CNN Indonesia
Jumat, 27 Mar 2026 07:45 WIB
Ilustrasi. Balita 2 tahun di Inggris mengidap demensia. (iStock/Sewcream)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tak cuma orang tua, demensia juga nyatanya bisa terjadi pada usia anak. Balita 2 tahun di Inggris dikabarkan mengidap demensia.
Kondisi ini dialami oleh Leni, yang mengidap sindrom Sanfilippo. Nama terakhir merupakan penyakit neurodegeneratif yang diperkirakan menyerang 1 dari 70 ribu kelahiran di dunia. Penyakit ini dikenal juga dengan istilah 'childhood dementia'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip ITV, Leni sebelumnya digambarkan sebagai anak yang penuh energi. Ia selalu tersenyum dan suka membuat orang tertawa. Namun bagi orang tuanya, Gus dan Emily Forrester, momen-momen itu bagaikan pedang bermata dua yang tajam.
Gus dan Emily tahu bahwa di tahun-tahun mendatang keceriaan dan kepintaran Leni perlahan menghilang. Leni secara bertahap akan kehilangan semua kemampuan fisik dan kognitifnya.
Balita 2 tahun ini telah lima bulan mengidap demensia setelah didiagnosis dokter.
"Semua impian untuk masa depan anak telah sirna," ujar Emily.
Baginya, diagnosis demensia untuk buah hatinya ini bak mimpi buruk bagi setiap orang tua.
"Mendengar kabar bahwa dia [Leni] mengidap kondisi ini, dan tidak ada pengobatan, tidak ada penyembuhan, tidak ada dukungan.. itu benar-benar menghancurkan hati," tambahnya.
Leni bukan satu-satunya anak yang mengidap demensia. Pada 2025 lalu, Tate, seorang anak di Inggris juga dilaporkan mengidap sindrom Sanfilippo.
Mengutip People, mulanya Tate didiagnosis menderita autisme pada usia 2 tahun. Namun, pemindaian MRI pada Maret 2024 menunjukkan adanya ruang-ruang di otak Tate yang mengindikasikan demensia. Ia pun didiagnosis mengidap sindrom Sanfilippo.
Apa itu sindrom Sanfilippo?
Menukil laman Cleveland Clinic, sindrom Sanfilippo merupakan sekelompok kondisi genetik langka yang memengaruhi sistem tubuh, terutama sistem saraf anak.
Sindrom ini terjadi saat jumlah enzim yang memecah heparan sulfat kurang. Akibatnya, heparan sulfat menumpuk di sel, jaringan, dan organ hingga merusaknya.
Sindrom ini menyebabkan berbagai gejala kognitif, perilaku, dan fisik yang bisa memburuk seiring waktu. Dalam kondisi yang lebih parah, kondisi ini juga bisa menyebabkan kematian dini.
Gejala dan tingkat keparahan sindrom Safilippo bisa bervariasi. Namun, pada tahap awal, kondisi ini biasanya memicu beberapa tanda seperti berikut:
- fitur wajah kasar,
- alis tebal dan menonjol,
- pertumbuhan rambut yang berlebihan,
- kepala yang lebih besar,
- gangguan tidur,
- masalah pernapasan,
- sering diare,
- mengalami episode mirip kolik.
Seiring pertambahan usia, gejala biasanya akan semakin jelas pada rentang usia 1-4 tahun. Anak umumnya akan memperlihatkan tanda-tanda neurologis seperti berikut:
- speech delay,
- keterlambatan perkembangan dan intelektual,
- perilaku agresif dan destruktif,
- hiperaktif,
- sering mengamuk,
- mengunyah, menghisap, menggigit, atau menelan berlebihan,
- gelisah,
- masalah tidur,
- gangguan berjalan seperti berjalan dengan ujung kaki,
- kejang.
Dengan kabar mengenai balita 2 tahun yang mengidap demensia ini, artinya kita tahu bahwa penyakit neurodegeneratif tidak hanya menyerang orang tua.
(asr)
Add
as a preferred source on Google


















































