Kasus Campak Turun 93 Persen, Kemenkes Tetap Waspada

2 hours ago 8

CNN Indonesia

Selasa, 31 Mar 2026 11:45 WIB

Kasus campak turun drastis di awal 2026, namun Kemenkes tetap siaga dan perketat pengawasan serta perlindungan tenaga kesehatan. Ilustrasi. Meski kasus turun, Kementerian Kesehatan tetap waspada dengan lonjakan campak. (iStockphoto/RomoloTavani)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan tren kasus campak di Indonesia mengalami penurunan signifikan pada awal 2026. Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan, termasuk dengan menerbitkan surat edaran khusus bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyampaikan bahwa jumlah kasus campak secara nasional turun hingga 93 persen, dari 2.220 kasus pada minggu pertama 2026 menjadi 146 kasus pada minggu ke-12.

"Ketika kita membandingkan dari minggu pertama sampai minggu ke-12, terjadi penurunan kurang lebih 93 persen," ujar Andi dalam konferensi pers, Senin (30/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski trennya menurun, Kemenkes tetap memantau ketat penyebaran campak di sejumlah wilayah. Sebanyak 14 provinsi yang sebelumnya mencatatkan kasus tinggi kini menunjukkan tren penurunan, termasuk Jawa Barat, Banten, dan Jawa Timur.

Namun, fluktuasi masih terjadi di beberapa daerah. Sejumlah kabupaten/kota seperti Kabupaten Tangerang dan Kota Palembang masih mengalami kenaikan kasus pada pekan tertentu, sehingga pengawasan tetap diperketat.

Selain itu, Kemenkes mencatat adanya 58 kejadian luar biasa (KLB) campak di 39 kabupaten/kota yang tersebar di 14 provinsi hingga minggu ke-11 tahun ini. Jumlah kasus sempat mencapai 2.740 sebelum akhirnya menurun menjadi 177 kasus.

Menindaklanjuti situasi tersebut, Kemenkes menerbitkan surat edaran tentang kewaspadaan campak bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan.

Dalam edaran tersebut, fasilitas pelayanan kesehatan diminta memperketat langkah pencegahan, termasuk melakukan skrining dan triase dini, menyiapkan ruang isolasi, serta memastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD).

"Dengan meningkatnya kasus campak dan tingginya angka perawatan di rumah sakit, tenaga medis dan tenaga kesehatan menjadi kelompok yang berisiko tinggi," kata Andi.

Kemenkes juga menginstruksikan tenaga kesehatan untuk disiplin menerapkan protokol pencegahan infeksi, seperti penggunaan masker, sarung tangan, serta menjaga kebersihan tangan.

Selain itu, tenaga kesehatan yang mengalami gejala seperti demam, batuk, mata merah, atau ruam diminta segera melapor dan tidak melanjutkan aktivitas kerja guna mencegah penularan lebih luas.

Dalam kesempatan yang sama, Kemenkes mengungkap satu kasus kematian akibat campak yang terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Korban merupakan seorang dokter laki-laki berusia 25 tahun yang bertugas di instalasi gawat darurat (IGD).

"Pada tanggal 21 mulai timbul ruam, namun yang bersangkutan tetap berdinas dan menangani pasien campak di IGD," ujar Andi.

Kondisi korban kemudian memburuk dengan penurunan kesadaran, sesak napas, serta saturasi oksigen rendah. Ia sempat dirawat intensif sebelum akhirnya meninggal dunia pada 26 Maret 2026.

Hasil pemeriksaan laboratorium oleh Biofarma mengonfirmasi bahwa korban positif campak, dengan komplikasi yang menyerang jantung dan otak.

Meski demikian, secara umum kasus di Kabupaten Cianjur tergolong rendah. Dari 25 suspek kasus yang tercatat pada 2026, hanya sembilan yang terkonfirmasi positif, dan pada minggu ke-12 tidak ditemukan kasus baru.

Kemenkes juga menegaskan bahwa seluruh kasus suspek campak wajib dilaporkan dalam waktu maksimal 24 jam melalui sistem surveilans yang telah ditetapkan.

Pemerintah berharap langkah ini dapat meningkatkan kesiapsiagaan nasional sekaligus melindungi tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam penanganan kasus.

(nga/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |