Jakarta, CNN Indonesia --
Dua puluh dua negara menyatakan siap mengamankan Selat Hormuz yang belakangan terimbas perang Amerika Serikat-Israel vs Iran.
Negara-negara tersebut menyatakan serangan terhadap kapal-kapal dagang tak bisa dibenarkan karena mereka tak bersenjata.
"Kami mengutuk keras serangan-serangan belakangan ini yang dilakukan Iran terhadap kapal-kapal dagang tak bersenjata di Teluk, serangan terhadap infrastruktur sipil termasuk instalasi minyak dan gas, dan penutupan Selat Hormuz secara de facto oleh pasukan Iran," demikian pernyataan bersama 22 negara tersebut, seperti disampaikan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Uni Emirat Arab (UEA).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua puluh dua negara ini antara lain Uni Emirat Arab, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Denmark, Latvia, Slovenia, Estonia, Norwegia, Swedia, Finlandia, Ceko, Rumania, Bahrain, Lituania, dan Australia.
Mereka menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik di Timur Tengah belakangan. UEA Cs kompak menyerukan Iran untuk segera menyetop ancaman, pemasangan ranjau, serangan drone dan rudal, serta upaya-upaya lain untuk memblokir Selat Hormuz bagi pelayaran komersial.
"Serta untuk mematuhi Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa 2817," demikian pernyataan yang dirilis Kemlu UEA tersebut.
Masih dalam pernyataan yang sama, ke-22 negara juga menegaskan kebebasan navigasi adalah prinsip dasar hukum internasional, termasuk Konvensi PBB tentang Hukum Laut.
Mereka memperingatkan dampak tindakan Iran akan dirasakan oleh semua orang di seluruh dunia, terutama mereka yang paling rentan.
"Sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817, kami menekankan bahwa gangguan terhadap pelayaran internasional dan terganggunya rantai pasokan energi global merupakan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional. Dalam hal ini, kami menyerukan moratorium komprehensif segera terhadap serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk instalasi minyak dan gas," demikian pernyataan 22 negara.
"Kami menyatakan kesediaan kami untuk berkontribusi pada upaya yang tepat guna memastikan jalur aman di Selat tersebut. Kami menyambut baik komitmen negara-negara yang terlibat dalam perencanaan persiapan ini," lanjut pernyataan tersebut.
Sejak diserang AS-Israel pada 28 Februari lalu, Iran menutup lalu lintas Selat Hormuz. Jalur air sempit namun vital itu dijaga ketat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk memastikan tak ada kapal-kapal terkait AS-Israel yang bisa lewat.
Sejumlah kapal belakangan diserang gegara tak patuh pada perintah IRGC. Serangan ini, serta mandeknya kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, telah mengakibatkan harga minyak dunia meroket tajam.
Sementara itu, harga minyak dunia saat ini sudah menembus level US$100 per barel.
Dua puluh dua negara menyambut baik keputusan Badan Energi Internasional yang mengizinkan dilepasnya cadangan minyak strategis demi mengatasi krisis energi ini.
"Kami akan mengambil langkah-langkah lain untuk menstabilkan pasar energi, termasuk bekerja sama dengan negara-negara penghasil tertentu demi meningkatkan produksi. Kami juga akan berupaya memberikan dukungan kepada negara-negara yang paling terdampak, termasuk melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa dan lembaga keuangan internasional," demikian pernyataan bersama 22 negara.
"Keamanan maritim dan kebebasan navigasi menguntungkan semua negara. Kami menyerukan kepada semua negara untuk menghormati hukum internasional dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip dasar kemakmuran dan keamanan internasional."
(blq/ins)
Add
as a preferred source on Google


















































