FAO Sebut Bioetanol Kian Sedot Pasokan Jagung Dunia Imbas Minyak Mahal

3 hours ago 12

Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengungkapkan permintaan jagung global semakin banyak terserap untuk kebutuhan industri bahan bakar etanol atau bioetanol, di tengah kenaikan harga energi dunia.

Kondisi ini membuat harga jagung internasional tetap bertahan di level relatif tinggi meski pasokan global masih melimpah.

Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO menyebut jagung menjadi komoditas serealia yang paling sensitif terhadap perkembangan pasar energi karena perannya yang besar sebagai bahan baku bioetanol.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di antara kelompok biji-bijian kasar (coarse grains), harga jagung tetap menjadi yang paling responsif, didukung oleh peran sentralnya dalam pakan ternak global dan keterkaitannya yang kuat dengan pasar energi melalui produksi etanol," tulis FAO dalam laporannya.

Menurut FAO, kebijakan mandatori biofuel di sejumlah negara turut menopang permintaan jagung untuk kebutuhan energi. Di saat yang sama, fluktuasi harga minyak mentah ikut menambah volatilitas pasar jagung dunia.

Lembaga PBB itu memperkirakan penggunaan jagung global pada musim 2026/2027 akan terus meningkat di sektor pangan, pakan ternak, maupun industri. Namun, pertumbuhan kebutuhan industri diperkirakan terutama berasal dari peningkatan penggunaan jagung untuk etanol di Brasil dan AS.

"Pertumbuhan penggunaan jagung untuk etanol, terutama di Brasil dan AS, diperkirakan akan mengimbangi penurunan penggunaan industri untuk jelai dan sorgum," tulis FAO.

Secara keseluruhan, konsumsi jagung dunia diproyeksikan naik 0,9 persen atau sekitar 12,2 juta ton menjadi lebih dari 1,3 miliar ton pada musim 2026/2027.

Kenaikan terbesar masih berasal dari sektor pakan ternak yang diperkirakan mencapai 786,8 juta ton. Permintaan tinggi untuk industri peternakan dan akuakultur di negara-negara seperti Argentina, Brasil, dan Mesir menjadi pendorong utama.

Namun, penggunaan jagung untuk industri energi juga terus meningkat seiring tingginya harga minyak dunia dan kebijakan transisi energi di sejumlah negara.

FAO menilai kondisi tersebut ikut menopang perdagangan jagung global yang diperkirakan mencapai rekor baru pada musim 2026/2027.

"Perdagangan jagung dunia diperkirakan mencapai 204,6 juta ton, naik 3,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan ini didukung permintaan pakan yang lebih kuat dan penggunaan etanol yang meningkat, seiring tingginya harga minyak mentah," tulis FAO.

Meski permintaan terus bertambah, produksi jagung global justru diperkirakan sedikit menurun pada 2026. FAO memperkirakan produksi jagung dunia mencapai 1,311 miliar ton atau turun 1 persen dibanding rekor tertinggi yang dicapai tahun sebelumnya.

Penurunan terutama berasal dari AS yang diproyeksikan produksinya anjlok sekitar 6 persen. Kenaikan harga pupuk dan bahan bakar membuat sebagian petani beralih menanam kedelai yang dinilai membutuhkan biaya produksi lebih rendah.

"Penurunan produksi terutama didorong oleh berkurangnya luas tanam karena kenaikan harga pupuk dan bahan bakar meningkatkan tekanan biaya dan mendorong petani beralih dari jagung ke tanaman yang membutuhkan input lebih rendah, terutama kedelai," tulis FAO.

Meski demikian, hasil panen di Negeri Paman Sam masih diperkirakan mencapai 406,3 juta ton atau tetap menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah.

Di kawasan lain, produksi jagung diperkirakan meningkat di Argentina, Meksiko, dan sejumlah negara Afrika. Argentina bahkan berpeluang mencetak panen jagung tertinggi sepanjang sejarah berkat perluasan area tanam dan membaiknya curah hujan.

Sementara itu, Afrika Selatan diproyeksikan mencatat produksi jagung rekor baru lebih dari 17,5 juta ton didukung kondisi cuaca yang menguntungkan dan bertambahnya luas tanam.

FAO menilai kombinasi antara pasokan yang masih besar dan permintaan yang terus tumbuh membuat kondisi pasar jagung dunia tetap relatif seimbang. Persediaan global biji-bijian kasar diperkirakan mencapai 386,6 juta ton pada akhir musim 2026/2027, hanya sedikit berubah dibanding periode sebelumnya.

"Rasio stok terhadap penggunaan global diperkirakan tetap berada di level yang nyaman, menunjukkan situasi pasokan yang relatif memadai," tulis FAO.

[Gambas:Youtube]

(del/pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |