CNN Indonesia
Selasa, 02 Jun 2026 17:00 WIB
Ilustrasi. Sebuah penelitian terbaru pada April 2026 mengemukakan, alzheimer dapat dideteksi dini melalui tes darah sederhana. (iStock/Sewcream)
Jakarta, CNN Indonesia --
Selama ini, diagnosis Alzheimer umumnya dilakukan setelah seseorang mulai menunjukkan gejala penurunan kognitif, seperti mudah lupa, bingung, atau kesulitan mengambil keputusan.
Namun, sebuah studi baru menunjukkan, risiko Alzheimer mungkin dapat dikenali lebih dini melalui tes darah rutin. Caranya, yakni dengan mengecek neutrofil menggunakan tes neutrophil to lymphocyte ratio (NLR).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NLR merupakan perbandingan antara jumlah neutrofil dan limfosit, dua jenis sel darah putih yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh.
Adapun mengutip laman Cleveland Clinic, neutrofil sendiri adalah salah satu jenis sel darah putih yang menjadi garis pertahanan pertama tubuh dalam melawan infeksi.
Lalu, bagaimana hubungan antara nilai NLR dalam tes darah dengan risiko Alzheimer? Berikut penjelasan berdasarkan hasil studi terbaru.
Makin tinggi nilai NLR, risiko Alzheimer bisa Lebih besar
Sebuah studi baru yang dipimpin oleh peneliti dari NYU Langone Health menunjukkan, nilai NLR tidak hanya mencerminkan kondisi kesehatan seseorang saat ini, tetapi juga mungkin bisa mengidentifikasi risiko Alzheimer dan demensia terkait, bahkan sebelum gejala muncul.
Studi ini dilakukan oleh Tianshe He dkk., lalu dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer's & Dementia pada April 2026. Penelitian tersebut melibatkan hampir 400.000 pasien.
Data yang dianalisis mencakup hampir 285.000 pasien yang dirawat di empat rumah sakit NYU Langone, New York AS, serta sekitar 85.000 pasien dari Veterans Health Administration AS.
"Studi kami adalah investigasi skala besar pertama yang menunjukkan bahwa metrik neutrofil berhubungan dengan peningkatan risiko demensia pada manusia," kata penulis utama studi ini, Tianshe He, seperti dikutip dari SciTechDaily.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan memilih pengukuran NLR paling awal yang memenuhi kriteria, yaitu dilakukan saat pasien berusia minimal 55 tahun, berada dalam periode studi, dan terjadi sebelum adanya diagnosis Alzheimer atau demensia.
Setelah itu, para peneliti memantau apakah pasien-pasien tersebut kemudian mengalami demensia dalam periode penelitian.
Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten. Orang dengan nilai NLR lebih tinggi memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami Alzheimer atau demensia lain, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Menariknya, hubungan antara NLR tinggi dan risiko demensia tampak lebih kuat pada kelompok tertentu. Pada pasien perempuan, nilai NLR yang lebih tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia.
Meski begitu, peneliti menegaskan bahwa temuan ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Artinya, NLR tinggi belum tentu menjadi penyebab Alzheimer, tetapi dapat menjadi penanda adanya risiko yang perlu diperhatikan.
"Studi ini dan studi-studi mendatang akan menunjukkan apakah neutrofil hanyalah penanda penyakit Alzheimer atau secara aktif menyebabkan perkembangan demensia," kata Jaime Ramos-Cejudo yang juga terlibat dalam penelitian ini.
Ramos-Cejudo melanjutkan, untuk saat ini pihaknya berharap NLR bisa jadi alat diagnostik awal bagi orang-orang yang berisiko terkena Alzheimer dan demensia.
Bagaimana diagnosis Alzheimer selama ini dilakukan?
Selama ini, diagnosis Alzheimer biasanya dilakukan melalui sejumlah kombinasi pemeriksaan medis. Mengutip NHS UK, dokter atau spesialis akan menilai kemampuan mental pasien, termasuk daya ingat, kemampuan berpikir, bahasa, dan pemecahan masalah melalui tes kognitif.
Lebih lanjut, dokter dapat menyarankan pemeriksaan pencitraan otak, seperti CT scan atau MRI, untuk mencari tanda kerusakan otak dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari gejala yang muncul. Pemeriksaan lain juga dapat dilakukan sesuai kondisi pasien.
Berbagai pemeriksaan tersebut umumnya baru dilakukan ketika seseorang sudah menunjukkan gejala. Oleh karena itu, temuan tentang potensi tes darah NLR membuka peluang baru untuk deteksi dini Alzheimer dan demensia.
Jika hasil penelitian lanjutan mendukung temuan ini, pemeriksaan NLR dapat menjadi alat skrining awal yang membantu menentukan siapa saja yang memerlukan evaluasi lebih mendalam.
(rti)
Add
as a preferred source on Google


















































