FAO Ramal Produksi Beras Dunia Anjlok 1,6 Persen, Bagaimana dengan RI?

8 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memberi sinyal produksi beras global akan menyusut pada musim 2026 dan 2027 seiring munculnya ancaman fenomena El Nino yang diperkirakan memengaruhi sejumlah negara produsen utama dunia.

Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO memproyeksikan produksi beras dunia turun 1,6 persen menjadi 552,4 juta ton dari rekor tertinggi musin 2025/2026 yang mencapai sekitar 561,4 juta ton.

"Prospek produksi musim 2026/2027 teredam oleh ketidakpastian cuaca yang terkait dengan kemunculan fenomena El Nino serta kendala profitabilitas sektor" tulis FAO dalam laporannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menjelaskan penurunan produksi dipicu kombinasi cuaca yang tidak menentu akibat El Nino serta tekanan terhadap keuntungan petani karena harga di tingkat produsen melemah sementara biaya produksi terus meningkat.

FAO memperkirakan hampir seluruh kawasan dunia akan memanen lebih sedikit beras dibanding musim sebelumnya. Hanya Afrika yang diproyeksikan mampu meningkatkan produksi pada musim 2026/2027.

Di Asia, yang menjadi sentra produksi beras global, hasil panen diperkirakan tetap melimpah meski turun dibanding musim sebelumnya. Produksi kawasan tersebut diproyeksikan mendekati 496 juta ton atau masih menjadi level tertinggi kedua sepanjang sejarah.

Menurut FAO, sejumlah negara Asia telah menyiapkan berbagai langkah untuk mengurangi dampak El Nino terhadap produksi pangan. Pemerintah Filipina, Sri Lanka, Malaysia, dan Thailand disebut memperluas berbagai program bantuan pupuk, subsidi, hingga dukungan sarana produksi bagi petani.

Selain itu, kondisi cadangan air di sejumlah negara Asia dinilai masih cukup baik setelah beberapa musim hujan yang melimpah.

"Kekhawatiran terkait cuaca di kawasan ini sedikit mereda berkat level air waduk yang umumnya masih nyaman akibat musim hujan yang melimpah dalam beberapa tahun terakhir," tulis FAO.

Menurut FAO, kondisi tersebut dapat membantu tanaman padi bertahan apabila El Nino memicu curah hujan yang rendah atau distribusi hujan yang tidak merata selama periode kritis musim tanam di belahan bumi utara.

Meski demikian, sejumlah negara produsen utama diperkirakan tetap mengalami penurunan produksi. India, yang merupakan produsen beras terbesar dunia, diproyeksikan hanya menghasilkan 146,5 juta ton beras pada musim 2026/2027, turun 3,6 persen dibanding musim sebelumnya yang mencapai 151,9 juta ton.

Produksi beras Thailand juga diperkirakan turun cukup dalam, yakni sebesar 6,1 persen menjadi 21,8 juta ton dari 23,3 juta ton pada musim sebelumnya.

Brasil diperkirakan mencatat penurunan paling tajam di antara negara produsen besar lainnya. Produksi beras negara tersebut diproyeksikan merosot 12,9 persen menjadi 7,6 juta ton dari sebelumnya 8,7 juta ton.

Sejumlah negara diperkirakan masih mampu mencatat pertumbuhan produksi meski terbatas. China diproyeksikan meningkatkan produksi 0,3 persen menjadi 143,6 juta ton, sementara Indonesia diperkirakan naik tipis 0,2 persen menjadi 38,6 juta ton dari sebelumnya 38,5 juta ton.

FAO menyebut Indonesia, Korea Selatan, Pakistan, dan Filipina berpotensi mempertahankan bahkan meningkatkan produksi karena harga gabah yang relatif menarik sehingga mendorong petani tetap menanam padi.

Peningkatan di negara-negara tersebut diperkirakan dapat membantu menutupi sebagian penurunan produksi yang terjadi di India, Kamboja, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, dan Thailand.

Meski produksi diproyeksikan turun, FAO menilai pasokan beras dunia masih memiliki bantalan yang cukup kuat. Hal itu karena stok besar yang terbentuk selama dua musim terakhir masih tersedia di pasar global.

"Pasokan besar yang terbawa ke musim 2026/2027 diperkirakan akan menjadi penyangga pasokan yang kuat," tulis FAO.

Namun demikian, konsumsi beras dunia diperkirakan tetap tinggi dan mencapai hampir 558,1 juta ton, melampaui jumlah produksi yang diperkirakan hanya 552,4 juta ton. Kondisi itu membuka peluang terjadinya penurunan cadangan beras global pada musim mendatang.

FAO memperkirakan stok beras dunia pada akhir musim 2026/2027 turun 2,7 persen menjadi 213,8 juta ton. Kendati demikian, jumlah tersebut masih menjadi level tertinggi kedua sepanjang sejarah.

Di sisi perdagangan, FAO memproyeksikan volume perdagangan beras internasional turun 2,1 persen menjadi 59,8 juta ton sepanjang 2026.

"Permintaan impor yang lebih rendah diperkirakan akan membuat perdagangan internasional tetap lesu pada 2026 meskipun pasokan ekspor tersedia dalam jumlah besar," tulis FAO.

Menurut lembaga tersebut, sejumlah negara importir diperkirakan mengurangi pembelian karena masih memiliki stok yang besar hasil panen melimpah atau impor dalam jumlah besar pada musim-musim sebelumnya.

Sementara itu, harga beras dunia mulai pulih setelah sempat menyentuh level terendah dalam delapan setengah tahun pada November 2025. Pemulihan harga ditopang berkurangnya tekanan panen serta permintaan yang tetap kuat untuk varietas beras aromatik dan Japonica.

FAO mencatat indeks harga beras dunia pada Mei 2026 berada di level 104,8 poin atau naik 6,6 persen dibanding Oktober 2025. Namun, angka tersebut masih 1,4 persen lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan harga juga dipicu meningkatnya biaya panen, penggilingan, pengemasan, dan transportasi di sejumlah negara eksportir setelah lonjakan harga minyak mentah dunia pada akhir Februari lalu. Meski begitu, pasokan ekspor yang masih melimpah dari negara-negara produsen utama dinilai membatasi kenaikan harga beras global lebih lanjut.

[Gambas:Youtube]

(del/pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |