Jakarta, CNN Indonesia --
Bibit Siklon Tropis 96W terpantau aktif di dekat wilayah Indonesia dan berpotensi memberikan dampak tidak langsung ke kondisi perairan di dalam negeri.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bibit siklon ini terbentuk pada 27 Juni 2026. Berdasarkan pantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCW) per Minggu (28/6) pukul 07.00 WIB, Bibit Siklon Tropis 96W posisinya berada di Laut Filipina utara Papua.
"Bibit Siklon Tropis 96W memiliki peluang rendah untuk menjadi siklon tropis dan bergerak ke arah barat dalam periode 24 jam ke depan," kata BMKG dalam informasi yang diunggah di Instagram, dikutip Senin (29/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut BMKG, dampak tidak langsung dari aktifnya bibit siklon tropis ini adalah potensi gelombang tinggi dengan ketinggian antara 1.25 hingga 2.5 meter di Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua.
Kondisi cuaca Indonesia
Dalam sepekan ke depan, BMKG juga memprediksi sejumlah wilayah Indonesia diprediksi masih akan diguyur hujan. Berdasarkan pantauan dinamika atmosfer secara regional maupun lokal masih sangat aktif dalam mendukung proses pertumbuhan awan hujan di beberapa daerah.
Ada sejumlah faktor yang mendukung potensi hujan, di antaranya adalah Madden-Julian Oscillation (MJO) yang secara spasial diprediksi melintasi wilayah Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, bagian selatan Maluku, bagian timur Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan, serta perairan Laut Banda dan Laut Arafuru.
Kondisi tersebut juga diperkuat oleh Gelombang Rossby Ekuator yang bergerak ke arah barat di wilayah Maluku bagian selatan. Pada saat bersamaan, Gelombang Kelvin yang bergerak ke arah timur juga terpantau melintas secara signifikan di wilayah perairan selatan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Sirkulasi siklonik diprakirakan terbentuk di Samudra Pasifik Utara Papua. Sistem tersebut dapat memicu terbentuknya pola perlambatan dan pertemuan angin yang mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar daerah sirkulasi siklonik, dan sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut.
Selain itu, kondisi atmosfer lokal di beberapa wilayah juga masih menunjukkan tingkat labilitas yang mendukung proses konveksi. Kondisi udara yang labil tersebut berpotensi memperkuat pertumbuhan awan konvektif.
(dmi)
Add
as a preferred source on Google

















































