Jakarta, CNN Indonesia --
Pangeran Laurent dari Belgia mengakui sempat bertemu predator seksual Jeffrey Epstein usai namanya muncul dalam dokumen yang dirilis pada pekan lalu.
Laurent mengatakan pertemuan-pertemuan dengan Epstein terjadi pada awal 1990-an dan 2000-an serta atas permintaan pebisnis itu, demikian dikutip AFP dari media lokal BelgIa, Senin (2/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adik Raja Philippe ini juga membantah pertemuan dilakukan "di acara publik atau kelompok."
Klarifikasi tersebut muncul setelah rilis resmi yang membantah Pangeran Laurent bertemu Epstein.
"Tidak pernah, secara langsung maupun tidak langsung, menghadiri acara apa pun [bersama Epstein dan rombongannya]," demikian pernyataan itu.
Laurent juga sebelumnya menyatakan Epstein sempat menghubungi dia sebagai saat bekerja magang di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan bank di New York.
Epstein, menurut penuturan pangeran itu, minta dikenalkan ke anggota keluarga kerajaan.
Lebih lanjut, Laurent mengatakan bahwa dia menolak tawaran tersebut. Namun, tawaran sekitar satu dekade kemudian, Epstein menghubunginya lagi.
Saat itu, pebisnis yang namanya sudah tercoreng tersebut mengundang Laurent untuk makan malam di Paris bersama orang-orang kaya dan punya pengaruh.
Laurent menjadi sorotan usai namanya muncul dalam dokumen baru yang dirilis Kementerian Kehakiman AS soal Epstein pada pekan lalu.
Selain pangeran Belgia ini, sederet nama tokoh elit lain juga muncul.
Beberapa di antaranya adalah Putri Mahkota Norwegia Mette-Marit, eks pangeran Inggris Andrew, taipan AS Elon Musk, hingga Presiden AS Donald Trump.
Nama Trump dan Mette Marit bahkan disebut ribuan kali dalam dokumen yang baru muncul.
Dalam salah satu email, menurut dokumen itu, Mette-Marit bertanya kepada Epstein apakah "tidak pantas bagi seorang ibu untuk menyarankan dua perempuan telanjang yang membawa papan selancar sebagai wallpaper untuk putra saya yang berusia 15 tahun".
Epstein merupakan pelaku kejahatan dan perdagangan seksual. Ia sempat dipenjara karena tindakannya, tetapi bunuh diri pada 2019.
(isa/rds)

















































