Jakarta, CNN Indonesia --
Turki berisiko perang dengan Israel usai pasukan Zionis itu menggempur pangkalan udara di dekat Aleppo, Suriah, Al Duhur. Pangkalan ini hanya berjarak 70 km dari Turki.
Risiko itu tertera dalam tulisan analisis yang dipublikasikan media Turki, Turkiye Today, yang dikutip Middle East Monitor (MEMO), pada Jumat (28/8). Analisis itu menjelaskan dampak serangan Israel ke Suriah terhadap negara pimpinan Recep Tayyip Erdogan.
Dalam laporan tersebut, para analis menduga konfrontasi militer langsung antara Israel dan Turki tetap tidak mungkin terjadi. Namun, mereka mewanti-wanti penempatan militer dan kepentingan keamanan yang saling bersaing di Suriah bisa meningkatkan risiko eskalasi lebih lanjut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di rilis resmi Israel usai serangan, mereka menyatakan operasi tersebut dilakukan untuk mencegah Turki membangun kehadiran militer di fasilitas tersebut.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz sama-sama mengatakan intelijen Israel mengindikasikan Turki sedang bersiap menempatkan pasukan dan peralatan di pangkalan udara tersebut.
Sumber militer Israel juga mengatakan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sudah mengumpulkan informasi intelijen soal rencana Turki mengerahkan personel, drone, dan sistem pertahanan udara di lokasi tersebut.
Pengerahan semacam itu, kata dia, bisa membatasi kebebasan bertindak Israel di wilayah udara Suriah dan mengubah keseimbangan strategis di kawasan.
Namun, Turki menolak alasan Israel. Mereka mengecam dan menuding Netanyahu mengejar kebijakan ekspansionis dan destabilisasi di kawasan jelang pemilihan umum pada Oktober mendatang.
Di waktu yang sama, pemerintah Turki menyatakan akan terus bekerja sama dengan pemerintah Suriah "atas dasar yang sah untuk mewujudkan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran."
Kembali lagi ke analisis yang dirilis media Turki, para pakar juga menyoroti peran Pakistan terhadap Ankara jika mereka diserang langsung menyusul pakta pertahanan yang baru ditandatangani, Pakta Makkah.
Pakta Makkah berisi tiga negara yakni Turki, Pakistan, dan Arab Saudi. Perjanjian ini juga membuka peluang bagi negara lain yang tertarik bergabung.
Para analisis menduga keterlibatan Pakistan kemungkinan akan bertahap dan bukan dalam bentuk konfrontasi langsung dengan Israel. Langkah yang mungkin diambil mencakup bantuan logistik dan penyediaan kemampuan pertahanan udara.
Namun, sejauh mana kewajiban Pakistan melakukan intervensi masih belum jelas. Para analisis mencatat bahasa yang digunakan dalam pengaturan pertahanan bisa multi tafsir dan belum jelas.
Selain itu, PM Netanyahu juga pernah memasang baliho besar bergambar empat pemimpin negara yang dianggap sebagai musuhnya.
Empat orang tokoh tersebut ialah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, pemimpin Hizbullah, dan Wali Kota New York Zohran Mamdani.
Baliho dipasang baru-baru ini jelang pemilihan umum yang akan digelar Oktober.
Baliho itu terpasang di jalan raya utama Tel Aviv sejak pekan lalu. Foto Erdogan yang disandingkan dengan Mojtaba disebut menunjukkan Netanyahu menempatkan Turki sebagai musuh Israel.
Selain itu, intelijen Israel juga mulai menganggap Turki sebagai ancaman keamanan negara yang sama dengan bahkan lebih besar dari Iran, musuh bebuyutan Tel Aviv.
(isa/rds)


















































