Ventilasi Udara di Pesawat Tak Perlu Dimatikan, Ini Kata Dokter

3 hours ago 6

CNN Indonesia

Selasa, 24 Mar 2026 15:00 WIB

Saat naik pesawat, banyak penumpang yang suka mematikan ventilasi udara di atas kepalanya. Kata dokter, hal ini tak perlu dilakukan. Ilustrasi. Saat naik pesawat, banyak penumpang yang suka mematikan ventilasi udara di atas kepalanya. Kata dokter, hal ini tak perlu dilakukan. (iStockphoto/andreygonchar)

Jakarta, CNN Indonesia --

Saat naik pesawat, banyak penumpang yang langsung mematikan ventilasi udara di atas kepala mereka karena merasa udara yang keluar terlalu dingin atau kering.

Kebiasaan ini memang umum dilakukan, terutama untuk menghindari rasa tidak nyaman selama penerbangan. Namun, menurut pakar kesehatan, mematikan ventilasi udara di pesawat saat penerbangan sebenarnya bukan pilihan terbaik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Justru, ventilasi udara yang tetap menyala dapat membantu menjaga kenyamanan dan kesehatan selama penerbangan. Simak penjelasannya berikut ini.

Pentingnya Ventilasi Udara di Pesawat

Ventilasi udara di pesawat berfungsi mengalirkan udara segar ke kabin dan membantu sirkulasi udara agar tidak menjadi pengap.

Dokter Amiirah Aujnarain, seorang dokter anak dan ahli alergi/imunologi, menyarankan agar ventilasi udara tetap dibuka selama penerbangan.

Namun, aliran udara sebaiknya diarahkan sedikit ke atas atau ke samping, bukan langsung ke wajah. Dengan cara ini, udara tetap bergerak dan membantu mengurangi rasa pengap tanpa menimbulkan rasa dingin yang mengganggu.

Lalu apakah ada dampak buruk terhadap tubuh dari mematikan ventilasi udara selama penerbangan berlangsung?

"Mematikan ventilasi tidak mengubah kualitas udara di dalam kabin, tetapi memengaruhi aliran udara pribadi Anda," ujar Aujnarain, mengutip Travel+Leisure.

Sistem ventilasi pesawat sudah dirancang untuk menyaring dan mengganti udara secara berkala. Namun, mematikan ventilasi akan membuat udara di sekitar penumpang pesawat menjadi lebih stagnan.

"Hal ini dapat sedikit meningkatkan paparan debu, serbuk sari, atau droplet dari penumpang di dekat Anda," kata Aujnarain menjelaskan dampak dari udara yang stagnan

Bagi orang yang memiliki alergi, asma, atau saluran pernapasan sensitif, kondisi ini bisa memperburuk gejala dan membuat penerbangan menjadi tidak nyaman.

"Aliran udara yang lembut membantu mengencerkan alergen dan kuman di sekitar Anda, mencegah udara terasa 'pengap,' dan dapat mencegah kambuhnya asma atau alergi," ucap Aujnarain.

Tips mengatur ventilasi udara agar nyaman

Mitos bahwa udara di pesawat itu kotor dan tidak berganti ternyata salah besar. Pesawat modern menggunakan sistem ventilasi dan filter HEPA (High-Efficiency Particulate Air) yang mampu menyaring lebih dari 99% partikel udara seperti bakteri, virus, dan alergen.

Udara kabin diperbarui sekitar 20 hingga 30 kali per jam, jauh lebih sering dibandingkan dengan ruangan kantor biasa.

Aliran udara di kabin juga didesain vertikal dari atas ke bawah untuk meminimalkan penyebaran partikel udara antar penumpang. Jadi, Anda sebenarnya tak perlu takut terkait kebersihan udara.

Namun bagi penumpang yang merasa udara yang keluar terlalu dingin atau membuat kulit kering, ada beberapa tips yang bisa dilakukan.

Sebagai alternatif, Anda bisa mengarahkan ventilasi udara ke atas kepala atau ke samping dan mengenakan pakaian hangat seperti sweater atau syal.

Untuk mengatasi kulit kering, gunakan produk pelembap seperti lip balm, krim tangan, semprotan wajah, atau semprotan hidung saline.

Dengan menjaga ventilasi udara tetap menyala dan mengatur alirannya dengan tepat, Anda dapat menikmati penerbangan yang lebih nyaman dan sehat.

Jadi, jangan buru-buru mematikan ventilasi udara di pesawat saat penerbangan berikutnya. Cukup atur alirannya agar tidak langsung mengenai wajah, dan nikmati perjalanan yang lebih segar dan sehat.

(rti)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |