BPS: Inflasi April 2026 Terjaga di 0,13 Persen, Surplus Dagang Lanjut

8 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa kondisi perekonomian nasional menunjukkan tren stabil pada awal kuartal II-2026. Berdasarkan rilis terbaru, inflasi bulanan pada April 2026 tercatat sebesar 0,13 persen (month-to-month), didorong kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,95 pada Maret menjadi 111,09. Dengan angka tersebut, inflasi tahun kalender (year-to-day) berada di level 1,06 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebutkan sektor transportasi sebagai kontributor utama inflasi bulan ini dengan andil 0,12 persen. Sebaliknya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami deflasi sebesar 0,20 persen.

"Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi antara lain tarif angkutan udara dan bensin. Tarif angkutan udara memberikan andil inflasi sebesar 0,11 persen sedangkan bensin memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen," kata Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (4/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain transportasi, kenaikan harga minyak goreng (0,05 persen), tomat (0,03 persen), serta beras dan nasi lauk (masing-masing 0,02 persen) turut memicu inflasi. Di sisi lain, harga daging ayam ras, emas perhiasan, cabai rawit, dan telur ayam ras menjadi peredam inflasi.

"Beberapa komoditas juga ada yang memberikan andil deflasi diantaranya daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan dengan andil deflasi 0,09 persen, cabai rawit serta telur ayam ras masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen," ujar Ateng.

Secara tahunan (yoy), inflasi April 2026 mencapai 2,42 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,95 persen. Papua Barat mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 2,00 persen, sementara Maluku mengalami deflasi terdalam sebesar 0,17 persen.

Surplus Perdagangan Capai 71 Bulan Berturut-turut

Kinerja sektor eksternal Indonesia diketahui tetap tangguh. BPS mencatat surplus neraca perdagangan kumulatif periode Januari-Maret 2026 mencapai US$5,55 miliar. Capaian ini memperpanjang tren surplus Indonesia menjadi 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Ateng memaparkan bahwa surplus ini ditopang kuat oleh sektor nonmigas.

"Hingga bulan Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$5,55miliar. Surplus sepanjang periode Januari−Maret 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas US$10,63 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$5,08 miliar," tuturnya.

Total nilai ekspor kumulatif mencapai US$66,85miliar, naik 0,34 persen secara tahunan. China masih menjadi mitra dagang utama dengan nilai ekspor US$16,50 miliar, disusul Amerika Serikat (US$7,29miliar) dan India (US$4,50 miliar). Sementara itu, nilai impor meningkat 10,05 persen menjadi US$61,30 miliar, yang didominasi oleh bahan baku serta barang modal.

Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan

Di sektor agraria, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada April 2026 berada di angka 125,24, turun tipis 0,09 persen dibanding bulan sebelumnya. Meski NTP turun secara umum, subsektor Tanaman Pangan dan Tanaman Perkebunan Rakyat justru naik masing-masing 0,43 persen dan 1,62 persen. BPS juga mencatat kenaikan harga beras eceran sebesar 0,58 persen secara bulanan.

Terkait produksi, total produksi padi periode Januari-Maret 2026 mencapai 16,84 juta ton, naik 10,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. BPS memperkirakan produksi beras hingga Juni 2026 akan mencapai 19,31 juta ton, atau tumbuh 0,26 persen secara tahunan. Namun, produksi jagung pipilan kering pada Maret 2026 tercatat turun 14,23 persen menjadi 1,40 juta ton.

Lonjakan Pariwisata dan Mobilitas Lebaran

Momen Idulfitri pada Maret 2026 memicu lonjakan mobilitas masyarakat. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) melonjak tajam 42,10 persen dibanding Maret tahun lalu, mencapai 126,34 juta perjalanan. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) juga naik 10,50 persen menjadi 1,09 juta kunjungan, yang didominasi warga negara Malaysia, Australia, dan Singapura.

Peningkatan mobilitas tercermin pada semua moda transportasi. Penumpang angkutan kereta mencapai 48,14 juta orang (naik 17,76 persen), sementara moda ASDP mencatatkan kenaikan tertinggi hingga 72,73 persen dengan 7,06 juta penumpang. Angkutan udara domestik pun turut meningkat 32,35 persen dengan total 5,62 juta penumpang selama periode yang sama.

(rea/rir)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |