Dinamika Atmosfer Mereda, Jakarta Aman dari Hujan Lebat?

5 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut intensitas curah hujan di Jakarta dan sekitarnya tengah menurun dibandingkan pekan sebelumnya dikarenakan dinamika atmosfer yang mereda.

"Betul (tidak ada hujan lebat di Jabodetabek), pekan ini dinamika atmosfernya sedang mereda, intensitas curah hujan menurun dibanding pekan sebelumnya, namun untuk beberapa wilayah masih ada potensi," ujar Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani kepada CNNIndonesia.com, Selasa (10/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada hari ini, Selasa (10/3), BMKG memprediksi wilayah Jabodetabek bakal diguyur hujan intensitas ringan. Awan tebal yang menggelayut di langit Jakarta pada pagi hari akan berubah menjadi hujan dengan intensitas ringan pada siang hingga sore hari, kecuali Kepulauan Seribu yang berawan tebal.

Sementara pada malam harinya, hampir seluruh wilayah Jakarta diprakirakan kembali berawan tebal, kecuali Jakarta Timur dan Jakarta Utara yang diprakirakan akan diguyur hujan ringan.

Dalam Peringatan Dini Cuaca Jabodetabek periode 9-13 Maret, tidak ada potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Jakarta.

Hujan dengan intensitas tersebut hanya diperkirakan terjadi di Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, dan Kepulauan Seribu pada 9 Maret; serta di Kepulauan Seribu dan Kabupaten Bogor pada 10 Maret.

Lebih lanjut, wilayah Jabodetabek diguyur hujan dengan intensitas sangat lebat pada akhir pekan lalu. Pada periode tersebut, curah hujan harian pada kategori sangat lebat teramati di wilayah Banten (141.8 mm/hari) dan Jakarta Timur (123.4 mm/hari).

Meski Jabodetabek cenderung aman dari hujan lebat, Andri menyebut sejumlah wilayah lain berpotensi mengalami cuaca ekstrem tersebut.

"Periode 13 - 16 Maret 2026 cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur," kata BMKG dalam Prospek Cuaca Mingguan Periode 10 - 16 Maret.

Selain itu, potensi hujan intensitas sedang hingga lebat juga terjadi di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.

Pada periode tersebut, BMKG juga memperkirakan hujan lebat hingga sangat lebat di Papua Tengah serta angin kencang di Sulawesi Utara.

Hujan lebat pada periode ini dipicu oleh sejumlah fenomena cuaca, salah satunya aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang bergeser ke fase 6 dan 7 (Western Pacific) dalam sepekan ke depan, sehingga konsentrasi pembentukkan awan hujan lebih dominan terjadi di wilayah Indonesia bagian timur.

Selain itu, Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial juga diprakirakan aktif di Sumatra dan Kalimantan bagian utara, sebagian Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua. Keduanya disebut dapat mendukung peningkatan aktivitas konvektif serta potensi hujan di wilayah tersebut.

Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 95W diperkirakan masih persisten berada di Samudera Pasifik Utara Papua. Sistem ini memiliki kecepatan angin maksimum 20 knots, tekanan udara minimum 1006 hPa, dan pergerakan ke arah timur laut menjauhi wilayah Indonesia.

Bibit siklon ini menginduksi terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi di Samudra Pasifik Utara Pulau Halmahera hingga utara Papua Barat.

"Daerah konvergensi lain juga diprakirakan terbentuk di sebagian besar wilayah Indonesia, yang mana kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar bibit siklon dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut," terang BMKG.

BMKG juga memantau adanya pembentukan daerah tekanan rendah di Australia bagian utara yang menginduksi terbentuknya daerah pertemuan angin yang memanjang dari NTB, NTT, Maluku bagian selatan, hingga Laut Arafuru.

Dengan kelembapan udara yang juga masih cukup tinggi, serta labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal di beberapa wilayah, BMKG menyebut kondisi ini berpotensi meningkatkan curah hujan secara signifikan di sebagian wilayah Indonesia.

(lom/dmi)

Read Entire Article
| | | |