Ruben Onsu Beber Kesaksian Petugas Soal Insiden Betrand Peto

3 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Ruben Onsu menjabarkan sejumlah kesaksian pegawai kelab malam yang menjadi lokasi kejadian dugaan kekerasan seksual yang ditujukan kepada Betrand Peto.

Dalam serangkaian unggahan di media sosial pada Minggu (13/9), Ruben menampilkan kesaksian dua petugas server yakni Jakaria dan Revi soal kejadian tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lewat empat postingan pertama, Ruben menampilkan Jakaria sebagai salah satu petugas server menyebut dirinya adalah pihak yang mencari tiga perempuan untuk menemani Betrand dan dua temannya di ruangan karaoke.

Jakaria mengaku membawa perempuan-perempuan tersebut sesuai dengan permintaan teman dari Betrand. Jakaria juga sudah mengenalkan kedua belah pihak dan menjelaskan permintaan tersebut kepada tiga perempuan ini.

Baru sesaat Jakaria keluar, terjadi keributan di ruangan itu dengan salah satu dari tiga perempuan itu menangis tanpa ada penjelasan. Salah satu teman perempuan itu yang disebut "kuping berdarah" disebut marah karena temannya menangis.

Menurut Jakaria, upaya menenangkan dua perempuan itu gagal. Bahkan orang yang disebut "kuping berdarah" itu ribut dengan teman Betrand. Situasi sempat tak terkendali dan berhasil dilerai oleh petugas.

Jakaria menyebut perempuan yang tak disebut namanya itu diduga sedang mabuk, dan tetap tidak menyebutkan alasan dirinya menangis. Si "kuping berdarah" itu juga mengancam akan memviralkan kejadian tersebut.

Jakaria menolak ada dugaan tindakan pelecehan seksual atau pemerkosaan yang melibatkan Betrand Peto dalam kejadian itu, selain karena di dalam ruangan terdiri dari sekitar lima orang, ia mengatakan ada petugas karaoke yang berjaga di dalam.

Sementara itu, untuk luka lebam yang sempat dikomplain pelapor, Jakaria menduga hal itu karena saat akan ditenangkan dan dibawa keluar ruangan, perempuan tersebut terpantuk meja lantaran dalam kondisi mengamuk.

[Gambas:Instagram]

[Gambas:Instagram]

Saksi kedua yang diunggah Ruben adalah petugas server perempuan bernama Revi. Revi menegaskan kesaksian Jakaria, dan menyebutkan tiga perempuan dengan Betran juga teman-temannya "enjoy" menikmati karaoke.

Serupa dengan Jakarta, seorang perempuan menangis kala Revi keluar ruangan tanpa ada penjelasan. Keributan pun terjadi seperti yang dijelaskan Jakaria. Revi juga membantah ada tindakan kekerasan yang dilakukan Betrand Peto seperti yang dituduhkan.

[Gambas:Instagram]

Anak asuh Ruben Onsu, Betrand Peto, dilaporkan ke kepolisian atas dugaan tindak pidana kekerasan seksual. Laporan tersebut diterima polisi pada Sabtu (12/9) dan lokasi kejadian disebut berada di kawasan SCBD Jakarta selatan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengonfirmasi pelaporan tersebut. Budi kemudian menjelaskan sosok yang dimaksud dengan inisial BP. Menurutnya, BP adalah ATT, yang disebut sebagai anak angkat dari artis berinisial RSO.

Ruben sendiri meminta maaf atas kabar tersebut. Dalam unggahan di media sosial pada Minggu (13/9), ia baru buka suara setelah mendapatkan penjelasan dari temannya yang berada di lokasi.

"Tadi malam, saya masih menunggu anak saya pulang setelah menjalani proses syuting hingga larut malam," tulis Ruben.

"Siang ini, saya juga akan mendengarkan penjelasan dari temannya yang berada di lokasi kejadian, agar saya dapat memahami situasi dan mendapatkan informasi lebih lengkap, jadi sebelum masalah ini jelas kami berharap kita jangan dulu mengambil kesimpulan atas laporan ini, percayalah kami tidak akan menutup-nutupi apa yang terjadi sebenarnya sesuai bukti-bukti yang ada," tulis Ruben kembali dalam unggahannya.

Kesaksian korban

Pada Minggu (13/9) pula, perempuan berinisial ANW yang mengaku sebagai korban dan melaporkan Betrand Peto ke polisi mengadakan konferensi pers.

"Terlapor di sini adalah Alfonsus Toribio Tenkudi alias Betrand Peto yang mana diduga melakukan tindak pidana pelecehan seksual. Dengan pasal yang kami sangkakan Pasal 473 Undang-Undang KUHP dan Pasal 6 Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual," ungkap kuasa hukum ANW, Nathaniel Hutagaol.

Selain Betrand, kuasa hukum ANW mengatakan terdapat laporan lain terhadap pria berinisial WHA rekan Betrand. Laporan itu berkaitan dengan dugaan penganiayaan yang dilakukan rekan Betrand terhadap rekan ANW, WHA.

Dalam konferensi pers tersebut, ANW mengaku dirinya bersama dua temannya memang ditawari untuk meramaikan room yang disewa Betrand dan teman-temannya. ANW mengaku pihak petugas memastikan kalau mereka akan "aman" di ruangan itu.

"Saya duduk di sofa, samping saya BP. Tiba-tiba BP narik tangan saya," ujar ANW, seperti diberitakan detikHot. "Saya nggak pernah ada pikiran negatif, saya kira dia ngajak saya untuk ngecek temen saya di toilet, kenapa lama sekali."

"Ternyata di depan pintu toilet tersebut, saya dilecehin," ujar ANW sambil menangis histeris.

Nathaniel mengatakan pihaknya juga menemukan dugaan adanya kekerasan dan pemaksaan terhadap ANW. Ia menunjukkan sejumlah foto dan visum yang disebut sebagai bukti dugaan itu.

"Ini salah satu visum untuk hidungnya yang katanya dibenturkan," ujar Nathaniel sembari menunjukkan foto cedera pada bagian hidung ANW.

"Baru kemudian, di sini di leher," kata Nathaniel. "Dan ada satu lagi, kemudian tangannya biru, ada memar."

Jika Anda mengalami, melihat, mendengar, dan mengetahui tindak kekerasan atau pun pelecehan kepada perempuan dan anak, hubungi SAPA via telepon 129 atau melalui WhatsApp 08111-129-129.

(end)

Read Entire Article
| | | |