CNN Indonesia
Rabu, 11 Feb 2026 12:45 WIB
Ilustrasi barang di bagasi kabin pesawat. (iStockphoto/Rrrainbow)
Jakarta, CNN Indonesia --
Berat bagasi adalah salah satu persoalan penting dalam penerbangan. Pesawat yang terbang memiliki batas muatan tertentu, sehingga kalau mengangkut berat yang berlebihan akan berisiko terhadap penerbangan.
Berat muatan ini diakumulasikan dari semua elemen pesawat, termasuk berat badan pesawat, bahan bakar, stok makanan dapur, kargo, bagasi, hingga berat badan manusia di dalamnya (pilot, awak kabin dan penumpang).
Demi memastikan pesawat terbang dengan berat muatan yang aman, maskapai perlu memastikan penumpang tidak membawa koper dengan berat yang berlebihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Itulah sebabnya semua maskapai penerbangan menggalakkan aturannya masing-masing terkait batas maksimal berat bagasi tiap penumpang. Melansir The Independent, ini bukan hal baru, karena seorang mantan pilot mengatakan sejak ia mengawali kariernya, aturan ketat ini sudah berlaku.
Sebagai contoh pesawat Boeing 737 yang memiliki kapasitas 150-299 kursi. Berat standar penumpang yang naik pesawat ini sudah diasumsikan, yaitu penumpang wanita 66,7 kilogram dan penumpang laki-laki 81,8 kilogram. Tiap penumpang maksimal membawa bagasi kabin seberat 7 kilogram.
Saat ini, bukan hanya tas yang ditaruh di bagasi yang dibatasi dengan berat maksimal, tetapi tas yang dibawa ke kabin juga perlu diperhitungkan. Maskapai penerbangan di dunia awalnya menetapkan aturan bagasi dengan standar.
Namun, semenjak bermunculan maskapai berbiaya rendah yang mencari pendapatan lebih dari biaya bagasi tambahan, pelancong mulai mengubah kebiasaan. Penumpang jadi lebih berhitung ketika mengemas kopernya.
Demi menghindari biaya bagasi tambahan, mereka memutuskan untuk membawa sebagian besar barang bawaannya ke dalam tas jinjing yang ditaruh di kabin.
Maskapai penerbangan dunia mulai mengendus siasat ini, sehingga memperketat aturan dan batas maksimal berat bawaan di kabin.
Mulai Senin (2/2), maskapai Virgin Australia memberlakukan kebijakan baru mengenai bagasi kabin penerbangan domestik. Penumpang kelas ekonomi dibatasi membawa satu tas kabin berukuran standar yang beratnya maksimal 8 kilogram.
Sementara maskapai Qantas, meminta penumpang untuk membawa barang bawaan dengan berat 10 kilogram dalam satu tas, atau dua tas kecil dengan total keduanya seberat 14 kilogram.
Maskapai penerbangan murah Jetstar memiliki aturan berbeda, yaitu mengizinkan penumpang membawa barang di kabin hingga 7 kilogram tetapi dibagi menjadi dua tas.
Setiap maskapai berhak menentukan aturan berat dan muatan pesawatnya masing-masing. Oleh karena itu, aturan mengenai batas berat maksimal bagasi kabin juga berbeda-beda. Namun yang pasti, saat ini maskapai penerbangan dunia semakin ketat membatasi berat bagasi kabin.
Kenapa demikian? Sebab selain berisiko terhadap berat muatan pesawat, bagasi kabin yang kelebihan berat sebenarnya memberi banyak tantangan di dalam pesawat. Baik awak kabin sampai penumpang lainnya akan lebih kesusahan menangani tas yang berat itu jika di bawa masuk ke kabin.
Pramugari atau awak kabin adalah yang paling menderita karena sudah menjadi tugas mereka membantu penumpang menaruh tas bawaan di kompartemen atas kepala tersebut. Tak sedikit dari mereka yang mengalami cedera setelah mengangkat tas yang beratnya bukan main, dan itu bukan hanya membantu satu atau dua penumpang.
Sementara itu, tas kabin yang berat merupakan biang kemacetan di kabin. Penumpang perlu menunggu penumpang lainnya yang ada di depan ketika menaikkan tasnya, sementara tas yang berat akan lebih lama dan susah diangkat.
Hal ini akan menyebabkan kemacetan atau antrean penumpang di kabin, bahkan bisa berpotensi membuat penerbangan tertunda. Lebih parah lagi jika terjadi kondisi darurat, evakuasi bisa terhambat karena penumpang akan kesulitan mengambil tasnya yang berat dari kompartemen atas.
(ana/wiw)

















































