CNN Indonesia
Selasa, 03 Feb 2026 09:45 WIB
Ilustrasi. Bukan cuma garam, beberapa makanan juga ada yang bisa menyebabkan darah tinggi. (iStock/GlobalStock)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tekanan darah tinggi atau hipertensi kerap dikaitkan dengan konsumsi garam berlebih. Padahal, bukan hanya makanan asin yang bisa memicu lonjakan tekanan darah.
Sejumlah makanan olahan diketahui mengandung kombinasi garam, gula tambahan, serta lemak jenuh dan lemak trans yang tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering, kandungan tersebut dapat berkontribusi pada peningkatan tekanan darah.
Hipertensi sendiri merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung dan pembuluh darah. Karena itu, mengenali jenis makanan yang perlu dibatasi menjadi langkah awal yang penting untuk mencegah komplikasi kesehatan di kemudian hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir Verywell Health, berikut daftar makanan yang sebaiknya dihindari atau dibatasi oleh pengidap tekanan darah tinggi:
1. Makanan beku siap saji
Pizza beku, burrito, hingga aneka makanan siap saji umumnya mengandung natrium dalam jumlah tinggi. Garam ditambahkan untuk memperpanjang masa simpan sekaligus memperkuat rasa.
Dalam satu porsi, beberapa makanan beku bahkan bisa mengandung hingga seperempat dari batas asupan natrium harian yang dianjurkan, yaitu maksimal 2.300 miligram per hari. Asupan natrium berlebih diketahui berkaitan erat dengan peningkatan risiko hipertensi.
2. Daging olahan
Sosis, kornet, ham, dan daging asap diawetkan menggunakan garam, nitrit, serta nitrat. Sejumlah penelitian menunjukkan, nitrit dapat berkontribusi terhadap kenaikan tekanan darah melalui mekanisme stres oksidatif.
Tak hanya itu, daging olahan juga cenderung tinggi lemak jenuh yang berdampak buruk bagi kesehatan jantung jika dikonsumsi terlalu sering.
3. Minuman manis
Minuman ringan, minuman energi, hingga jus kemasan menjadi salah satu sumber utama gula tambahan. Konsumsi minuman manis secara berlebihan dikaitkan dengan peradangan dan peningkatan tekanan darah.
Beberapa studi menunjukkan, orang dengan konsumsi minuman manis tinggi memiliki risiko hipertensi sekitar 12 persen lebih besar dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.
4. Camilan kemasan
Keripik, biskuit, dan aneka makanan ringan kemasan umumnya tinggi natrium serta lemak jenuh atau lemak trans. Kombinasi ini dapat memicu peradangan, stres oksidatif, serta gangguan profil lipid.
Kondisi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah, terutama jika camilan kemasan dikonsumsi secara rutin.
5. Makanan cepat saji
Fast food dikenal mengandung garam, gula tambahan, serta lemak jenuh dan trans dalam jumlah tinggi. Kandungan tersebut digunakan untuk menjaga konsistensi rasa dan memperpanjang daya simpan.
Sejumlah studi menunjukkan, konsumsi makanan cepat saji yang tinggi berkaitan dengan risiko hipertensi yang lebih besar. Meski konsumsi sesekali masih bisa ditoleransi bagi sebagian orang sehat, pengidap tekanan darah tinggi disarankan lebih selektif memilih menu.
6. Makanan yang digoreng
Ayam goreng, kentang goreng, dan berbagai makanan gorengan lainnya merupakan sumber lemak jenuh dan lemak trans, serta natrium. Konsumsi gorengan dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi dan obesitas.
Penelitian juga menunjukkan, frekuensi konsumsi gorengan yang tinggi berhubungan dengan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi, terutama pada perempuan.
7. Alkohol
Alkohol dapat meningkatkan tekanan darah baik secara langsung maupun dalam jangka panjang. Konsumsi tiga gelas alkohol atau lebih per hari diketahui meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit jantung.
Selain itu, alkohol memengaruhi sistem saraf pusat, yang dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah sesaat setelah dikonsumsi.
8. Makanan kaleng tinggi garam
Sebagian produk makanan kaleng mengandung natrium tinggi sebagai bahan pengawet. Tanpa disadari, konsumsi makanan kaleng dapat menyumbang asupan garam berlebih.
Membilas makanan kaleng sebelum dikonsumsi dapat membantu menurunkan kadar natriumnya. Beberapa penelitian juga menyebutkan, lapisan kaleng tertentu mengandung bisphenol A (BPA) yang diduga dapat memengaruhi hormon dan tekanan darah, meski masih memerlukan kajian lanjutan.
Sebaliknya, pola makan kaya buah dan sayur, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta produk susu rendah lemak dikaitkan dengan risiko hipertensi yang lebih rendah. Asupan serat dan kalium juga berperan penting dalam membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.
(nga/tis)

















































