Proyek Stasiun di Bulan Jadi Target NASA Usai ISS Pensiun di 2030?

7 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Antariksa Amerika Serikat (AS) atau NASA telah resmi bakal menonaktifkan alias memesiunkan  Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada akhir 2030 mendatang. Stasiun yang sudah mengorbit di titik terendah (LEO) itu akan dijatuhkan ke bumi mulai awal 2031.

NASA akan mengarahkannya agar jatuh ke titik terpencil di Samudra Pasifik, atau yang dikenal sebagai Point Nemo.

Keputusan ini datang setelah lebih dari dua dekade stasiun tersebut menjadi rumah bagi ratusan astronaut dari berbagai negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ISS pertama kali diluncurkan pada 1998 dan mulai dihuni secara permanen sejak 2000. Sejak saat itu, selama hampir tiga dekade, lebih dari 290 orang dari 26 negara pernah tinggal dan bekerja di dalamnya, menjadikannya simbol kerja sama internasional paling ambisius di luar angkasa.

Lepas dari ISS, mengutip CNN, "Saat AS membidik untuk membangun pangkalan permanen di bulan, pijakannya di wilayah ruang angkasa yang jauh lebih dekat dengan bumi menjadi tidak pasti."

Rencana menduduki bulan itu tercantum dalam perintah eksekutif yang diterbitkan Presiden AS Donald Trump pada 18 Desember 2025.

Dalam perintah eksekutifnya, Trump menyatakan kebijakan luar angkasanya akan memprioritaskan Memimpin dunia dalam eksplorasi ruang angkasa dan memperluas jangkauan manusia serta kehadiran Amerika di ruang angkasa dengan membawa kembali Negara Paman Sam ke bulan melalui program Artemis pada 2028.

"(ii)  membangun elemen-elemen awal pos terdepan permanen di bulan pada tahun 2030 untuk memastikan kehadiran Amerika yang berkelanjutan di luar angkasa dan memungkinkan langkah-langkah selanjutnya dalam eksplorasi Mars; dan (iii) meningkatkan keberlanjutan dan efektivitas biaya arsitektur peluncuran dan eksplorasi, termasuk memungkinkan layanan peluncuran komersial dan memprioritaskan eksplorasi bulan," demikian poin perintah eksekutif Trump.

Trump pun memerintahkan kemungkinan pemanfaatan tenaga nuklir di ruang angkasa. Dia berharap reaktor nuklir di permukaan bulan bisa diluncurkan pada 2030 mendatang.

Setelah Bulan, Trump menargetkan langkah eksplorasi selanjutnya adalah Planet Mars.

Mengutip dari Space pada 12 Maret lalu mewartakan Komite Senat AS, "Untuk pertama kalinya, undang-undang telah disahkan secara bulat yang memberikan lampu hijau bagi NASA untuk membangun pangkalan permanen di bulan."

Untuk resmi jadi undang-undang, RUU itu harus disepakati pula oleh Kongres AS.

Ketua Komite Senat yang berasal dari Partai Republik, Ted Cruz, mengatakan Rancangan Undang-Undang Otorisasi NASA tahun 2026, berjudul 'Mengamankan Dominasi Amerika dalam Perlombaan Angkasa Baru.' Dia pun menyinggung soal perlombangan di antariksa antara AS dan China saat ini.

"Amerika Serikat berada dalam perlombaan angkasa strategis yang semakin intensif dengan Republik Rakyat China, yang mencakup orbit Bumi, bulan, dan hamparan ruang angkasa yang lebih luas," kata Cruz.

"Beijing dengan cepat memajukan ambisi bulannya, memperluas kemampuan di orbitnya, membangun infrastruktur pendukung di luar Bumi, dan mempromosikan kerangka kerja tata kelola alternatif seperti Stasiun Penelitian Bulan Internasional [ILRS] - semuanya dengan tujuan yang jelas," imbuhnya.

Tapi sebelum sampai ambisi membangun pos permanen di bulan, dengan berakhirnya ISS pada 2030, NASA sedang berpacu dengan waktu dan bertaruh atas eksistensi di orbit bumi demi tujuan ilmiah.

Pengusaha teknologi antariksa, Dylan Taylor, mengingatkan ruang kosong di luar angkasa tak bisa diabaikan. Atau, sambungnya, nasibnya akan seperti Apple vs Android. Dia memperingatkan China yang sudah memiliki stasiun luar angkasa baru yang lebih mutakhir teknologinya.

"China memiliki stasiun luar angkasa baru yang canggih... jadi sangat penting bagi kita untuk memiliki kehadiran manusia yang berkelanjutan di orbit," ujar Taylor--CEO  Voyager Technologies, salah satu perusahaan yang terlibat dalam pengembangan konsep stasiun luar angkasa komersial kepada CNN.

Berkaca dari risiko itu, Senat AS menilai tak akan cukup waktu hingga 2030 bagi NASA untuk mengembangkan, meneliti, dan meluncurkan stasiun luar angkasa pengganti ISS. Apalagi, bila itu akan ditempatkan di bulan.

Fenomena Wolf Moon terlihat dengan latar Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (3/1/2026). Wolf Moon merupakan sebutan untuk bulan purnama pertama dalam kalender Masehi dan dianggap sebagai penanda dimulainya siklus astronomi di tahun yang baru. ANTARA FOTO/Dhemas ReviyantoFenomena Wolf Moon terlihat dengan latar Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (3/1/2026). Wolf Moon merupakan sebutan untuk bulan purnama pertama dalam kalender Masehi dan dianggap sebagai penanda dimulainya siklus astronomi di tahun yang baru. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Oleh karena itu--CNN memberitakan-- baru-baru ini Senat sedang menyusun Rancangan Undang-Udnang agar AS terus mendanai ISS hingga tahun 2032. RUU itu masih membutuhkan persetujuan Kongres AS.

NASA pun didorong untuk merilis tawaran proposal dari perusahaan-perusahaan swasta yang bekerja untuk merancang stasiun ruang angkasa generasi berikutnya. 

NASA sejauh ini belum mau mengomentari RUU yang ditawarkan Senat AS itu. Sekretaris Pers NASA, Bethany Stevens, dalam pernyataannya mengatakan pihaknya berkomitmen atas rencana "transisi Stasiun Luar Angkasa Internasional ke operasi komersial di orbit Bumi rendah (LEO)."

"NASA meluangkan waktu yang diperlukan untuk memastikan keputusan selaras dengan kebijakan Presiden sambil bergerak maju seefisien dan secepat mungkin," ujar  Stevens merujuk pada perintah eksekutif Presiden Donald Trump baru-baru ini tentang kebijakan luar angkasa, dikutip Minggu (22/3).

"Detail tambahan akan dibagikan segera setelah tersedia," sambungnya.

(kid)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |