Swasembada Beras, Fondasi Pemerintah Jaga Kedaulatan Pangan Nasional

4 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya dimaknai sebagai keberhasilan menjaga kedaulatan bangsa, tetapi juga memperkuat kemandirian di sektor pangan. Upaya itu salah satunya dilakukan dengan memenuhi kebutuhan beras dari produksi dalam negeri.

Sebagai komoditas pangan pokok yang dikonsumsi mayoritas masyarakat Indonesia, ketersediaan beras dinilai berperan besar dalam menjaga stabilitas pasokan, mengendalikan harga, dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan Indonesia telah memasuki fase swasembada beras sejak 2025. Kementan mencatat total ketersediaan pasokan beras di dalam negeri saat ini menyentuh angka 26 juta ton.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jumlah tersebut terdiri dari stok fisik di gudang Bulog sebesar 5,2 juta ton, cadangan sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka) sekitar 10,8 juta ton, serta potensi panen padi di lapangan (standing crop) yang diperkirakan mencapai 10 juta ton.

Capaian tersebut menjadi indikator bahwa produksi domestik mampu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional sekaligus memperkuat cadangan pangan pemerintah.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menempatkan swasembada beras sebagai salah satu prioritas pembangunan sektor pertanian. Menurutnya, kemampuan memenuhi kebutuhan beras dari produksi domestik menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tekanan terhadap sistem pangan global akibat perubahan iklim, gangguan rantai pasok, hingga dinamika geopolitik.

Prabowo juga menyampaikan target swasembada beras lebih cepat terwujud. Menurutnya, cadangan beras saat ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

"Alhamdulillah, target yang saya berikan kepada tim pangan kita, saya berikan target waktu awal pemerintah yang saya pimpin adalah 4 tahun untuk swasembada pangan. Alhamdulillah, Desember 31 tahun 2025 waktu 24.00 WIB, bisa kita dengan resmi mengatakan di tahun 2025 Republik Indonesia swasembada beras," ujar Prabowo, dikutip dari detikcom.

Untuk menopang capaian tersebut, pemerintah terus memperkuat berbagai program peningkatan produksi, mulai dari pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, modernisasi alat dan mesin pertanian, hingga pendampingan kepada petani.

Salah satu program yang menjadi andalan, yakni optimalisasi lahan, terutama di kawasan rawa. Melalui perbaikan tata kelola air, penggunaan varietas unggul, mekanisasi pertanian, dan penerapan teknologi budidaya, pemerintah menyebut program ini mampu meningkatkan indeks pertanaman di sejumlah wilayah dari semula satu kali panen menjadi dua hingga tiga kali panen dalam setahun.

Bersamaan dengan itu, program cetak sawah baru juga terus dijalankan untuk memperluas areal produksi dan menjaga keberlanjutan pasokan beras nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan peningkatan produksi merupakan hasil dari kebijakan yang dijalankan secara terintegrasi, mulai dari penguatan sarana produksi hingga peningkatan produktivitas lahan.

"Produksi kita meningkat signifikan dan ini bukan kebetulan. Ini hasil dari perbaikan menyeluruh dari hulu hingga hilir. Dengan tren ini, swasembada beras bukan lagi target, tetapi sudah kita capai dan kita jaga keberlanjutannya," ujar Amran dikutip dari laman resmi Kementan.

Penguatan produksi juga diikuti peningkatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog. Pemerintah menyebut, realisasi serapan CBP mencapai 87,4 persen hingga awal Agustus 2026, atau setara 3,5 juta ton, sehingga total stok beras Bulog mencapai 5,4 juta ton.

Stok CBP ini menjadi instrumen utama untuk menjaga ketersediaan beras nasional sekaligus meredam gejolak harga ketika terjadi gangguan pasokan atau peningkatan permintaan.

Di sisi hilir, pemerintah terus mengoptimalkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebagai instrumen intervensi pasar. Beras SPHP disalurkan melalui berbagai kanal distribusi dengan mengacu pada ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga masyarakat tetap dapat memperoleh beras dengan harga yang terjangkau ketika harga pasar mengalami kenaikan.

Kombinasi peningkatan produksi, penguatan cadangan beras pemerintah, serta intervensi melalui SPHP menjadi strategi pemerintah untuk memastikan ketersediaan beras tetap terjaga sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

Dengan produksi beras yang terus meningkat serta penguatan program cetak sawah dan optimalisasi lahan, Indonesia semakin memiliki fondasi kuat untuk menjaga ketahanan pangan dalam jangka panjang.

(ory/ory)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |