Dari Selat Hormuz, Yuan Tantang Dominasi Dolar di Pasar Global

3 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Penggunaan mata uang yuan dalam transaksi energi mulai mendapat sorotan seiring meningkatnya peran Iran dan China di kawasan strategis Selat Hormuz.

Langkah ini dinilai menjadi sinyal awal upaya menantang dominasi dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan global.

Di tengah konflik yang mengguncang pasar energi dunia, Iran dan China memanfaatkan momentum untuk mendorong penggunaan yuan, terutama dalam transaksi minyak. Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, menjadi titik kunci dalam pergeseran ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah laporan menyebutkan kapal-kapal komersial mulai dikenakan biaya transit dalam yuan saat melintasi wilayah tersebut. Praktik ini dinilai sebagai bagian dari upaya memperluas penggunaan mata uang China di perdagangan internasional, khususnya di sektor energi yang selama ini didominasi dolar.

Ekonom Harvard sekaligus mantan kepala ekonom IMF Kenneth Rogoff menilai langkah Iran memiliki dua tujuan sekaligus.

"Iran serius memilih yuan untuk menghindari sanksi AS dan memperkuat hubungan dengan China," ujarnya, melansir Aljazeera.

Bagi China, penggunaan yuan dalam perdagangan energi dinilai menguntungkan karena dapat mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan berbasis dolar.

Selain itu, hal ini juga memperkuat kerja sama ekonomi kedua negara yang telah terjalin melalui kemitraan strategis jangka panjang.

Selama ini, dominasi dolar sangat kuat di pasar minyak global, dengan sekitar 80 persen transaksi masih menggunakan mata uang tersebut.

Namun, meningkatnya penggunaan yuan, meski masih terbatas, mulai membuka ruang alternatif dalam sistem keuangan global.

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai langkah ini belum cukup untuk menggantikan posisi dolar dalam waktu dekat. Kepala ekonom Natixis Asia Pasifik Alicia Garcia-Herrero menyebut penggunaan yuan saat ini masih bersifat bertahap.

"Ini bukan sesuatu yang langsung mendekati 'de-dolarisasi', tetapi perlahan memberi tekanan dan menormalkan alternatif dalam perdagangan energi," ujarnya.

Data menunjukkan yuan baru digunakan dalam sekitar 3,7 persen transaksi lintas negara pada 2024, jauh di bawah dolar yang masih mendominasi cadangan devisa global dengan porsi sekitar 57 persen.

Kendati begitu, tren penggunaan yuan dinilai berpotensi terus meningkat, terutama di negara-negara yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap dolar.

Dalam jangka panjang, langkah kecil seperti yang terjadi di Selat Hormuz dinilai bisa menjadi awal perubahan dalam peta keuangan global.

Namun, para analis menilai pergeseran ini akan berlangsung secara bertahap, bukan perubahan drastis dalam waktu singkat.

[Gambas:Youtube]

(sfr/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |