah, Imam Achmad Sadisun, ahli geologi dari ITB, menjelaskan likuifaksi secara sederhana dapat diartikan sebagai perubahan material yang padat, dalam hal ini berupa endapan sedimen atau tanah sedimen, yang akibat gempa, material tersebut berubah karakternya seperti cairan.

Menurut Imam, likuifaksi hanya bisa terjadi pada tanah yang jenuh air [saturated]. Air tersebut terdapat di antara pori-pori tanah dan membentuk tekanan air pori.

"Karena adanya gempa bumi yang umumnya menghasilkan gaya guncangan yang sangat kuat dan tiba-tiba, tekanan air pori tersebut naik seketika, hingga terkadang melebihi kekuatan gesek tanah tersebut. Proses itulah yang menyebabkan likuifaksi terbentuk dan material pasir penyusun tanah menjadi seakan melayang di antara air," jelas Imam pada 2018, mengutip laman resmi ITB.

Menurut Imam likuifaksi umumnya terjadi pada gempa di atas Magnitudo 5, dengan kedalaman sumber gempanya termasuk dalam kategori dangkal. Material yang terlikuifaksi umumnya berada pada kedalaman sekitar 20 meter, meski terkadang bisa lebih, tergantung penyebaran tanah.

Ia mengatakan likuifaksi hanya terjadi di bawah muka air tanah setempat, tidak terjadi di atas muka air tanah.

(lom/mik)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |