Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat mengungkapkan alasan belum merilis teks nota kesepahaman (MoU) dengan Iran, jelang penandatanganan kesepakatan itu pada Jumat (19/6) pekan ini.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan penundaan tersebut terkait permintaan diplomatik dari mediator konflik AS-Iran, yakni Qatar dan Pakistan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada beberapa prosedur diplomatik yang sedang berjalan di sini, di mana Qatar dan Pakistan menjadi mediator dalam seluruh negosiasi ini dengan Iran, dan mereka pada dasarnya meminta kami mengatur urutan bagaimana kami menjalankan proses ini," kata Vance pada Selasa (16/6) dalam acara The Five Fox News.
"Kami akan senang merilis perjanjian itu hari ini atau besok. Kami mungkin merilisnya paling lambat hari Jumat, tetapi pada dasarnya, dalam konteks yang lebih luas, itu tidak ada masalah," imbuh dia.
Vance juga mengatakan upacara penandatanganan MoU yang bakal digelar 19 Juni di Swiss menjadi alasan utama penundaan tersebut.
"Hari Jumat, tentu saja, adalah upacara penandatanganan resmi, dan mereka memulai negosiasi ini, dan saat itulah mereka meminta kami menundanya. Kami coba mempercepat prosesnya," kata dia.
Vance menggambarkan MoU ini sebagai kesepakatan sederhana, yang fokus untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
"Jika mereka secara fundamental mengubah diri mereka sebagai sebuah negara, maka Amerika Serikat akan menang dalam situasi apa pun," ucap dia.
Penandatangan MoU akan digelar di Burgenstok, Swiss pada 19 Juni.
Delegasi Iran akan dipimpin ketua DPR sekaligus mantan komandan Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohammed Bagher Ghalibaf. Sementara itu, dari pihak AS belum ada kepastian siapa yang bakal memimpin delegasi.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan Wakil Presiden JD Vance bakal menghadiri upacara penandatanganan MoU.
Awal pekan ini, Vance turut mengonfirmasi akan ikut merayakan upacara tersebut di Swiss. Dia juga mengatakan tak menutup kemungkinan Trump ikut hadir.
MoU AS-Iran berisi pembukaan Selat Hormuz, pencabutan sanksi terhadap Iran, hingga masa depan program nuklir Iran.
Kesepakatan itu juga diharapkan menjadi jangkar negosiasi kedua negara untuk betul-betul mengakhiri perang dan mencapai perdamaian abadi.
(isa/dna)
Add
as a preferred source on Google


















































