CNN Indonesia
Selasa, 03 Feb 2026 19:30 WIB
Ilustrasi. Perangkat dengan teknologi bluetooth memang memancarkan radiasi. Lantas, bagaimana dengan headphone bluetooth, apakah aman bagi otak? (iStock/AsiaVision)
Jakarta, CNN Indonesia --
Headphone bluetooth kini banyak dipakai untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Namun, di balik kepraktisan dan kenyamanan menggunakannya, sebagian orang bertanya-tanya apakah penggunaan headphone nirkabel ini aman bagi otak?
Perangkat dengan teknologi bluetooth memang memancarkan radiasi. Meski begitu, keberadaan radiasi tersebut tidak otomatis berarti penggunaan earbud atau headphone bluetooth berbahaya bagi kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip dari Health, pada 2015 sekelompok ilmuwan menandatangani sebuah petisi yang menyatakan keprihatinan serius terhadap potensi risiko kesehatan dari paparan medan elektromagnetik non-ionisasi atau non-ionizing electromagnetic field (EMF), termasuk risiko kanker. Semua perangkat bluetooth bekerja menggunakan teknologi EMF.
Namun, Institut Kanker Nasional menyebutkan tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan pasti antara penggunaan perangkat nirkabel dengan kanker atau penyakit lain.
Institut Kanker Nasional justru merekomendasikan penggunaan bluetooth sebagai alternatif yang lebih aman saat menggunakan ponsel.
Bluetooth merupakan teknologi yang memungkinkan dua perangkat terhubung secara nirkabel dalam jarak dekat. Teknologi ini bekerja menggunakan gelombang radio frekuensi pendek.
Perangkat bluetooth memancarkan radio frequency (RF) radiation, yang termasuk dalam radiasi elektromagnetik. Radiasi jenis ini juga dihasilkan oleh ponsel, radio AM dan FM, serta televisi.
Profesor emeritus bioengineering dari University of Pennsylvania, Ken Foster mengatakan perangkat bluetooth memancarkan radiasi yang lebih rendah dibandingkan ponsel.
Namun, paparan bisa meningkat jika seseorang menggunakan headphone bluetooth selama berjam-jam setiap hari. Meski begitu, paparannya tetap lebih kecil dibandingkan jika seseorang menempelkan ponsel langsung ke telinga saat menelepon.
Apakah bluetooth berbahaya bagi otak?
Radiasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu radiasi non-ionisasi dan radiasi ionisasi. Radiasi non-ionisasi memiliki energi rendah. Radiasi ini dapat menggerakkan atom, tetapi tidak cukup kuat untuk merusak struktur atom atau DNA.
Sementara itu, radiasi ionisasi seperti sinar-X dan limbah radioaktif memiliki energi tinggi dan dapat merusak jaringan serta DNA.
Kekhawatiran utama masyarakat adalah paparan radiasi bluetooth yang dekat dengan kepala dan otak. Namun, bluetooth termasuk radiasi non-ionisasi yang tidak bersifat karsinogenik atau tidak menyebabkan kanker.
Sejauh ini, penelitian belum menemukan bukti kuat yang mengaitkan paparan radiasi RF dari perangkat nirkabel dengan dampak kesehatan serius, termasuk kanker. Meski demikian, para peneliti menilai studi lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan dampak jangka panjangnya.
Menurut Foster, risiko penggunaan headphone yang lebih nyata bukanlah kanker, melainkan keselamatan dan pendengaran.
Ia mencontohkan, berjalan di jalan raya sambil mendengarkan musik dengan volume tinggi jauh lebih berbahaya dibandingkan risiko tumor yang masih bersifat teori.
Melansir dari Theskimm, berikut merupakan cara aman menjaga kesehatan telinga dan otak:
- Batasi penggunaan dalam waktu lama, saran penggunaan headphone selama 60-90 menit per hari.
- Kurangi volume, jaga volume tidak lebih dari 60-80 persen.
- Hindari tidur dengan menggunakan headphone.
- Pertimbangkan gunakan headphone berkabel, ini menghilangkan kekhawatiran tentang radiasi RF.
Meski penelitian lanjutan masih diperlukan, para ahli menilai radiasi dari headphone bluetooth bukan ancaman serius bagi kesehatan.
(nga/fef)

















































