Pertamax Mahal, Pengguna Dilema Turun Kelas atau Bertahan Meski Cekak

3 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Kenaikan harga Pertamax membuat konsumennya menghadapi dilema. Para penggunanya, terutama pekerja lapangan, dihadapkan pada pilihan antara turun kelas ke jenis BBM yang lebih murah atau mengurangi konsumsi.

Yosef Krisna (28), seorang pekerja lapangan yang setiap hari menggunakan sepeda motor untuk bepergian dari Bogor ke Jakarta Pusat, sangat terpukul kenaikan harga Pertamax yang kini Rp16.250 per liter

Selama ini ia mengisi Pertamax sekitar Rp50 ribu hingga Rp55 ribu setiap dua hari sekali. Dalam sebulan, dengan perhitungan 20 hari kerja, pengeluaran BBM-nya mencapai sekitar Rp500 ribu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, dengan harga baru Pertamax, jumlah uang yang sama tidak lagi mampu membeli volume bahan bakar yang sama. Jika sebelumnya Rp50 ribu hingga Rp55 ribu bisa mendapatkan sekitar 4 hingga 4,5 liter Pertamax, kini untuk mengisi kebutuhan yang sama ia harus mengeluarkan biaya lebih besar.

"Dengan harga yang sekarang, saya butuh Rp65 ribu-Rp72 ribu buat isi full tank per dua hari, itu untuk sekali isi. Berarti, paling sedikit saya habiskan Rp650 ribu sebulan, naik Rp150 ribu," ujar Yosef saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Dengan kenaikan ini, pengeluaran bulanan Yosef untuk BBM membengkak Rp150 ribu menjadi Rp650 ribu. Kenaikan tersebut mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi pekerja yang harus mengatur pengeluaran harian secara ketat, tambahan biaya tersebut cukup signifikan.

"Sehari-hari saya selalu mengandalkan sepeda motor untuk mobilitas karena saya pekerja lapangan, sehingga sering berpindah-pindah lokasi kerja dalam satu hari," imbuhnya.

Ia sempat berencana untuk menghemat pengeluaran dengan menggunakan transportasi umum, tetapi dengan pekerjaannya saat ini yang berpindah-pindah tempat, naik transportasi umum malah lebih mahal.

"Kalau naik transportasi umum bakal lebih boros karena harus ada ongkos ojek dan sebagainya, tapi kalau pakai motor sendiri lebih enak tinggal geser ke sana-sini kalau lokasi kerjanya pindah," jelasnya.

Meski demikian, ia belum langsung memutuskan untuk beralih ke Pertalite. Yosef memilih mencoba bertahan menggunakan Pertamax sambil melihat dampaknya terhadap kondisi keuangannya. Namun, apabila harga tersebut benar-benar menguras pengeluaran bulanan, berpindah ke Pertalite menjadi pilihan yang sulit dihindari.

"Soal pindah ke Pertalite, saya gak mau gegabah. Saya maunya coba jalanin dulu deh ini, tapi kalau misalnya emang harga Pertamax yg sekarang bikin dompet kering, ya mau nggak mau saya pindah ke Pertalite," tegasnya.

Cerita serupa juga dialami Rama (27), seorang pekerja dengan mobilitas tinggi yang sebelumnya mengisi Pertamax Rp50 ribu setiap tiga hari. Dengan pola tersebut, kebutuhan BBM-nya sekitar Rp150 ribu per pekan.

Kenaikan harga membuat Rama berada di persimpangan antara mempertahankan penggunaan Pertamax atau beralih ke Pertalite. Bukan hanya persoalan harga, tetapi juga faktor antrean di SPBU yang kini semakin panjang.

"Jujur saya bimbang apakah harus tetap beli Pertamax dengan harga sekarang, atau pindah Pertalite. Sepertinya saya pilih yang antreannya paling pendek saja, karena belakangan sejak SPBU swasta banyak yang kosong antrean Pertalite dan Pertamax sangat mengular," kata Rama.

Rama mengaku besar kemungkinan akan sesekali mengisi Pertalite demi menekan pengeluaran. Baginya, lonjakan harga Pertamax membuat selisih biaya semakin sulit diabaikan, sementara keuntungan membeli BBM nonsubsidi terasa kurang sebanding ketika waktu tunggu di SPBU juga semakin panjang.

"Sepertinya dengan berat hati kemungkinan besar saya bakal sesekali mengisi Pertalite dengan mempertimbangkan harga Pertamax yang melonjak, toh antrean Pertamax sekarang sudah seperti BBM bersubsidi juga," pungkasnya.

Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi Pertamax dan Pertamax Green. Per Rabu 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) resmi naik menjadi Rp16.250 per liter.

Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah," kata Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun.

Perusahaan menyampaikan bahwa harga produk bahan bakar Pertamina selain Pertamax dan Pertamax Green tidak naik.

Harga produk bahan bakar non-subsidi Pertamax Turbo (RON 98) tetap Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) tetap Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) tetap Rp24.800 per liter.

Bahan bakar minyak bersubsidi jenis Pertalite tetap dipasarkan dengan harga Rp10 ribu per liter dan Biosolar harganya masih Rp6.800 per liter.

"Masyarakat dapat memperoleh informasi harga BBM terbaru melalui kanal resmi Pertamina, Pertamina Patra Niaga, maupun aplikasi MyPertamina," kata Roberth.

Daftar Harga BBM Non-subsidi Pertamina mulai 10 Juni 2026:

Pertamax Series
- Pertamax: dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter
- Pertamax Green 95: dari Rp 12.900 menjadi Rp 17 ribu per liter.
- Pertamax Turbo: Rp 20.750 per liter (tetap)

Dex Series
Dexlite (CN 51): Rp23 ribu per liter (tetap)
Pertamina Dex (CN 53): Rp 24.800 per liter (tetap)

[Gambas:Youtube]

(ldy/pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |