CNN Indonesia
Minggu, 02 Agu 2026 07:30 WIB
Ilustrasi. Ada beberapa tanda anak kurang mandiri. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Setiap orang tua tentu ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu mengandalkan dirinya sendiri. Namun, proses menuju kemandirian tidak selalu berjalan mulus.
Tanpa disadari, kebiasaan sehari-hari maupun pola pengasuhan tertentu bisa membuat anak lebih nyaman bergantung pada orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanda anak kurang mandiri
Melansir Psychology Today, kemandirian anak dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pola asuh yang terlalu protektif hingga kebiasaan menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar.
Healthy Children menyebut ada sejumlah perilaku yang bisa menjadi tanda anak belum cukup mandiri. Berikut beberapa di antaranya.
Tidak masalah jika sesekali anak meminta bantuan. Namun, jika hampir setiap keputusan atau aktivitas selalu bergantung pada orang tua, ini bisa menjadi sinyal bahwa rasa mandirinya belum berkembang.
2. Enggan mencoba hal baru
Anak yang kurang mandiri biasanya sudah menyerah sebelum mencoba. Mereka lebih dulu berpikir bahwa tugas tersebut terlalu sulit atau takut hasilnya tidak sempurna. Padahal, keberanian mencoba merupakan bagian penting dari proses belajar.
Dengan terus menghindari tantangan, anak akan kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan dan rasa percaya dirinya.
3. Jarang memiliki inisiatif
Anak yang mandiri umumnya mulai terbiasa mengambil langkah pertama, misalnya membereskan mainan setelah selesai bermain atau mulai mengerjakan PR tanpa harus diingatkan.
Sebaliknya, anak yang kurang mandiri cenderung selalu menunggu instruksi. Mereka baru bergerak setelah diminta atau diarahkan oleh orang lain.
4. Mudah mengikuti keputusan teman
Pergaulan memang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Namun, jika anak hampir selalu mengikuti pendapat teman tanpa mempertimbangkan keinginannya sendiri, hal ini bisa menunjukkan bahwa ia belum cukup yakin terhadap kemampuan dan penilaiannya.
Anak yang mandiri biasanya mampu menyampaikan pendapat dan tidak mudah terbawa arus hanya karena ingin diterima lingkungan.
5. Sering berkata, "Aku tidak bisa"
Mengutip buku The Big Book of Parenting Solutions karya Michele Borba, Ed.D., sebagian anak menunjukkan sikap seolah-olah tidak mampu melakukan sesuatu agar terhindar dari tugas atau tanggung jawab baru.
Ucapan seperti "Aku enggak bisa", "Aku takut", atau "Bantuin saja" memang wajar sesekali. Namun, jika terus-menerus muncul pada berbagai situasi, orang tua perlu membantu anak membangun rasa percaya dirinya, bukan langsung mengambil alih pekerjaannya.
6. Terlalu takut mengambil keputusan
Sikap berhati-hati memang baik. Namun, jika anak selalu ragu, takut salah, atau terus meminta kepastian sebelum melakukan hal sederhana, hal itu bisa menghambat perkembangan kemandiriannya.
Semakin sering anak diberi kesempatan mengambil keputusan sesuai usianya, semakin terlatih pula kemampuan mereka menghadapi konsekuensi dari pilihannya.
7. Kurang bertanggung jawab
Anak yang belum mandiri biasanya juga kesulitan bertanggung jawab atas tugas-tugas sederhana. Mereka cenderung menunda pekerjaan, menunggu orang lain memulai, atau berharap ada orang yang menyelesaikannya. Padahal, rasa tanggung jawab merupakan bagian penting dari proses belajar mandiri yang akan berguna hingga dewasa.
Memberi anak kesempatan mencoba sendiri, membiarkan mereka belajar dari kesalahan, serta memberikan kepercayaan sesuai usia dapat membantu membangun rasa percaya diri dan tanggung jawab. Semakin dini kebiasaan ini dibentuk, semakin siap pula anak menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
(anm/asr)


















































