Jakarta, CNN Indonesia --
Tim peneliti dari Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) di Hefei, China, dilaporkan berhasil mencetak tonggak sejarah baru dalam pengembangan reaktor fusi nuklir yang kerap dijuluki 'matahari buatan'.
Kali ini, para ilmuwan Negeri Tirai Bambu sukses mengoperasikan reaktor melampaui batas kepadatan plasma (plasma density limit), sebuah pembatasan fisika yang selama puluhan tahun menjadi tembok penghalang bagi eksperimen fusi global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberhasilan ini digadang-gadang bakal mendongkrak efisiensi reaktor fusi di masa depan demi ambisi menciptakan sumber energi bersih tanpa batas.
Reaktor EAST menggunakan medan magnet superkonduktor untuk mengurung plasma super panas agar menciptakan reaksi fusi. Secara teori, semakin tinggi kepadatan plasma, semakin banyak reaksi fusi dan energi yang dihasilkan.
Namun selama ini, mayoritas tokamak di dunia membentur dinding pembatas yang dikenal sebagai 'Limit Greenwald'. Jika ilmuwan memaksa mendorong kepadatan plasma melewati batas tersebut, plasma akan menjadi tidak stabil, pecah, dan merusak dinding bagian dalam reaktor.
Melansir Gizmochina, para peneliti di Institut Fisika Plasma, Akademi Ilmu Pengetahuan China menemukan bahwa masalah ketidakstabilan ini bukan sekadar perkara seberapa padat plasma tersebut.
Pemicu utama kegagalan selama ini adalah masuknya zat pengotor (impuritas) ke dalam plasma, khususnya partikel logam tungsten yang terkikis dari dinding bagian dalam reaktor.
Guna mengatasi kendala klasik ini, tim peneliti mengembangkan model baru bernama Boundary Plasma-Wall Interaction Self-Organization (PWSO). Melalui pemodelan ini, dikombinasikan dengan pemanasan resonansi siklotron elektron, mereka berhasil menekan dampak negatif tungsten pada ujung plasma.
Hasilnya, plasma mampu bergerak ke zona stabil yang disebut "density free zone" dan beroperasi melampaui batas tradisional tanpa memicu gangguan fatal.
Temuan yang telah diterbitkan dalam jurnal Science Advances ini memberikan cetak biru dan panduan baru bagi rancangan reaktor fusi densitas tinggi di masa depan. Kendati realisasi komersialisasi energi fusi nuklir masih membutuhkan waktu panjang, capaian teranyar China ini berhasil menyelesaikan salah satu tantangan praktis terbesar dalam metode pengurungan magnetik fusi.
(dmi)
Add
as a preferred source on Google


















































