Iran Pesimistis Board of Peace Bentukan Trump Bakal Berhasil di Gaza

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi merespons rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan menggelar konferensi tingkat tinggi (KTT) perdana Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) di Washington pada 19 Februari.

Boroujerdi menyampaikan komentar itu usai acara peringatan Hari Nasional Iran dan Peringatan ke 47 Kemenangan Revolusi Islam Iran di Jakarta, Selasa (10/2). Dia menghormati keputusan negara yang bergabung dan tak akan berdampak ke relasi Iran.

Namun, Boroujerdi juga menyatakan BoP tak akan berhasil karena dipimpin AS, sekutu dekat Israel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami percaya bahwa hal itu tidak akan berhasil karena rezim Zionis Israel adalah rezim yang telah menduduki tanah tersebut," kata Boroujerdi.

Dia lalu berujar, "Tetapi siapa yang mendukung rezim ini? Amerika Serikat. Amerika Serikat secara terbuka mendukung rezim Zionis Israel. Jadi, mereka sudah memiliki pihak tertentu."

Jika AS sudah menentukan keberpihakannya, menurut Dubes Iran ini, mereka tak berhak membahas soal mediasi atau proses perdamaian atau dewan perdamaian dan semacamnya.

Trump dilaporkan berencana menggelar pertemuan perdana BoP di di Institut Perdamaian AS di Washington. Sejauh ini, belum ada negara yang mengonfirmasi hadir dalam acara tersebut.

Menurut sejumlah pejabat AS, rapat ini bertujuan menggalang dana proyek rekonstruksi Gaza tanpa memberi rincian lebih lanjut.

Di kesempatan ini, Boroujerdi meyakini perdamaian akan terjadi di Gaza jika inisiasi semacam itu berasal dari negara-negara atau organisasi internasional netral.

"Bukan negara-negara yang mendukung satu pihak," ungkap dia.

Lebih jauh, Boroujerdi menjelaskan Iran tak percaya BoP akan berhasil karena Israel punya rekam jejak melanggar gencatan senjata dan tak percaya perdamaian.

"Kami tidak percaya itu akan berhasil karena, Anda tahu, rezim Zionis Israel telah menunjukkan mereka tidak akan menerima perdamaian atau gencatan senjata atau kesepakatan apa pun. Mereka tidak akan menerima solusi dua negara atau proses perdamaian apa pun karena mereka tidak percaya pada perdamaian," ujar dia.

Israel, katanya, hanya ingin menduduki Palestina. Lalu, saat mereka melakukan pendudukan pasukan Zionis bakal menyerang wilayah tersebut. Israel, di mata Iran, juga merupakan rezim yang menyerang semua negara tetangganya.

"Jadi, bagaimana Anda percaya bahwa rezim Zionis yang menduduki wilayah ini akan mencapai solusi dua negara, gencatan senjata, atau perdamaian dan keamanan di kawasan ini? Mereka tidak akan menerima apa pun," ucap Boroujerdi.

Iran merupakan negara yang lantang mendukung kemerdekaan Palestina dan mengecam agresi serta pendudukan Israel di wilayah tersebut. Iran bahkan sempat terlibat perang beberapa kali dengan Israel sejak agresi di Gaza dimulai.

Board of Peace dibentuk Trump pada Januari lalu usai mengantongi izin dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) melalui resolusi yang disahkan tahun lalu. Dewan tersebut akan memainkan penting untuk mewujudkan poin-poin yang diusulkan Trump mengakhiri agresi Israel di Jalur Gaza.

Dewan Perdamaian Gaza juga akan bertugas mengawasi pemerintahan sementara dan memastikan akuntabilitas saat Gaza di masa transisi.

Di kesempatan terpisah, Trump mengatakan dewan tersebut akan diperluas untuk menangani konflik global. Namun, banyak pakar khawatir dewan tersebut justru melemahkan peran PBB.

Banyak pakar hak asasi manusia mengatakan bahwa pengawasan Trump terhadap dewan untuk mengawasi urusan wilayah asing menyerupai struktur kolonial.

(isa/dna/bac)

Read Entire Article
| | | |