Tarif Pesawat Bakal Naik Mulai April 2026 Imbas Konflik Timur Tengah

5 hours ago 4

CNN Indonesia

Jumat, 27 Mar 2026 20:45 WIB

Konflik Timur Tengah yang masih berlangsung membuat harga bahan bakar pesawat menjadi mahal, akibatnya tarif penerbangan seluruh dunia juga bakal terdampak. Ilustrasi pesawat parkir di bandara. (Istockphoto/guvendemir)

Jakarta, CNN Indonesia --

Tarif pesawat akan naik mulai April mendatang karena maskapai-maskapai penerbangan dunia memutuskan menaikkan biaya tambahan bahan bakar.

Konflik Timur Tengah yang masih berlangsung membuat harga bahan bakar pesawat menjadi mahal, akibatnya tarif penerbangan seluruh dunia juga bakal terdampak.

Menurut International Air Transport Association (IATA), harga rata-rata bahan bakar jet global telah mengalami kenaikan hampir dua kali lipat sejak konflik Timur Tengah berlangsung pada 28 Februari lalu. Data terbaru 20 Maret 2026, harganya kini telah mencapai USD197 atau sekitar Rp3,3 juta per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penerbangan global sedang kacau karena meroketnya biaya bahan bakar pesawat saat ini, bahkan bisa mencapai seperempat dari biaya operasional industri secara keseluruhan.

Oleh karena itu banyak maskapai penerbangan yang mengkonfirmasi terpaksa menaikkan tarif, mengurangi kapasitas, hingga merevisi perkiraan anggaran maskapai.

Pada Kamis (26/3) maskapai Cathay Pacific asal Hong Kong mengumumkan kenaikan biaya tambahan bahan bakar sebesar 34 persen untuk semua rute, akan berlaku mulai 1 April mendatang dan akan dievaluasi lagi setelah dua minggu berjalan.

Pihaknya mengatakan keputusan ini diambil karena harga bahan bakar jet yang melonjak akibat perang Timur Tengah.

Biaya tambahan bahan bakar baru untuk penerbangan jarak pendek akan menjadi USD50 atau sekitar Rp847 ribu, penerbangan jarak menengah menjadi USD93 atau sekitar Rp1,5 juta, dan penerbangan jarak jauh menjadi USD200 atau sekitar Rp3,3 juta.

"Jika kenaikan biaya bahan bakar yang meroket tidak dikontrol secara efektif, kami tidak akan dapat mempertahankan operasi yang stabil untuk jaringan kami," ujar juru bicara Cathay Pacific, mengutip VN Express.

Maskapai Singapore Airlines (SIA) bersama anak perusahaannya juga telah menaikkan tarif untuk seluruh penerbangan di jaringannya agar mampu mengimbangi lonjakan biaya bahan bakar global. Kendati demikian, kenaikan tarif ini tidak langsung menutupi kerugian laba yang dialami maskapai.

"Selain SIA dan Cathay Pacific, ada banyak maskapai raksasa lainnya yang melakukan hal yang sama," kata juru bicara Singapore Airlines.

Thai Airways diperkirakan akan menaikkan tarif antara 10-15 persen, Cebu Pacific asal Filipina menaikkan tarif sebesar 20-26 persen mulai dari sekarang hingga bulan Mei 2026, dan maskapai AirAsia asal Malaysia akan melakukan penyesuaian tarif sementara untuk semua rute penerbangannya.

Saat ini, lebih dari 60 persen maskapai internasional telah menyesuaikan kenaikan tarif tambahan untuk mengimbangi biaya operasional pesawat yang meningkat.

"Simbol alarm telah diaktifkan di mana-mana," ujar analis pasar minyak senior di Sparta Commodities SA, June Goh.

Ada pun Otoritas Penerbangan Vietnam yang mengusulkan agar Kementerian Konstruksi menaikkan biaya tambahan bahan bakar untuk tiket domestik kelas ekonomi mulai 1 April-30 Juni 2026. Perkiraan biayanya berkisar 297-680 ribu dong atau sekitar Rp297-437 ribu per tiket, tergantung rute penerbangan.

Di samping itu, pakar industri mengatakan bahwa maskapai Asia lebih rentan terhadap fluktuasi harga bahan bakar, karena program lindung nilai (fuel hedging) mereka yang lebih lemah dibandingkan maskapai Eropa dan Amerika Serikat. Terlebih lagi bagi maskapai Asia yang berbiaya rendah.

Sejumlah maskapai penerbangan berbiaya rendah di Asia Tenggara bahkan sedang mempersiapkan skenario kemungkinan pesawat terpaksa berhenti beroperasi apabila biaya bahan bakar terlalu mahal dan sulit diakses.

(ana/wiw)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |