CNN Indonesia
Selasa, 31 Mar 2026 07:00 WIB
Ilustrasi. Tren 'zero post' mengubah cara gen Z dalam bermedia sosial. (iStock/SeventyFour)
Jakarta, CNN Indonesia --
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang, terutama gen Z, sengaja mengosongkan akun media sosialnya. Tak ada unggahan satu pun dalam halaman akunnya.
Tren itu dikenal dengan istilah 'zero post'. Tren ini mencerminkan perubahan besar dalam cara generasi muda memandang media sosial, dari ruang berbagi kehidupan menjadi platform yang semakin ditinggalkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menukil dari Cosmopolitan, zero post adalah keputusan untuk keluar dari media sosial dengan tanpa mengunggah apapun. Mereka masih melakukan aktivitas seperti melihat story, memberikan like, atau bahkan komen. Tapi, unggahan mereka sendiri tidak disentuh selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Sebuah studi terbaru dari The Financial Times yang melakukan survei terhadap 250 ribu pengguna di 50 negara menunjukkan penggunaan media sosial turun hingga 10 persen. Penurunan ini justru dipimpin oleh kelompok usia muda, generasi yang selama ini identik sebagai pengguna paling aktif, yaitu Gen Z.
Hal yang sama juga terlihat di Indonesia. Meski tak ada angka pasti, gen Z sendiri menjadi kelompok kedua terbesar pengguna media sosial di Indonesia.
Sebuah studi dari Universitas Hang Tuah Pekanbaru, Riau pun menyoroti hal tersebut. Studi menyebut, pilihan untuk mengosongkan laman akun media sosial didasari keinginan untuk mengatasi tekanan dan normal sosial yang sering menentukan bagaimana seseorang harus berperilaku di depan publik.
"Di era digital yang penuh dengan standar estetika dan kurasi visual, banyak orang yang merasa terbebani oleh ekspektasi untuk mempertahankan profil Instagram yang sempurna," tulis studi tersebut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri, sebanyak 63 persen gen Z aktif menelusuri media sosial. Namun, banyak di antara mereka yang berhenti posting atau mengunggah konten dengan sangat jarang. Dengan kata lain, mereka menjadi silent user.
Istilah 'posting zero' sendiri dipopulerkan oleh Kyle Chayka melalui kolomnya di The New Yorker. Ia menggambarkan kondisi saat pengguna biasa mulai berhenti membagikan kehidupan sehari-hari mereka di media sosial.
Padahal sebelum ini, media sosial umumnya dipenuhi unggahan sederhana seperti foto sarapan, hewan peliharaan, atau momen berkumpul bersama teman. Namun, kini konten tersebut semakin jarang terlihat dan tergantikan oleh iklan, video tren berulang, hingga konten hasil kecerdasan buatan (AI).
Alih-alih menjadi ruang personal, platform kini dipenuhi konten yang dikurasi secara algoritmik dan berorientasi komersial. Pengguna tidak lagi melihat unggahan dari orang terdekat, melainkan konten promosi, influencer, dan konten viral yang terus berulang.
Kondisi ini membuat pengalaman bermedia sosial terasa semakin bising dan melelahkan. Banyak pengguna merasa kehilangan esensi awal media sosial sebagai ruang interaksi yang autentik.
Gen Z yang selama ini tumbuh bersama internet kini mulai menunjukkan tanda kelelahan digital.
Paparan konten tanpa henti, tekanan untuk tampil menarik, hingga ekspektasi sosial di dunia maya mendorong sebagian pengguna untuk mengurangi aktivitas, bahkan berhenti mengunggah sama sekali.
Fenomena ini tidak selalu berarti mereka sepenuhnya meninggalkan media sosial. Sebaliknya, banyak yang tetap menjadi 'penonton pasif' dengan mengonsumsi konten tanpa berpartisipasi aktif.
Kemunculan AI memperkuat tren zero posting
Selain itu, munculnya konten yang berbasis AI turut memperkuat tren zero posting. Mengutip The Print, sejumlah teori seperti 'dead internet theory' bahkan menyebut sebagian besar konten di internet kini tidak lagi dihasilkan manusia, melainkan oleh bot dan sistem otomatis.
Meski masih menjadi perdebatan, persepsi ini cukup memengaruhi cara pengguna memandang keaslian konten yang mereka konsumsi.
Akibatnya, keinginan untuk ikut berkontribusi dalam lingkungan digital yang dianggap semakin artifisial pun menurun.
Tren zero post tidak serta-merta menandai berakhirnya media sosial, tetapi menunjukkan pergeseran cara pengguna berinteraksi.
Jika sebelumnya media sosial menjadi ruang untuk berbagi secara terbuka, kini pengguna lebih selektif, bahkan memilih untuk tidak berbagi sama sekali.
Bagi Gen Z, keputusan untuk tidak mengunggah apapun bisa menjadi bentuk kontrol atas privasi, kesehatan mental, sekaligus penolakan terhadap lingkungan digital yang semakin padat dan komersial.
(nga/asr)
Add
as a preferred source on Google


















































