CNN Indonesia
Senin, 10 Agu 2026 23:30 WIB
Ilustrasi. Pakai cara ini untuk usir lalat, agar tidak hinggap di makanan. (iStockphoto/RHJ)
Jakarta, CNN Indonesia --
Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan video makanan yang dipenuhi telur lalat. Pemandangan tersebut tentu membuat banyak orang merasa jijik sekaligus khawatir, apalagi jika makanan itu sempat dikonsumsi.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Lalat merupakan salah satu serangga yang kerap menjadi pembawa berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Saat hinggap di makanan, lalat bukan hanya berpotensi meninggalkan kuman, tetapi juga dapat bertelur tanpa disadari.
Telur lalat berukuran sangat kecil sehingga sering luput dari perhatian. Jika makanan yang telah terkontaminasi dikonsumsi, risikonya bukan sekadar gangguan pencernaan, tetapi juga dapat memicu infeksi tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahaya telur lalat jika termakan
Telur lalat yang masuk ke dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, meski kasusnya tergolong jarang.
Salah satu risiko yang dapat terjadi adalah intestinal myiasis, yaitu kondisi ketika larva lalat berkembang di saluran pencernaan. Selain itu, lalat juga dikenal sebagai pembawa berbagai bakteri karena sebelumnya dapat hinggap di tempat-tempat kotor seperti sampah, bangkai hewan, atau makanan yang membusuk.
Karena itu, menjaga makanan tetap tertutup dan mencegah lalat masuk ke dalam rumah menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kontaminasi.
Cara ampuh mengusir lalat dari rumah
Ada banyak cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mengusir lalat tanpa harus menggunakan bahan kimia. Bahkan, beberapa di antaranya hanya memanfaatkan bahan yang sudah tersedia di dapur. Berikut caranya melansir berbagai sumber:
1. Buat perangkap dari cuka apel
Cuka apel memiliki aroma yang menarik perhatian lalat sehingga dapat dimanfaatkan sebagai perangkap. Caranya cukup mudah.
Masukkan beberapa sendok makan cuka apel ke dalam mangkuk, tambahkan satu sendok makan gula dan beberapa tetes sabun cuci piring. Gula dan aroma cuka apel akan mengundang lalat mendekat, sedangkan sabun cuci piring mengurangi tegangan permukaan cairan sehingga lalat tenggelam dan tidak bisa keluar.
2. Manfaatkan buah yang sudah busuk
Buah yang mulai membusuk juga dapat dijadikan perangkap alami. Masukkan potongan buah busuk ke dalam toples, lalu tutup menggunakan plastik yang telah diberi beberapa lubang kecil.
Lalat akan masuk karena tertarik pada aroma buah, tetapi akan kesulitan keluar dari wadah tersebut. Setelah banyak lalat terperangkap, segera tutup rapat toples dan buang isinya.
3. Gunakan aroma yang tidak disukai lalat
Lalat ternyata tidak menyukai beberapa aroma tanaman tertentu. Beberapa di antaranya adalah kemangi, mint, lavender, cengkeh, dan kayu manis.
Anda bisa menanam tanaman tersebut di sekitar rumah atau memanfaatkan minyak esensial, diffuser, maupun lilin aromaterapi dengan aroma serupa untuk membantu mengusir lalat secara alami.
4. Gunakan perangkap lilin
Lilin juga dapat dimanfaatkan sebagai perangkap sederhana. Letakkan lilin di atas wadah yang berisi sedikit air, kemudian nyalakan. Cahaya lilin akan menarik perhatian lalat.
Saat mendekat, sebagian lalat dapat terbakar lalu jatuh ke dalam air sehingga tidak bisa terbang kembali. Namun, metode ini sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan jangan meninggalkan lilin menyala tanpa pengawasan untuk menghindari risiko kebakaran.
Benarkah makanan yang dihinggapi lalat harus dibuang?
Pertanyaan ini sering muncul ketika lalat sempat hinggap di makanan. Mengutip National Geographic Indonesia yang merangkum penjelasan dua ilmuwan biologi dari Florida International University, Ravindra Palavalli-Nettimi dan Jamie Theobald, lalat tidak memiliki gigi sehingga tidak bisa mengunyah makanan padat seperti manusia.
Sebagai gantinya, lalat mengeluarkan cairan pencernaan untuk melunakkan makanan sebelum menyedotnya. Bahkan, lalat juga diketahui dapat memuntahkan kembali cairan tersebut sebelum menelannya lagi.
Tak hanya itu, lalat juga 'mencicipi' makanan menggunakan reseptor yang berada di kakinya saat mendarat di suatu permukaan. Yang perlu diwaspadai bukanlah air liur lalat semata, melainkan mikroba yang dibawanya.
Sebelum hinggap di makanan, lalat bisa saja baru saja berada di tempat sampah, kotoran, bangkai hewan, atau makanan busuk yang dipenuhi bakteri. Jika lalat berada di atas makanan dalam waktu cukup lama, peluang perpindahan mikroorganisme ke makanan menjadi lebih besar.
Sebaliknya, apabila lalat hanya hinggap selama beberapa detik, risiko perpindahan kuman dinilai lebih rendah sehingga makanan kemungkinan masih layak dikonsumsi. Meski demikian, jika makanan tampak dipenuhi telur lalat atau sudah menunjukkan tanda-tanda kontaminasi, sebaiknya jangan dikonsumsi.
(tis/tis)


















































