Jakarta, CNN Indonesia --
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 102,90 poin atau minus 1,72 persen di level 5.896 pada Jumat (26/6) silam.
Investor melakukan transaksi sebesar Rp12,73 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 20,78 miliar saham.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham melemah dalam empat hari. Sementara dua hari sisanya menguat. Tak heran, performa indeks pun tercatat menurun hingga 4,55 persen sepanjang pekan kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan selama periode tanggal 22 sampai dengan 26 Juni 2026 perdagangan saham ditutup pada zona negatif.
Tercatat, kapitalisasi pasar bursa turun 4,51 persen dari Rp10.788 triliun menjadi Rp10.302 triliun pada pekan lalu. Kemudian, rata-rata volume transaksi harian turun 26,01 persen dari 34,03 miliar menjadi 25,18 miliar lembar saham.
Lalu, rata-rata nilai transaksi harian pun turut merosot sebesar 29,13 persen dari Rp24,80 triliun menjadi Rp17,58triliun.
Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian juga menurun yakni sebesar 22,95 persen dari 2,24 juta kali transaksi menjadi 1,73 juta kali transaksi pada penutupan pekan lalu.
"Adapun investor asing hari ini mencatatkan nilai jual bersih Rp537,25 miliar dan sepanjang tahun 2026, investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp71,681 triliun," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (26/6).
Lantas seperti apa proyeksi pergerakan IHSG untuk sepekan ke depan?
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi mengatakan indeks saham sepanjang pekan kemarin melemah 4,55 persen akibat tekanan jual investor asing yang mencapai Rp3,4 triliun di seluruh pasar. Menurutnya, sentimen dari hasil tinjauan Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan pasar.
"Meski MSCI tidak menurunkan status Indonesia ke frontier market, peringatan tersebut masih tetap berlaku. Jika hingga November 2026 belum ada reformasi yang signifikan dari regulator, risiko itu masih akan membayangi pasar," ujar Oktavianus kepada CNNIndonesia.com, Minggu (28/6).
Untuk perdagangan Senin (29/6), Oktavianus memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat secara terbatas. Indeks diproyeksikan bergerak di kisaran level support 5.772 dan resistance 6.040, seiring indikator MACD yang mulai menunjukkan tren pelemahan tekanan turun (melandai).
Ia menjelaskan pergerakan pasar akan dipengaruhi sejumlah sentimen. Dari global, investor masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah di tengah kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Ketidakpastian pasar berpotensi kembali meningkat apabila terjadi serangan lanjutan. Namun di sisi lain, aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz semakin lancar sehingga turut mendorong penurunan harga minyak mentah dunia.
Sementara dari dalam negeri, pasar menyoroti kebijakan pemerintah yang kembali menempatkan dana hingga Rp400 triliun di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) per 26 Juni 2026. Langkah tersebut dinilai berpotensi menjaga likuiditas perbankan sekaligus mendukung penyaluran kredit.
Selain itu, pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi Juni 2026 yang diperkirakan mencapai 3,1 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Meski lebih tinggi dibanding periode sebelumnya, angka tersebut masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) sehingga diperkirakan hanya akan direspons secara moderat oleh pasar.
Berdasarkan analisis teknikal, Oktavianus pun merekomendasikan beberapa saham yang bisa dikoleksi. Pertama, saham PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA yang ditutup menguat 2,49 persen ke posisi 6.175 pada pekan lalu. Oktavianus memproyeksi BBCA dapat menyentuh level 6.600 pada pekan ini.
Kedua, saham PT Bank Mandiri Tbk atau BMRI yang ditutup di posisi 3.990 pekan lalu. Oktavianus memproyeksi BMRI dapat menyentuh level 4.230 pada pekan ini.
Ketiga, ia juga merekomendasikan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BBRI yang ditutup menguat 0,70 persen ke level 2.870 pekan lalu. Oktavianus memproyeksi BBRI dapat menyentuh level 3.050 pada pekan ini.
Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan indeks saham masih berpotensi melanjutkan koreksi sepanjang pekan ini. Indeks diproyeksikan bergerak dengan level support di 5.736 dan resistance di 6.112.
"Investor akan mencermati data tenaga kerja AS dan arah kebijakan The Fed yang diperkirakan masih cenderung hawkish. Dari domestik, pasar juga menunggu rilis data inflasi dan PMI Indonesia, serta akan memperhatikan pergerakan rupiah terhadap dolar AS dan harga komoditas, terutama minyak dan emas," ujar Herditya.
Menurutnya, sentimen global masih akan menjadi perhatian utama, terutama terkait prospek kebijakan moneter AS.
Sementara itu, dari dalam negeri, rilis data ekonomi diperkirakan cenderung stabil sehingga akan menjadi salah satu penentu arah pergerakan pasar dalam sepekan ke depan.
Ia pun menyarankan investor dapat mencermati beberapa saham dari emiten ia rekomendasikan. Herditya pun merekomendasikan saham PT Buana Lintas Lautan Tbk atau BULL yang ditutup di level 350 pada pekan lalu. Ia memproyeksi BULL dapat menyentuh level 378 pada pekan ini.
Kemudian, Herditya pun merekomendasikan saham PT Jasa MargaTbk atau JSMR yang ditutup di level 2.940 pada pekan lalu. Ia memproyeksi JSMR dapat menyentuh level 3.410 pada pekan ini.
Lalu, Herditya juga merekomendasikan saham PT Wismilak Inti Makmur Tbk atau WIIM yang ditutup di level 1.655 pada pekan lalu. Ia memproyeksikan WIIM dapat menyentuh level 1.755 pada pekan ini.
Catatan Redaksi: Berita ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
(pta)
Add
as a preferred source on Google

















































