7 Hal ini Menunjukan Wajah Orang Narsistik yang Perlu Diwaspadai

1 hour ago 3

CNN Indonesia

Rabu, 18 Feb 2026 10:00 WIB

Senyum palsu hingga tatapan mengintimidasi bisa jadi tanda narsistik. Kenali polanya tanpa buru-buru menghakimi. Ilustrasi. Orang narsis bisa dilihat dari raut muka. (iStockphoto/Khosrork)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Wajah sering disebut sebagai cermin emosi. Dari raut muka, orang lain bisa menangkap kebahagiaan, kemarahan, hingga ketulusan.

Namun, pada sebagian orang dengan kecenderungan narsistik, ekspresi wajah kerap memunculkan sinyal yang terasa berbeda, mulai dari senyum yang tampak tidak tulus hingga tatapan yang mengintimidasi.

Ekspresi-ekspresi ini biasanya muncul berulang dalam interaksi sosial dan dapat menjadi petunjuk awal adanya kebutuhan berlebihan akan pengakuan atau kecenderungan manipulatif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir NeuroLaunch, sejumlah penelitian menyebutkan bahwa individu dengan sifat narsistik sering menunjukkan pola ekspresi wajah yang berbeda dibandingkan kebanyakan orang. Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa satu ekspresi saja tidak cukup untuk menilai kepribadian seseorang.

Pola tersebut perlu diamati secara konsisten dan dilihat bersamaan dengan perilaku sehari-hari. Mengutip Embrace Inner Chaos, berikut beberapa ciri wajah yang kerap dikaitkan dengan sifat narsistik:

1. Senyum palsu

Pada orang dengan kecenderungan narsistik, senyum sering kali hanya terlihat di bagian mulut. Area mata tetap datar dan tidak menunjukkan kehangatan. Akibatnya, senyum terasa aneh atau terkesan dibuat-buat.

Bahkan dalam situasi serius, seperti saat ditegur atau membahas hal emosional, mereka bisa tetap tersenyum. Ekspresi yang tidak sesuai konteks ini dapat membuat lawan bicara merasa bingung atau tidak nyaman.

2. Senyum sinis yang meremehkan

Ciri lain yang cukup jelas adalah senyum miring di satu sisi bibir atau sering disebut smirk. Ekspresi ini memberi kesan merendahkan atau merasa lebih unggul.

Senyum seperti ini biasanya muncul sangat cepat dan berlangsung singkat, sehingga mudah terlewat. Namun, jika diperhatikan, ekspresi tersebut sering muncul saat mereka merasa lebih pintar, lebih hebat, atau ketika melihat kesalahan orang lain.

3. Tatapan kosong saat seharusnya berempati

Dalam situasi yang membutuhkan empati, seperti ketika seseorang bercerita tentang kesedihan, individu dengan sifat narsistik bisa menunjukkan tatapan kosong tanpa ekspresi. Wajah terlihat datar, minim reaksi, dan tidak menunjukkan respons emosional yang sesuai.

Penelitian menunjukkan hal ini dapat berkaitan dengan rendahnya respons empati. Tatapan semacam ini kerap membuat lawan bicara merasa tidak didengar atau tidak dihargai.

4. Kontak mata terlalu lama dan mengintimidasi

Sebaliknya, orang narsistik juga bisa melakukan kontak mata terlalu lama. Tatapan terasa tajam, intens, dan kadang membuat orang lain tertekan.

Secara umum, kontak mata normal berlangsung beberapa detik. Namun, pada individu yang ingin mendominasi, tatapan bisa dipertahankan lebih lama dari biasanya. Mereka juga cenderung jarang berkedip, sehingga kesannya semakin mengintimidasi.

5. Gerakan alis berlebihan

Alis berperan penting dalam menunjukkan emosi. Pada beberapa orang dengan kecenderungan narsistik, gerakan alis tampak lebih dramatis atau berlebihan.

Misalnya, alis tiba-tiba terangkat saat mengharapkan pujian atau pengakuan. Ekspresi ini bisa menjadi bagian dari upaya mencari perhatian atau validasi dari orang lain.

6. Perubahan ekspresi mendadak saat marah

Salah satu ciri yang cukup mencolok adalah perubahan wajah yang sangat cepat dari tenang menjadi marah. Wajah bisa tiba-tiba tegang, rahang mengeras, dan ekspresi berubah drastis.

Namun, setelah itu ekspresi dapat kembali normal dengan cepat, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Perubahan mendadak ini kerap disebut sebagai bentuk ledakan ego, terutama ketika mereka merasa tersinggung atau dikritik.

7. Ekspresi yang bertentangan

Tanda lain yang lebih halus adalah munculnya ekspresi yang tidak selaras. Misalnya, bibir tersenyum tetapi mata terlihat marah, atau wajah tampak ramah namun tatapannya terasa dingin.

Ketidaksesuaian ini sering membuat orang lain merasa ada yang tidak beres, meski sulit menjelaskannya secara langsung.

Meski ada sejumlah ciri wajah yang sering dikaitkan dengan sifat narsistik, penting untuk diingat bahwa kepribadian tidak bisa dinilai hanya dari ekspresi. Budaya, kebiasaan, dan kondisi emosional sementara juga memengaruhi mimik wajah seseorang.

Ciri-ciri tersebut baru relevan jika muncul secara konsisten dan disertai perilaku lain, seperti kebutuhan berlebihan akan pujian, kurang empati, serta kecenderungan memanipulasi.

Membaca ekspresi wajah bisa menjadi petunjuk awal. Namun, memahami karakter seseorang tetap membutuhkan pengamatan yang lebih menyeluruh, bukan sekadar menilai dari raut wajah.

(nga/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |