Daftar Masalah yang Ditemukan Pemerintah di Program MBG

2 hours ago 7
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah muncul sejumlah persoalan dalam tata kelola dan implementasinya.

Sejumlah temuan, mulai dari dugaan korupsi, pemborosan anggaran hingga polemik utang proyek dapur MBG, menjadi sorotan pemerintah dan mendorong pergantian manajemen di Badan Gizi Nasional (BGN).

Berikut sederet persoalan yang membayangi pelaksanaan program unggulan tersebut:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Dugaan Korupsi Tata Kelola MBG

Kasus dugaan korupsi tata kelola MBG menjadi salah satu persoalan terbesar yang mencuat dalam beberapa pekan terakhir. Perkara ini menyeret mantan Kepala BGN Dadan Hindayana, mantan Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya, serta mantan Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung sebagai tersangka.

Kasus tersebut kembali menjadi perhatian setelah Sony Sonjaya mengajukan diri sebagai justice collaborator dan mengklaim akan mengungkap pihak-pihak lain yang diduga terlibat.

Kuasa hukum Sony, Krisna Murti, bahkan menyebut terdapat sedikitnya 26 nama yang tercatat dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penyidik Kejaksaan Agung.

"Pokoknya dari eksekutif, legislatif dan yudikatif. (Paling banyak) legislatif. (Total jumlah nama) 26, kemungkinan bertambah, itu baru sebagian aja," kata Krisna.

Pernyataan tersebut memicu gelombang bantahan dari sejumlah pihak yang namanya dikaitkan dengan kasus tersebut.

2. Pemborosan Anggaran Lebih dari Rp1 Triliun per Bulan

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkap temuan pembengkakan jumlah titik dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berpotensi menyebabkan pemborosan anggaran lebih dari Rp1 triliun setiap bulan.

Menurut Zulhas, jumlah titik dapur yang semula direncanakan sebanyak 21 ribu bertambah menjadi 27.877 titik atau membengkak 6.877 titik dari target awal.

"Nah, ada membengkak 6.877 titik. Kalau 6.877 penambahan, kalau Rp6 juta satu hari, maka satu bulan ada pengeluaran lebih (dari) Rp1 triliun pemborosan," ujar Zulhas.

Ia menegaskan persoalan tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah melakukan penataan ulang program MBG setelah pergantian pimpinan BGN.

Selain itu, pemerintah juga menemukan lonjakan jumlah dapur MBG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Dari kebutuhan awal sekitar 2.000 titik, jumlahnya meningkat menjadi 8.617 titik.

Di saat bersamaan, Kejaksaan Agung juga tengah mendalami dugaan praktik jual beli izin titik SPPG yang diduga melibatkan eks pimpinan BGN.

3. Polemik Utang dan Dana Talangan Rp218 Miliar

Selain yang ditemukan pemerintah, masalah lain terkait pelaksanaan program MBG juga  mencuat. Terbaru adalah klaim pengusaha asal Sukabumi, H Mujazin, yang menuntut pengembalian dana sekitar Rp218,25 miliar yang disebut sebagai dana talangan proyek Dapur Perintis MBG.

Kuasa hukum Mujazin, Ahmad Yazdi, menyebut kliennya menandatangani nota kesepahaman dengan Lodewyk Pusung pada September 2025 terkait pengelolaan 97 titik dapur MBG.

Menurut Yazdi, dana tahap pertama sebesar Rp62,25 miliar telah disetorkan, sementara sisanya dibayarkan melalui cek bernilai puluhan miliar rupiah. Namun, hak pengelolaan yang dijanjikan tak kunjung diberikan.

"Faktanya, zonk," kata Yazdi.

Kepala BGN Nanik S Deyang menegaskan persoalan tersebut bukan urusan lembaganya, melainkan persoalan pribadi antara Mujazin dan Lodewyk Pusung.

"Itu enggak ada kaitannya dengan BGN, itu personal. Itu kan kaitannya dia dengan Pak Pusung," ujar Nanik.

(lau/agt)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |